by

Ratna Munjiah: Solusi Islam Atasi Persoalan Kekerasan Terhadap Perempuan

Ratna Munjiah, pemerhati sosial
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tingginya angka permasalahan sosial di Samarinda Seberang, terutama kekerasan terhadap perempuan dan anak membuat Forum Komunikasi Daerah (Forkomda) Kaltim membekali remaja putri dan ibu rumah tangga pelatihan. Pelatihan tersebut dilakukan di Pendopo Kelurahan Masjid Samarinda Seberang, yang diikuti kurang lebih 30 peserta, meliputi pelatihan pembuatan handycraft dari kain flannel dan kain perca, membuat origami, serta melukis di atas air. 
Dilaksanakan di wilayah Samarinda Seberang, karena di sana cukup tinggi angka kekerasan anak dan perempuan, lalu pernikahan dini, serta seks bebas. Kegiatan tersebut sebagai upaya memberikan ide peningkatan ekonomi keluarga yang berujung kepada ketahanan keluarga (tribunkaltim.com.14/11/2018).
Menurut penulis program tersebut tidak  tepat, menganggap kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat diselesaikan dengan memberikan keterampilan guna mendapatkan penghasilan dalam meningkatkan taraf hidup. Bagaimana bisa melakukan upaya pemberdayaan dengan kegiatan seperti itu.
Inilah dampak dari penerapan sistem kapitalis, semua diselesaikan dengan asas manfaat tidak pernah mencari akar permasalahan yang menjadi penyebab  kekerasan terhadap perempuan  yang selalu berulang. 
Padahal kekerasan yang terjadi dikarenakan negara menerapkan sistem Kapitalis yang telah membuat kehidupan manusia sangat menderita dan melahirkan kemiskinan yang mengerikan. Karena dengan kemiskinan tersebut akhirnya membuat banyak perempuan terpaksa bekerja dan meninggalkan peran utamanya sebagai ibu. Akibatnya mereka banyak yang stress dan hilang naluri keibuannya. Tak sedikit ibu yang rela melakukan tindakan kekerasan pada anak mereka karena tekanan hidup terebut.
Padahal ada cara yang lebih efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut yakni kembali kepada Islam. Dimana Islam memberikan status terhormat kepada perempuan, yakni ibu dan pengatur rumah tangga. Berkaitan dengan status ini berlaku kaidah ,”al-Ahslu fi al-mar’ah annaha umm(un) wa rabbatu bayt (in) wa hiya irdh (un) yajibu an yushana (Hukum asal perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dan ia adalah kehormatan yang harus dijaga).” Karena itu peran utama kaum ibu adalah membina anak-anak mereka.
Kedudukan mulia dan strategis ini benar-benar dijaga oleh Islam. Baginda Nabi SAW bahkan bersabda, ”Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istrinya. Aku adalah yang terbaik  perlakuannya terhadap istri di antara kalian.”(HR. at-Tarmidzi dan Ibnu Hibban). 
Dan kedudukan mulia tersebut Allah SWT berikan kepada wanita dengan menetapkan mereka menjadi ibu dan pengatur rumah tangga. Itulah posisi terbaik bagi wanita, dan Allah sebagai Pencipta segenap makhluk, tentu sangat mengetahui apa yang terbaik bagi mereka. Karena kewajiban utamanya menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, maka  Islam memberi hak bagi wanita untuk mendapatkan nafkah dari suaminya. Mereka tinggal di dalam rumah, tetapi mendapat pemenuhan kebutuhan hidupnya secara makruf. (Lihat: QS al-Baqarah (2):223)
Wanita tidak harus bekerja ke luar rumah dan mendapat perlakuan keji. Mereka tidak perlu bersusah payah mendapatkan uang karena telah dipenuhi oleh suaminya. Islam akan menindak tegas suami yang tidak memenuhi kebutuhan keluarganya.
Meski wanita tidak bekerja dan menghasilkan uang, kedudukan mereka tidak menjadi rendah dihadapan suaminya sehingga berpeluang besar untuk dianiaya atau disiksa. Sebab, istri berhak mendapatkan perlakuan baik dari suaminya dan kehidupan yang tenang. Islam menetapkan bahwa pergaulan suami istri adalah pergaulan persahabatan. Satu sama lain berhak mendapatkan ketenangan dan ketentraman.
Kewajiban nafkah ada di pundak suami, yang bila dipenuhi maka akan menumbuhkan ketaatan pada diri istri. Pelaksanaan hak dan kewajiban suami istri inilah yang akan menciptakan mawaddah warahmah dalam keluarga. 
Islam juga mewajibkan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap wanita untuk memenuhi hak mereka dengan baik. Termaksud negara, Negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki agar dapat memberi nafkah bagi keluarga. Negara wajib juga menyediakan fasilitas yang diperlukan. Khususnya oleh perempuan, seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan yang baik agar para perempuan bisa menjalankan perannya yang mulia dengan baik pula. 
Dengan melihat pengaturan dalam Islam yang sempurna tersebut, maka sudah seharusnya negara mengganti sistem kapitalis yang salah ini kepada penerapan Islam yang kaffah. Wallahua’lam.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 1 =

Rekomendasi Berita