by

Rina Tresna Sari S.Pdi: Solusi Paten Usir Zionisme Israel Dari Bumi Palestina

Rina Tresna Sari S.Pdi
RADARINDONESIA.COM, JAKARTA – Tahun berganti tahun, Palestina terus menjadi  sasaran utama kecongkakkan Israel. Ketamakan dan kecongkakan Israel mencaplok  bumi Palestina kini kian menjadi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji, dirinya akan mencaplok permukiman Israel di Tepi Barat jika menang dalam pemilihan umum (pemilu) yang dilangsungkan pada 9 April 2019. Sontak keputusan sesumbarnya tersebut langsung membuat para pemimpin Palestina bereaksi keras.
Kepala negosiator Palestina dan pembantu dekat Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Saeb Erekat mengatakan, Israel tidak akan berhenti melanggar hukum internasional selama mendapatkan dukungan terutama dari Amerika Serikat (AS).
Bahkan arogansi Israel akan tetap mencuat dalam sejumlah pelanggaran hukum Internasional selama masyarakat internasional terus memberikan penghargaan kepada Israel, terutama dengan dukungan Administrasi Donald Trump dan dukungan pelanggaran Israel terhadap hak nasional dan hak asasi manusia rakyat Palestina (republika.com/7/4/2019).
Israel semakin tamak, hal ini ditunjukan dengan keinginan nya mencaplok Tepi Barat yang  tak lain, untuk memperluas permukimannya. Bahasan permukiman pun merupakan salah satu masalah paling krusial dalam upaya untuk memulai kembali perundingan damai Israel-Palestina.
Sementara itu, Koordinasi Urusan Kemanusian PBB menyebut sekitar 212 ribu permukiman Israel tinggal di Yerusalem Timur. Palestina dan banyak negara menyatakan bahwa konvensi Jenewa melarang permukiman dibangun di atas tanah yang direbut dalam perang.
Namun, apa boleh dikata Israel dengan percaya dirinya mampu menangkis hal tersebut, mereka menyebut pembangunan permukiman dengan dalih kebutuhan keamanan, historis, dan politis. Seolah memiliki posisi sakti, apa yang dinyatakan Israel selalu diamini masyarakat internasional. Ditambah lagi dengan kebijakan Presiden AS, Donald Trump yang jelas membenci Islam dan mem-backing kuat Israel. Sampai-sampai mengatakan bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel sehingga kantor kedutaan besarnya ke kota tersebut (Desember 2017). 
Klaim Trump bahwa Yerusalem tersebut adalah ibukota Israel jelas sebuah masalah. Umat Islam pantas marah. Pasalnya, klaim itu akan makin menguatkan cengkeraman zionis Israel atas Tanah Suci Palestina dan makin membuka jalan bagi mereka untuk menguasai bahkan menghancurkan al-Aqsa.
Jelas, akar masalah Palestina hakikatnya adalah keberadaan Israel yang telah menyerobot, merampok dan menduduki Tanah Palestina dengan mengusir penduduk dan pemilik aslinya. Dengan kata lain akar masalah Palestina adalah agresi, pendudukan dan penjajahan Israel atas Palestina dan penduduknya. Di sinilah para ulama sering menyebut qâdhiyah Filistin adalah qâdhiyah wujûd, bukan qâdhiyah hudûd. Maksudnya, akar masalah Palestina adalah keberadaan Israel, bukan masalah tapal batas antara Israel dan negara-negara tetangga seperti Suriah, Libanon, Yordania, termasuk Palestina.
Solusi hakiki untuk masalah Palestina haruslah bersandar pada syariah. Masalah Palestina adalah masalah Islam dan seluruh kaum Muslim. Pasalnya, Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah milik kaum Muslim di seluruh dunia. Statusnya tetap seperti itu sampai Hari Kiamat. Tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah kharajiyah kepada pihak lain, apalagi kepada perampok dan penjajah seperti Israel. Sikap semestinya haruslah seperti yang ditunjukkan oleh Sultan Abdul Hamid II yang menolak sama sekali segala bentuk penyerahan Tanah Palestina kepada kaum kafir meskipun hanya sejengkal.
Karena itu sikap seharusnya terhadap Israel yang telah merampas Tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah SWT perintahkan, yakni perangi dan usir! Demikian sebagaimana firman-Nya:
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin (TQS at-Taubah [9]: 14).
Karena itu penyelesaian tuntas masalah Palestina tidak lain adalah dengan mewujudkan kekuasaan Islam yang berlandaskan akidah dan syariah Islam. Itulah Khilafah Islam yang mengikuti manhaj kenabian. Khilafahlah, sebagai satu-satunya pelindung umat yang hakiki, yang bakal melancarkan jihad terhadap siapa saja yang memusuhi Islam dan kaum Muslim. Tentu dengan kekuatan jihad pula Khilafah akan sanggup mengusir Israel dari Tanah Palestina.
Dengan membaca QS al-Isra’ [17]: 4-8, kita bisa memahami bahwa Yahudi hanya dapat dikalahkan dengan “hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan besar”. Kekuatan besar itulah Khilafah. Dengan Khilafahlah Yahudi sang penjajah Palestina pasti bisa dikalahkan.
 Tentu saja bukan dengan perundingan masalah palestina bisa di selesaikan, Ingatlah, sudah sangat banyak perundingan damai digelar dan ditandatangani, tetapi sebanyak itu pula diingkari. Jangankan sekadar sejumlah negara Arab atau Dunia Islam, bahkan seluruh dunia mengutuk pun, Israel—yang didukung penuh Amerika dan Barat—tak pernah peduli. Faktanya, sudah lebih dari 33 resolusi PBB terkait Israel dilanggar, dan tak ada tindakan apa pun atas Israel.
Sebagian pemimpin umat memang selalu menyerukan persatuan umat Islam untuk membebaskan al-Aqsha. Namun, bagaimana umat Islam bisa bersatu bila bukan dengan Khilafah yang terbukti pernah menyatukan mereka pada masa lalu serta sanggup melindungi Palestina dan al-Aqsha selama berabad-abad lamanya. Waalahua’lam bishowab.[]
Penulis adalah anggota Komunitas Akademi Menulis Kreatif, Bandung

Comment

Rekomendasi Berita