by

Rina Tresna Sari,S.Pd*: Mendampingi Permata Hati Melewati Masa Pubertas

Rina Tresna Sari,S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setiap anak pasti akan mengalami masa pubertas,dimana masa ini merupakan masa yang biasanya dianggap sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa,pada masa ini anak sudah meninggalkan karakter anak-anak dan sedang berproses menuju gerbang kedewasaan. Pada masa pubertas ini proses pertumbuhan dan kematangan berlangsung lebih intensif. Selain terjadi kematangan seksual dan pertumbuhan fisik dalam masa ini juga terjadi perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan kepribadian yang berlangsung terus sampai sempurna masuk ke jenjang dewasa. 
Di dalam terminologi fikih Islam,masa pubertas dikenal dengan sebutan fase balig, yang istilah ini sering di gandengkan dengan kata akil, sehingga dikenal akil balig. Seseorang dikatakan sudah akil balig saat akal nya sudah berfungsi dengan sempurna untuk membedakan dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Balig adalah salah satu syarat seseorang dibebani taklif/beban hukum.Sabda Rasulullah Saw “pena pencatat amal itu diangkat dari tiga : anak kecil sehingga dewasa, dari orang gila sampai sadar, dan dari orang tidur sampai bangun(HR sunan al baihaqi Vl/57.
Dalam surat an Nur ayat 59 disebutkan bahwa ketika seorang anak sudah mencapai usia balig,ia terkana hukum meminta ijin ketika hendak memasuki kamar orang tua nya. 
Batas awal masa balig umumnya pada umur 9 -16 tahun bagi laki-laki, dan perempuan,sedangkan imam syafii menetapkan 15 tahun sebagai usia balig, namun faktanya ada yang balig lebih awal dan ada juga yang melebihi batas tersebut. 
Pada usia balig bukan hanya perubahan fisik atau psikis, tetapi juga berpengaruh pada kewajiban anak dalam memenuhi seruan Allah Swt, sesaat setelah anak menjadi balig,anak wajib terikat dengan hukum syariah, semua yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan sendiri, karenanya jika orang tua ingin sukses mendampingi anak melewati usia balig,orang tua harus mengoptimalkan kasih sayang pada fase ini ,sehingga ketika fase ini datang, anak siap memikul beban hukum dan bertanggung jawab terhadap apapun yang dia lakukan. Tentu saja mengantarkan anak memasuki usia balig tidaklah instan, perlu proses panjang yang menyatu dan berbarengan dengan tumbuh kembang anak sehingga harus mulai sejak fase awal peekembangan anak.
Orang tua sebagai yang teramanahi buah hati oleh sang khalik tentu saja memiliki kewajiban yaitu:
Pertama: memberikan pemahaman tentang hakikat penciptaan manusia, dimana orang tua berkewajiban untuk membantu anak mengenali siapa dirinya. Target dari proses ini adalah anak paham(bukan sekedar tahu) bahwa keterikatan pada aturan Allah adalah wujud dari keimanan dan bukti rasa syukur atas anugerah yang telah Allah berikan, sehingga anak melakukan apapun perintah Allah dengan sukarela dan jauh dari keterpaksaan. 
Kedua: mengajari anak tentang hukum-hukum syariah sehingga mereka terikat dengan aturan Allah Swt.Diantara hukum syariah yang mesti dikenalkan pada mereka antara lain: batasan aurat, seputar thaharah, konsep pergaulan, ibadah mahdhah dll. 
Ketiga : Membangun pola komunikasi dan hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak. Keberhasilannya bergantung pada keberlangsungan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Kesulitan komunikasi yang dijalin hanya akan berakibat apa yang disampaikan kepada anak tidak didapat dipahami,atau malah mungkin hanya menyebabkan gap dengan anak. Komunikasi yang baik harus dilandasi rasa cinta kasih,sehingga akan melahirkan sikap sayang, percaya, hormat dan taat pada diri anak kepada orangtuanya. 
Ketiga : Melakukan pengawalan dan pendampingan perkembangan naluri anak. Idealnya,ketika anak balig,dia sudah mampu mengemban taklif untuk melaksanakan hukum syariah. Pengaruh lingkungan yang negatif hari ini yang lahir dari akibat sistem liberalisme,seperti pergaulan bebas, tayangan film dan lagu-lagu yang menjadi pemicu anak terlalu “dini dewasa” ikut menjadi faktor yang menyebabkan kepribadian anak menjadi liberalis serba bebas, tentu saja dibutuhkan pendampingan dan pengawalan yang benar dari orang tua nya,karena semua yang terjadi pada anak adalah hal yang harus dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. 
Keempat : memilih dan mengarahkan lingkungan yang baik pada anak, karena lingkungan memiliki pengaruh yang besar pada perkembangan anak. Banyak diantara anak yang pada akhirnya salah jalan akibat perlakuan yang diberikan orangtua tidak sejalan dengan lingkungannya, karenanya apa yang telah ditanamkan orangtua dirusak oleh pengaruh lingkungan yang salah. 
Kelima : Memberikan contoh yang baik. Masa remaja kadang disebut sebagai masa mereka mencari identitas diri dan masa yang sarat dengan pengidolaan karenanya pengenalan tentang kehidupan para nabi, sahabat dan ulama juga pahlawan-pahlawan islam perlu di berikan dengan gaya yang menarik. 
Menghadapi anak ada usia remaja bukanlah perkara yang mudah, perlu ilmu dan pengetahuan serta kemampuan yang disiapkan supaya sukses menghantarkan mereka memasuki gerbang kedewasaan,berikut beberapa hal yang penting dilakukan:
1.Orang tua harus menyadari bahwa anak adalah amanah dari Allah, karenanya harus berupaya sekuat tenaga supaya melaksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya. 
2. Memberikan pendidikan yang baik.karena baik dan buruknya masa depan anak dipengaruhi oleh pendidikan yang diberikan orangtuanya. 
3.Anak dapat menjadi fitnah (Qs at taghabun :15) sehingga dalam mendidik anak pasti banyak kendala dan ujian. Orang tua harus pantang menyerah karena yakin bahwa dibalik semua kesulitan ada pahala besar yang dinanti.
4.Seberat apapun tanggung jawab dalam mendidik anak, Allah pasti memberikan kemampuan pada orangtua untuk Melakukannya(Qs al-Baqarah 286).
5. Senantiasa berdoa ada Allah supaya dikaruniai anak yang shalih (Qs al furqan :74).
6.Memupuk ketakwaan dan kesabaran serta menegakkan shalat untuk memohon pertolongan Allah(QS ath-thalaq:2).
7. Terus menambah ilmu dan tsaqafah islam sebagai bekal dalam mendidik anak. 
8.Terus berjuang untuk mengenyahkan sistem yang merusak anak(kapitalis-liberalis) dan menggantinya dengan sistem yang melindungi anak, yakni sistem khilafah Islam. Wallahu a’lam bishowab.[]
*Praktisi pendidikan dan member akademi menulis kreatif) (AMK) Bandung

Comment

Rekomendasi Berita