by

Samsul Bahri, S.Pd.I: Puasa Menjadikan Manusia Bertaqwa? Kenapa Tidak?

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa “jihad yang paling berat adalah jihad melawan hawa nafsu”. Momentum yang tepat dalam menggambarkan sebuah medan jihad yang dimaksud pada hadits tersebut saat ini adalah aktivitas sekaligus perintah Allah SWT yang harus diawali orang-orang muslim dengan spirit keimanan, aktivitas dimaksud yaitu puasa. 

Puasa berarti menahan hawa nafsu dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan (pahala) puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan pengertian ini maka secara Jasmani (fisik) seluruh anggota tubuh manusia yang menjadi media terjadinya aktivitas puasa, benar-benar harus dijaga dalam batas-batas waktu yang telah ditentukan. Secara Rohani (psikis), iman menjadi muara yang menjadi fokus dalam pengendalian hawa nafsu dalam menjaga esensi puasa. Jika jasmani sebagai media dan Iman sebagai muara terjaga konsistensinya, maka yang menjadi tujuan dan hakikat yang akan dicapai dalam perintah puasa dapat diwujudkan, yaitu menjadi manusia bertaqwa. 
Taqwa dalam definisi jumhur ulama adalah menjalankan segala apa yang diperintahkan Allah diiringi dengan meninggalkan segala apa yang telah dilarang-Nya. Oleh sebab itu taqwa merupakan derajat atau tingkatan tertinggi dari sebuah pengabdian seorang hamba terhadap Tuhan-Nya, lantaran bukan hanya taat dalam menjalankan perintah-Nya namun juga taat dalam meninggalkan larangan-Nya. Pertanyaannya kemudian, mungkinkah dengan puasa kita menjelma menjadi manusia yang bertaqwa?

Dalam QS. Al-Baqarah : 183 disebutkan 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa…”(QS. Al-Baqarah : 183)
Pada akhir ayat tersebut dinyatakan : la’allakum tattaqun “agar kamu bertaqwa”. Dalam ilmu gramatikal bahasa arab, kata “la’alla” لَعَلَّ Penggunaannya adalah untuk menunjukkan sebuah harapan yang terukur dan rasional. Dalam banyak ayat al-qur’an, sebuah harapan selalu dinyatakan dengan kata la’alla, kebalikannya adalah laita لَيْتَ yang menunjukkan sebuah harapan yang tidak terukur dan irrasional, dengan kata lain sebuah khayalan. 

Ini semakin menegaskan bahwa al-Qur’an yang merupakan Firman Allah SWT adalah sesuatu yang tak terbantahkan lagi kebenarannya, rasional, akurat dan proporsional dalam memberikan sebuah perintah, bagi (mukhatab/objek) orang yang diberikan perintah tersebut dapat meraih hasil dan tujuan dari perintah yang diberikan.
Jadi perintah puasa dengan tujuan menjadikan manusia bertaqwa adalah sebuah harapan yang sangat mungkin dapat diwujudkan oleh setiap manusia. Dengan Puasa Menjadi Manusia Bertaqwa? Kenapa Tidak?[Widhy]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 2 =

Rekomendasi Berita