Sania Nabila Afifah: Bagi Muslim Kehidupan Dunia Itu Ibarat Penjara

Berita1449 Views
Sania Nabila Afiha
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Ad Dunya sijnul muslimin wa al-jannatu al-kafirin, dunia adalah penjara bagi orang muslim dan syurga bagi orang kafir. Begitulah kata-kata hikmah yang mungkin sering kita dengar.
Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna di antara ciptaan-Nya yang lain. Manusia diciptakan dengan bentuk yang sebaik-baiknya (fii ahsani taqwiim) dengan bentuk tubuh yang sempurna dilengkapi dengan akal. Yang membuat manusia lebih sempurna dari ciptaan Allah yang lainnya. Akal berfungsi untuk berpikir itulah yang membedakan manusia dengan hewan. Walau keduanya memiliki persamaan yaitu sama-sama memiliki naluri dan kebutuhan jasmani.
Manusia memiliki sifat yaitu selalu tak pernah lepas dari salah dan lupa. Dan juga cenderung liar bahkan Allah samakan manusia dengan hewan, jika manusia tak pernah menggunakan akal dan alat indra yang dimilikinya.
Allah berfirman di surat al-a’raf ; “ Dan sungguh, akan kami sediakan isi neraka Jahanam banyak dari golongan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tidak dipergunakannya  untuk memahami (ayat-ayat Allah ) dan mereka memiliki mata tatapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itu orang-orang yang lengah.”
Maka dari itulah Allah mengekang manusia dengan aturan-aturan yang sudah Allah tetapkan di dalam alquran dan assunnah. Dengan syariat atau hukum-hukum Allah, ketetapan-ketetapan inilah manusia diatur. Mengatur seluruh amal perbuatan. Dengan menunjukkan manusia ke jalan yang lurus. Serta  bagaimana cara memenuhi nalurinya berdasarkan syariat Allah. Yang hanya dengan mematuhi-Nya dan berpegang teguh kepada syariat-Nya manusia akan selamat. Di dunia dan di akhirat.
Adalah suatu kewajiban bagi kita sebagai manusia menerima semuanya, karena Allah menurunkan Islam dan syariah-Nya yang sifatnya untuk mengatur. Maka setiap manusia mendapat beban hukum atas dirinya masing-masing. Dari itulah setiap aktifitas manusia harus terikat dengan syariat. Disetiap langkah juga gerak-gerik kita akan dimintai pertanggungjawaban.
Hanya keimanan yang kokoh akan mampu meyakinkan diri kita bahwa syariat itu adalah benar adanya. Dan keberadaannya haruslah diamalkan jika tidak maka kehidupan manusia akan mengalami kerusakan, kegelisahan, keputusasaan dan juga pertentangan.
Tidak boleh memandang bahwa alam semesta ini terpisah dengan dari unsur yang ghaib dan yang terindra. Atau kehidupan dengan unsur materi dan aspek  rohaninya. Serta manusia yang terdiri dari aspek rohani dan jasmani. Keduanya baik dari aspek jasmani dan rohani harus disatukan sehingga tidak ada pemisahan. Sebagai muslim harus selalu menyatukan keduanya dalam amal perbuatan. Tidak boleh memperlemah atau memperkuat salah satunya. Maka dari itu menyatukan keduanya akan menjadikan amal perbuatan kita bernilai ruh. Ruh yaitu kesadaran akan hubungan kita dengan Allah. Di Setiap langkah kaki kita menuju kehidupan akhirat. Dengan selalu menyesuaikan amal perbuatan sesuai dengan perintah dan larangan Allah.
Maka dari itu hidup adalah sebuah pilihan bagi kita. Pilih taat atau maksiyat, baik atau buruk, syurga atau neraka. Gunakanlah akal kita sebagai alat untuk berfikir dan menetapkan suatu pilihan. Jangan sampai kita salah dalam memilih. Selama kita hidup maka kekangan Allah berlaku. Agar kita selamat di dunia dan akhirat. Dan ingatlah hidup di dunia ini adalah laksana dipenjara. Karena Islam adalah agama yang menyelamatkan penganutnya.
Selamat dalam arti luas…sebagai contoh; ketika seseorang diuji oleh Allah dengan kemiskinan dan si miskin ini beriman dan bertaqwa kepada Allah. Maka dengan kemiskinannya dia tidak akan melanggar perintah Allah. Dia tidak akan mencuri ,walau tak ada sesuap nasipun, dia akan tetap bersabar menunggu risqi yang halal. Sabar Menunggu rizqi yang telah Allah tetapkan bagi dirinya.
Dengan sikap itulah dia selamat di dunia…sebab tidak mencuri. Dan mendapat pahala sebab dia telah menjalani ujian kehidupan dengan bersabar terhadap qadha.
Ketahuilah kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Maka sebagai muslim kita harus benar-benar menjalankan hidup ini dengan semurni-murninya  melakukan ibadah kepada Allah. Dengan taat menjalankan seluruh syariatnya dan menjauhi larangan-Nya.
Sangat merugi jika hidup ini hanya digunakan untuk hal-hal yang sia-sia, tidak bermanfaat. Ketahuilah kerena sebenarnya kehidupan yang sebenarnya adalah di akhirat. Yang mana kelak kita akan kekal di dalamnya.
Maka rawatlah kemesraan kita dengan sang Khaliq kita. Jangan sampai kita bermaksiyat hingga mengundang datangnya dosa. Karena pada awalnya hubungan manusia dengan Allah adalah mesra. Allah akan selalu ada bersama kita. 
Dan berbahagialah dengan identitas kita yaitu muslim. Terimalah dengan ikhlash kekangan Allah, yang dengan itu kita akan tetap mesra dengan sang pencipta kita. Berbahagialah jika dilahirkan sebagai muslim. Dan janganlah merasa berat dalam menunaikan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dan bersegera melaksanakannya.
Allah berfirman,  “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu (Allah), dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertqwa” (al imran 133)
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain), tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (TQS. Al Ahzab 36).Waallahu a’lam bish-showab.[]

Penulis adalah anggota komunitas Muslimah Rindu Jannah, Jember

Comment