by

Setelah Stempel Wahabisme, Kini PKS Dilabeli Sebagai Partai Pendukung Teroris

Furqon Bunyamin Husein
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Perhelatan politik dengan pergantian presiden 2019 semakin tidak sehat. Hal ini tampak jelas dengan munculnya isu yang dimainkan rival politik dengan mengaitkan PKS sebagai partai pendukung teroris. Sebuah isu murahan ini tentu memiliki tujuan strategis menjelang pemilihan presiden 2019 yang tidak lama lagi.

Sebelumnya, PKS dilabeli dengan wahabisme, sebuah paham keagamaan dalam Islam yang anti tahlil dan nilai keislaman yang tumbuh di Indonesia. Isu itu tidak berhasil menenggelamkan PKS dalam pelayaran politiknya di tanah air karena faktanya PKS tetap mengakomodir nilai-nilai keislaman yang beragam.

PKS sebagai partai religius berbasis Islam harus mengambil pelajaran dan hikmah dari rentetan peristiwa politik yang diterjuninya. PKS tidak boleh tinggal diam dengan isu-isu yang akan menghancurkan partai dengan pencitraan negatif. 

PKS harus membuat perlawanan dan perhitungan terhadap siapapun yang telah mencemarkan nama baik partai secara hukum. PKS dapat melaporkan balik siapa saja yang telah membuat stigma bahwa PKS sebagai partai pendukung teroris.

Meskipun dalam prakteknya PKS masih terdapat individu yang “terjebak” dengan kehidupan dunia dan jabatan politis, namun dibandingkan dengan partai-partai lain di negeri ini PKS masih menjadi sebuah partai yang paling sedikit melakukan hal-hal yang bertentangan baik moral maupun hukum. 

Hal ini disebabkan kuatnya semangat keberagamaan para kader dalam menjalankan kepemimpinannya. PKS juga menjadi partai yang paling aman dan tidak anarkis saat menggelar unjuk rasa terhadap isu-isu internasional bahkan dengan ribuan peserta aksi, PKS tidak meninggalkan sampah yang mengotori lokasi.

Ke depan, pencitraan negatif terhadap PKS bukan saja untuk pembubaran partai tetapi akan melebar kepada nilai-nilai religius yang melatari jiwa dan kepemimpinan para kader. Setelah itu tentu saja akan melahirkan islam phobia di kalangan penganut Islam dan nonislam. Ini akan membuat disintegrasi di kalangan umat Islam dan nonislam.

Disadari atau tidak, semua upaya pelemahan PKS ini akan berujung pada kebencian terhadap nilai-nilai Islam itu sendiri. Padahal, di tubuh partai berlambang bulan sabit ini sudah sangat inklusif dengan adanya pengurus partai nonmuslim. Oleh karena itu perlu adanya upaya pelaporan balik terhadap pelapor agar dapat diminta pertanggung-jawaban terhadap laporannya itu.

Dengan inklusifisme yang merangkul kalangan nonmuslim, layakkah kemudian PKS menjadi partai intoleran dan menjadi pendukung aksi teror di negeri ini? 

Pertarungan politik dalam bingkai demokrasi di tanah air semestinya tidak diwarnai dengan isu-isu murahan yang tidak berdasar dengan kenyataan ril. Demokrasi harus dibangun dengan landasan politik yang sehat tanpa harus menebar fitnah.

Tulisan ini tidak bermaksud mendukung PKS, tetapi sebagai upaya merawat marwah demokrasi agar tetap sehat menghadapi pemilu 2019.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × five =

Rekomendasi Berita