by

Siti Ningrum: Tewas Lebih 273 Orang, Pemilu Bikin Hati Pilu

Siti Ningrum

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemilu kali ini berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya banyak huru hara terjadi dan benar – benar menjadi sejarah bagi bangsa Indonesia. Pemilu tahun 2019 menjadi pemilu yang hangat diperbincangkan baik media dalam negeri maupun media luar negeri pun dengan media elektronik, cetak hingga jejaring sosial.

Pemilu 2019 yang menghabiskan dana 24 triliyun banyak menuai kontroversi di masyarakat dari mulai pengadaan logistik kotak suara dari bahan kardus yang bergembok dan huru hara lainnya  tentang KPU selaku penyelenggara pemilu menjadi bulan-bulanan netizen di jejaring sosial dikarenakan banyak salah memasukan data C1, hastag KPU curang dan boikot KPU menjadi trending topic paling atas.
Pemilu disematkan sebagai pesta demokrasi begitulah yang diopinikan oleh mereka penghamba demokrasi namun sejatinya telah membuat hati ini pilu dikarenakan pemilu berujung maut yang menghantarkan petugas pemilu pada ajalnya bahkan diberikan predikat pahlawan demokrasi yang hanya disantuni 36 juta rupiah. Sungguh harga yang terlalu murah jika harus ditukar dengan nyawa seseorang. 
DPR selaku pembuat Undang-Undang seharusnya mampu menimbang dan menilai arah dari sebuah kebijakan sebelum kebijakan disahkan dan direalisasikan. Kebijakan Pemilu serentak telah menjadi contoh yang nyata bagi kita bahwasannya kebijakan-kebijakan yang dibuat bukan untuk kesejahteraan rakyat melainkan menyengsarakan rakyat. Undang-Undang Pemilu serentak hanya contoh sebagian kecil dari sekian kebijakan-kebijakan yang dibuat, nyatanya tidak ada satu pun kebijakan yang berpihak kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan dalam demokrasi. 
Inilah wajah buruk demokrasi sebagai bagian dari sistem Kapitalisme yang telah merusak tatanan kehidupan manusia dimana sistem ini hanya berazaskan manfaat saja dan materi adalah satu-satunya yang menjadi tolok ukur. Tidak peduli halal dan haram yang ada adalah bagaimana mewujudkan keinginan menjadi sebuah kenyataan meskipun jiwa raga harus ditukar dengan harta dan tahta
Maka dari itu sistem kapitalisme adalah sistem rusak dan merusak dikarenakan aturan/hukum yang dibuat berasal dari manusia yang seharusnya tidak berhak sedikit pun manusia membuat aturan/hukum.
Hanya Allah Aza Wazala yang berhak membuat aturan/hukum seperti firman Allah SWT dalam Alqur’an Q.S AL-An’am: 57 
“…….Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah…..”
Jadi, sudah jelas sekali Alquran memerintahkan kita untuk berhukum hanya kepada Allah SWT. 
Maka dari itu sudah saatnya umat sadar dan mencampakan Demokrasi Kapitalisme yang sudah nyata merusak tatanan kehidupan manusia. Saatnya kembali kepada hukum Allah yaitu sistem Islam dan menerapkannya dalam kehidupan, sistem yang akan mengembalikan manusia pada fitrahnya sistem yang akan melindungi tatanan kehidupan manusia yang akan mengantarkan pada keridhoan Sang Pencipta manusia dalam bingkai Khilafah Alla Minhaji Nubuwah. Wallohualam Bishowab.[]
Penulis adalah seorang guru
footnote/https://m.jpnn.com/news/

Comment

Rekomendasi Berita