Siti Rahmah: Eksibisionis Menggila, Siswa Trauma

Berita1196 Views
Siti Rahmah
RADARINDONESIANEWS.COM,JAKARTA – Penyakit sosial kian menggila, berbagai macam jenis kejahatan ada disekitar kita. Seperti yang baru-baru ini menyita perhatian tentang kelakuan pria mesum yang sudah mengakibatkan ketakutan dan trauma mendalam pada anak-anak sekolah di wilayah karawang. Seperti dilansir dalam detiknew.com Situasi Jalan Ahmad Yani di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada sore hari membuat murid perempuan dagdigdug. Sebab, beberapa hari ini berkeliaran sekelompok pria mesum yang meneror siswi saat pulang sekolah. 
“Mereka di dalam mobil, memanggil siswi kami. Saat murid mendekat, pria-pria itu memperlihatkan alat vital mereka,” kata salah satu guru SMP negeri di Karawang yang menolak namanya ditulis saat berbincang bersama detikcom di kantornya, Kamis (21/2/2019). 
Peristiwa terakhir diketahui terjadi dua hari lalu. Seorang siswi kelas 8 di sekolah guru itu mengalami langsung ulah sejumlah pria misterius itu. Guru tersebut mengungkapkan siswinya bercerita soal ada dua pria turun dari mobil dan menarik tubuh gadis itu ke dalam mobil.
Bahkan, akibat kejadian itu, si siswi trauma. “Siswi kami bisa melarikan diri setelah menendang perut pria tersebut,” ujarnya. 
Dia menuturkan gangguan kelompok pria mesum sebenarnya pernah terjadi pada dua hingga tiga tahun lalu. Namun hingga kini pelakunya tidak pernah tertangkap. “Biasanya setelah para murid berteriak, para pelaku langsung tancap gas,” dia mengungkapkan. 
Entah kelompoknya sama atau tidak, guru ini mengkhawatirkan para siswinya. Sebab, sejak dua tahun terakhir ini, sudah 50-an siswinya mendapat teror kelompok pria mesum.
Tak jarang para murid perempuannya itu trauma dan ketakutan. “Untuk mengantisipasi saya bahkan menginstruksikan siswi selalu bergerombol setiap pulang sekolah. Bahkan saya menyuruh siswi mengabaikan orang yang tanya alamat,” katanya. 
Ia berharap pihak berwajib segera meringkus kelompok pria mesum yang kerap meneror murid perempuan di sekolahnya. Sebab, kata dia, hal itu mengganggu kenyamanan dan amat meresahkan. “Kami harap pelakunya segera ketemu dan ditangkap. Saya sudah gereget pengen tonjok orangnya,” ujarnya.
Teror kelompok pria mesum di Jalan Ahmad Yani Karawang juga pernah ia bahas dengan beberapa pendidik dan forum di sekolah lain. Hasilnya, menurut dia, ditemukan korban lainnya.
Kejadian seperti ini ternyata tidak hanya terjadi di masyarakat Karawang saja, namun munculnya kelompok aneh itu sudah terjadi di beberapa negara besar seperti di Amerika Serikat yang tingkatnya sudah sangat parah. Bahkan menurut survei 50 persen wanita di AS pernah menjadi korban kasus tersebut. Di Indonesia sendiri kasus ini sudah terjadi di beberapa kota besar. Seperti di Jakarta, Jogjakarta, Bandung dan Semarang. Tentu ini adalah kasus yang menimbulkan keresahan ditengah masyarakat. Para psikolog  menyebutkan kalau fenomena tersebut adalah bentuk penyimpangan seksual. Orang yang senang mempertontonkan alat vitalnya dan membuat orang lain  takut atau terkejut mereka adalah pengidap penyakit penyimpangan seksual yang disebut eksibisionisme.
Pelaku atau pengidap eksibisionisme ini cenderung ingin membuat orang asing terkejut, takut, atau terkesan dengan perilakunya.
Pelaku merasakan kenikmatan seksual bila korbannya terkejut saat ia beraksi. Misalnya, dengan memperlihatkan alat kelamin atau bahkan masturbasi di tempat umum.
Dalam eksibisionisme, cenderung tak ada kontak fisik, apalagi seksual antara pelaku dan korban. Karena yang di inginkan pelaku hanya membuat terkejut dan takut maka dengan begitu sudah memberikan efek kepuasan tersendiri.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang bisa dikatakan sebagai eksibisionis. Misalnya faktor biologis akibat produksi hormon testosteron yang berlebih dapat membuat seorang pria memiliki tingkah laku seksual yang menyimpang. Kelebihan hormon ini bisa dipicu dari konsumsi makanan dan tontonan.
Selain itu, penyebab berikutnya bisa diakibatkan oleh kekerasan secara emosional yang dialami pada masa kanak-kanak dan disfungsi peran keluarga juga dapat menyebabkan penyakit mental ini.
Anak yang mengalami ADHD pada masa kanak-kanak ternyata memiliki hubungan pada kehidupan dewasa yang menderita eksibisionisme, menurut penelitian dari Harvard University. Selain beberapa faktor di atas, masih banyak lagi faktor lain dan interaksi dari beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi eksibisionis. Seperti rusaknya saraf-saraf otak yang bisa disebabkan oleh konsumsi minuman keras, atau zat adiktif lainnya. 
Kompleknya faktor penyebab munculnya penyakit ini tentu butuh penyelesaian yang menyeluruh juga. Untuk tindakan antisipasi ketika melihat orang dengan perilaku tersebut maka dekan fakultas psikologi dari Undip Hastaning pun menyarankan jangan histeris, bila berjumpa dengan pelaku eksibisionisme. Apalagi meledek. Jangan, itu tak akan menyiutkan nyali para pengidap eksibisionis. Lebih baik diamkan saja, atau menjauh,” imbuhnya.
Lebih dari itu hastaning menghimbau Sebaiknya pihak kepolisian berupaya menangkap pelaku. Karena perilaku eksibisionis berpotensi menimbulkan keresahan maupun ketidaknyamanan bagi sebagian besar orang,”. Selain itu juga perlu dilakukan pengobatan agar bisa kembali normal.
Hanya saja tentu tidak hanya tindakan sebatas itu yang bisa dilakukan, karena ketika faktor penyebab munculnya penyakit tersebut tidak diselesaikan maka hal ini akan menjadi gejala ditengah masyarakat yang akan sulit diselesaikan. 
Sehingga tindakan preventif perlu ditempuh untuk mencegah menggejalanya penyakit tersebut. Hanya saja tindakan ini perlu dilihat dari pemicu munculnya jika pelaku eksibisionis ini muncul karena trauma masa kecil akibat pernah mendapat pelecehan, kekerasan seksual atau karena disfungsi peran keluarga. Maka yang harus dibenahi adalah mengembalikan peran keluarga sebagai perisai terakhir dalam melindungi anak. Banyak cara yang bisa dilakukan orangtua dalam melindungk anak-anaknya.
Poin Penting dalam proses ini adalah keutuhan keluarga, sehingga anak bisa hidup dalam keluarga yang lengkap. Dimana anak bisa mendapatkan perlindungan dari ayahnya dan kasih sayang dari ibunya. Seorang ayah harus paham akan peran utamanya yakni mendidik keluarga, melindungi keamanan jiwa dan raga anggota keluarga. Begitupun ibu sebagai pusat kasih sayang. Menyebar cinta dan kehangatan, memberi rasa aman dan tentram untuk seluruh anggota keluarganya. Jika peran ini dijalankan secara maksimal maka pemenuhan kasih sayang dan keamanan akan didapatkan anak. Hal ini bisa menjadi tindakan preventif dalam melindungi anak dari penyimpangan seksual.
Yang kedua adalah semua anggota keluarga harus mampu menjaga   aurat. Baik ketika di dalam rumah maupun di luar rumah. Anak juga harus dipahamkan batasan-batasan aurat. Jika ini ditanamkan sejak kecil maka tidak akan ditemukan kasus eksibisionis, karena jangankan memperlihatkan alat vital, menampakan bagian dari auratnya di depan umum saja tidak berani..
Poin ketiga yang bisa dilakukan kelurga adalah tidak bercanda berbau seksual. Kadang orang dewasa tidak menyadari melakukan pelecahan seksual seperti ledek-ledekan atau melorotkan celana anak kemudian ditertawakan. Padahal secara tidak langsung aktifitas tersebut adalah pelecehan seksual yang bisa memicu eksibisionisme.
Keempat Tidak memicu bangkitnya syahwat, orangtua harus menahan diri untuk tidak memicu bangkitnya syahwat seperti tidak bermesra didepan anak. Tidak membiasakan memasang-masangkan anak Laki-laki dan teman perempuannya. Tidak mengijinkan anaknya mengakses konten porno dalam apapun bentuknya. 
Kelima mengajarkan anak takwa dan batasan pergaulan. Mengajarkan takwa ini tentu bukan point terakhir tapi harus yang utama hanya saja, orngtua butuh kesabaran untuk terus mengajarkan dan menasehati anaknya agar takut kepada Allah. Selain itu juga orangtua harus mengajarkan batasan pergaulan dalam Islam. Menyibukan anak dalam aktifitas positif terutama dalam bidang keagamaan. Mengkaji islam, meningkatkan bacaan quran dan yang lainnya.
Semua tahap ini dilakukan untuk meminimalis fantasi anak dan untuk melindungi anak dari pelecehan seksual yang bisa menyebabkan trauma dan memicu munculnya penyakit eksibisionis tadi. 
Hanya saja tentu tindakan Preventif ini tidak akan sempurna jika hanya dilakukan dalam sekup keluarga saja. Padahal yang menjadi pemicu eksibisionis ini banyak. Seperti efek minuman keras dan konten porno, yang dapat merusak saraf dan menimbulkan fantasi yang berlebihan. Untuk menyelesaikan hal ini tentu membutuhkan peran semua pihak. Seperti lingkungan pendidikan, lingkungan maysarkat yang kondusif dan peran negara yang memiliki kebijakan sentral. 
Seperti hal nya saat ini, ketika kita merenungkan kenapa eksibisionis ini tidak pernah Terselesaikan padahal sudah terjadi selama bertahun tahun? Ternyata semua itu karena banyak peran yang tidak mendukung dan tidak berjalan sesuai seharusnya. Sehingga tindakan preventif ini pun terhambat untuk diberlakukan. Akhirnya wajar jika kondisi kehidupan saat ini mendorong menjamurnya eksibisionis karena akses porno semakin mudah diakses, miras juga mudah di konsumsi. Pemicu-pemicu tersebut masih belum bisa dihilangkan ditengah masyarakat saat ini.
Sehingga tindakan berikutnya yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah eksibisionis ini adalah dengan tindakan kuratif. Dalam Islam semua jenis penyimpangan seksual merupakan tindakan kriminal yang pelakunya wajib mendapatkan sanksi. Sayangnya penerapan hukum di negeri kita begitu lemah. Entah itu lemah dari sisi aparat penegak hukumnya ataupun lemah dari sisi hukumnya sendiri, sehingga sampai saat ini  Pelaku eksibisionis ini belum pernah tersentuh hukum. Sehingga pantas dari tahun ketahuan pelakunya berkembang pesat sedangkan penanganan tidak pernah dilakukan.
Kasus ini cukup memberikan bukti bahwa pemberlakuan tindakan preventif dan kuratif ini tidak dapat diterapkan secara maksimal dalam sistem saat ini, karena akan berbenturan dengan kehidupan sosial masyarakat yang sudah kadung mengadopsi kebebasan. Namun demikian sesungguhnya solusi ini bisa menyelesaikan seluruh permasalahan  eksibisionis jika ada keseriusan dari pemangku kekuasaan dan aparat penegak hukum dalam  menyelesaikan masalah ini. Hanya saja harapan itu bisa terwujud jika aturan Islam diterapkan secara sempurna. Bahkan berbagai penyimpangan dan penyakit seksual lainnya bisa diselesaikan secara tuntas.[]

Comment