Sitti Komariah, S. Pd. I: Reuni 212, Wajah Awal Kebangkitan Umat

Berita2175 Views
Sitti Komariah, S. Pd. I
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Reuni akbar 212 telah usai digelar dengan tertib dan damai. Hampir 10 juta umat manusia dari berbagai penjuru negeri Indonesia berdatangan untuk mengikuti acara aksi tersebut. Banyak nasehat yang disampaikan oleh para ulama-ulama besar untuk menyongsong kebangkitan hakiki dan menyerukan perubahan hakiki, salah satunya pidato Habib Rizieq Shihab yaitu :
Saudaraku seiman dan seakidah,
saudaraku sebangsa dan se-Tanah Air, melalui reuni akbar 212 ini, mari kita renungkan kondisi negara kita dalam lima
tahun terakhir. Selama ini di Negara Indonesia, sama merasakan kuat indikasinya
adanya gerakan sistematis dan struktural yang ingin menghancurkan sendi-sendi
kehidupan beragama dan berbangsa serta bernegara di negara kesatuan RI dengan
menghalalkan segala cara.

Pertama, pembiaran aliran sesat dan penodaan agama
secara masif, bahkan para pelakunya dilindungi dan dibesarkan, padahal, agama apapun
tidak boleh dinista apalagi dinodai, apalagi Islam.
Kedua, pembiaran kedzaliman dan ketidak adilan yang
meruntuhkan sendi-sendi penegakan hukum.
Sehingga sikap suka-suka kini menjadi landasan
penegakan hukum di Indonesia. Hasilnya yang disukai rezim, bebas melanggar
hukum, sedang yang tidak disukai rezim akan dikerjai dengan rekayasa hukum.

Ketiga, pemberhalaan ekonomi neurit berdasarkan
sistim utang ribawi yang telah mengundang penjajah asing yang kejam dan ganas
serta bengis.
Sehingga
menghancurkan perekonomian rakyat jelata secara mengerikan. Lapangan kerja
dijarah asing, nilai mata uang terus merosot, pasar rakyat dilibas habis oleh
kolong merat hitam, wong cilik mulai banyak kelaparan dan kekurangan gizi.

Yang keempat, pembiaran kemungkaran dan kemaksiatan,
seperti perdukunan, korupsi, narkoba, miras, judi, pornografi, pornoaksi,
porstitusi dan LGBT, sehingga kalau dibiarkan kemungkaran dan kemaksiatan
meraja lela, dan merusak generasi muda secara menakutkan sekaligus mengundang
bencana di mana-mana,
Islampos (2/12/2018).
Reuni 212 Wajah Awal Kebangkitan
Umat
Monumen Nasional
(MONAS) menjadi saksi bisu jutaan umat muslim berkumpul menyambut kebangkitan
hakiki. Mereka menghadiri acara tersebut tanpa dibayar sepeserpun, bahkan
mereka rela mengeluarkan harta mereka demi menghadiri aksi 212 tersebut. Inilah
salah satu ghiroh kebangkitan kaum muslimin. 
Jiwa mereka terpanggil untuk mengikuti aksi tersebut.
Reuni 212 bukan hanya
merupakan seremonial belaka, ataupun ajang silaturahmi, dan hanya merupakan
ajang kumpul-kumpul seluruh umat muslim, 
namun itu merupakan wajah awal Islam rahmatan lil a’lamiin. Ghiroh
kebangkitan umat muslim terlihat begitu dahsyat. Lantunan kalimat tauhid
menghiasi aksi tersebut. Bendera tauhid dan panji Rasulullah juga menghiasi
pelataran Monas. Sungguh merupakan pemandangan yang sangat luar biasa persatuan
umat muslim. Tanpa memadang bulu semua ikut hadir dalam acara tersebut baik
dari kalangan artis, pejabat, pengusaha kaya, rakyat jelata, bahkan orang yang
cacatpun ikut hadir dalam acara tersebut. Mereka semua meningalkan atribut
keormasan, keanguhan  mereka dan bersatu
untuk membela bendera tauhid yang mulia.
Menuju Perubahan
Hakiki
Seperti yang telah
disampaikan oleh ulama besar Habib Rizieq Shihab bahwasanya reuni 212 merupakan
suatu ajang untuk menuju suatu perubahan. Namun perubahan disini jelas bukan
hanya jargon semata ataupun perubahan yang bersifat pragmatis, tetapi merupakan
perubahan yang hakaki.
Perubahan yang bukan
hanya menganti rezim neolib, tetapi perubahan yang juga menganti sistem sekuler
yang telah jelas menjadi akar permasalahan dari segala aspek kerusakan di muka
bumi, termaksud Indonesia yakni kapitalis demokrasi. Karena realitas
problematika utama (al-qadhiyatul al-mashiriyah)  umat muslim saat ini  adalah bagaimana caranya mengembalikan
penerapan seluruh hukum yang diturunkan oleh Allah, yakni syariah Islam,
melalui bingkai Khilafah Islamiyah. Hanya melalui itulah umat muslim akan dapat
melakukan perubahan hakiki, dan mampu melepaskan diri dari cengkeraman
kapitalis demokrasi yang telah nyata menyengsarakan umat manusia.
Perubahan hakiki
merupakan transformasi yang mampu mengantarkan masyarakat menuju kebangkitan
hakiki. Dimana hal tersebut haruslah didorong dengan adanya suatu peradaban
yang benar (shahih) yang harus ditegakkan di tengah-tengah kehidupan umat.
Namun, adapun faktor
yang menentukan benar tidaknya suatu peradaban adalah aqidah (pemikiran
mendasar) yang menyanga peradaban tersebut. Aqidah tersebut haruslah aqidah
yang shahih. Karena bila aqidahnya shahih, maka peradabannya pun shahih,
begitupun sebaliknya. Perubahan sejati seyoanya adalah transformasi menuju peradaban
yang tegak diatas ideologi shahih yang mampu memuaskan akal, sesuai dengan
fitrah manusia, dan mampu memberikan dan menciptakan kemakmuran hakiki.
Satu-satunya ideologi
dan peradaban yang sesuai dengan fitrah manusia, dan mampu menciptakan
kesejahteraan hakiki hanyalah Islam. Karena Islam bukan hanya sebagai agama
ritual semata, melainkan seperangkat aturan yang mengatur kehidupan manusia.
Namun, peradaban Islam tidak bisa diwujudkan tanpa menerapkan Islam secara
kaffah atau menyeluruh dalam bingkai Khilafah Islamiyah yang telah dicontohkan
oleh baginda Rasulullah SAW selama 14 abad silam.
Sedangkan penegakkan
khilafah tidak mungkin diwujudkan tanpa adanya kesadaran umum dan dukungan umat.
Sebab, umat merupakan tameng terbesar dalam menuntun arah perubahan. Mereka
harus menyadari bahwasanya ideologi kapitalis dan sosialis telah menjadi kanker
mematikan dalam kehidupan umat manusia di berbagai segi. Sehingga umat sadar
bahwasanya mereka harus segera meningalkan sistem yang telah rusak tersebut dan
memahami bahwa syariah dan khilafah bukan hanya sebagai kewajiban dari Allah,
melainkan solusi dari berbagai problematikan yang mendera kehidupan ini.

Penyadaran umat untuk melakukan penegakkan khilafah Islamiyah tidak
mungkin dilakukan seorang diri, melainkan harus ada kelompok (hizb atau
jama’ah) yang secara konsisten dan tidak kenal lelah mendidik umat dan
membimbing umat untuk menuju pada arah perubahan hakiki yaitu berdirinya
khilafah Islamiyah. Wallahu A’alam Bisshawab.[]


Penulis adalah anggota komunitas Muslimah Media Konda
Konda, Konawe Selatan.

Comment