by

Sumiati: Mengelola Ego

Sumiati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam kitab yang ditulis oleh Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani, beliau menuturkan bahwa, manusia memiliki tiga naluri, yaitu: naluri mempertahankan diri, naluri menuhankan sesuatu dan naluri ketertarikan terhadap lawan jenis. Ketiga naluri ini akan baik jika dibimbing wahyu, namun sebaliknya jika dibiarkan bisa berbahaya, karena akan semaunya menjalani kehidupan, tanpa sebuah aturan. 
Contoh naluri mempertahankan diri adalah  ketika seseorang  tidak di bimbing wahyu, biasanya akan sulit hidup di masyarakat,  karena kesombongannya dan tidak mau menerima nasihat, merasa paling benar dan yang lain salah, tidak ada pendapat orang lain yang benar, karena menurutnya hanya dia yang benar. Apapun yang dilakukan oleh orang lain selalu salah di matanya. Bahkan manusia semacam ini unik, karena seringkali memberi nasihat kepada orang lain harus beradab, namun dirinya tidak beradab, menyeru orang lain harus berakhlaq, dirinya tidak  berakhlaq. 
Misalnya ada orang lain membantah pendapatnya, ia katakan tidak beradab, namun ketika orang lain memiliki pendapat, ia membantahnya bahkan tidak menghargainya, dia lupa bahwa dirinya penyeru harus beradab. Begitupun ketika orang lain lupa salam, ia katakan tidak berakhlaq, namun ketika  ia tidak suka kepada seseorang, dia pun lupa akhlaq dan bersikap tidak hormat.
Mengapa ini terjadi? dalam Al quran Allah SWT telah menjelaskan banyak manusia yang menyombongkan diri. Allah SWT berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ ﴿٣٥﴾
“Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Lā ilāha illallāh” (Tidak ada tuhan selain Allah), mereka menyombongkan diri,” (Q.S.37:35)
Inilah akibat lemahnya iman dan rapuhnya kepekaan, antara lisan dan perbuatan tidak sama, menyebabkan hati tidak lapang, hilang Lillaah dalam perjalanan hidupnya, mudah marah, tersinggung, sulit berkomunikasi, tidak harmonisnya sebuah hubungan dan lain-lain. Berikutnya ia akan hidup menyendiri, kurang teman, karena temanpun tidak nyaman dengan manusia yang memiliki ego terlalu tinggi. Banyak pula terjadi mereka menghindari menikah karena tidak pernah ada yang cocok diakibatkan terlalu tingginya standar, tanpa melihat betapa dirinya penuh dengan kekurangan, namun tidak terlihat karena tertutup dengan ego. 
Kapanpun ketika naluri mempertahankan diri  yang negatifnya lebih dominan, maka dalam segala hal selalu berakhir tidak baik. Karena segala permasalahan dalam kehidupan selalu dilandasi dengan ego. Terkadang orang lain tidak diberikan haq untuk berbicara, berpendapat atau amar ma’ruf.
Bagaimana solusinya? semestinya setiap insan kembali pada fitrahnya, mengkaji Islam untuk diamalkan, bukan untuk diilmui saja, memasrahkan segalanya kepada Sang Maha Pencipta. Karena permasalahan dalam kehidupan pemecahannya adalah dengan Islam, Islam kaffah.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٠٨﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (Q.S.2:208)
Dimanapun dan masalah apapun kembali pada Islam, karena Islam tetap relevan diterapkan hingga akhir zaman, baik dalam masalah kecil atau besar, masalah rumah tangga hingga masalah negara, Islamlah solusinya.
Dalam kondisi ini, di mana sistem tidak berpihak pada umat, siapa lagi kalau bukan diri sendirilah belajar dan terus berupaya mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari, bukan hanya rajin mencarinya saja. Ingat, semua yang kita lakukan, putuskan, ucapkan akan dihisab oleh Allaah SWT. Akan kita pertanggung jawabkan kelak diakhirat.
إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ مِنَ ٱلْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُونَ ﴿١١٠﴾
“Sungguh, Dia (Allah) mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu rahasiakan.” (Q.S.21:110)
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۗ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرْجَعُ ٱلْأُمُورُ ﴿٧٦﴾
“Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.”(Q.S.22:76)
Semoga kita terhindar dengan hal-hal tidak diinginkan. Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin.  Wallaahu a’lam bishawab.
Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan 
Member AMK (Akademi Menulis Kreatif

Comment

Rekomendasi Berita