by

Sunarti: Bijak Menyikapi Hasil SBMPTN

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Baru saja pengumuman Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri di seluruh Indonesia. Banyak ekspresi remaja lulusan SMA dan yang sederajat. Sedari sore sudah duduk manis di depan celuler maupun di depan laptop. Ada yang bergerombol menunggu bersama di warnet. Ada yang duduk-duduk bareng di rumah teman. Dan ada pula yang memilih beramai-ramai menunggu bersama keluarganya. Pun ada juga yang memilih menyendiri di dalam kamar. Macam-macam cara mereka lakukan untuk menunggu pengumuman lolos dan tidaknya masuk ke PTN yang diidamkan.
Pada akhirnya mereka membuka satu persatu dengan kode yang telah mereka siapakan. Dan “jreng”, pemberitahuan muncul di layar. Macam-macam ekspresi yang ditampakkan pasca pengumuman yang menyebut nama-nama mereka. Ada yang senyum-senyum, ketawa hingga berjingkrak. Ada pula yang sujud syukur dan memeluk ayah bundanya. Di sisi lain ada yang memelas dan menangis. Lebih konyol lagi ada yang marah “ngepruk” hpnya atau laptopnya. 
Memang PTN adalah tujuan favorit. Hampir seluruh lulusan SMA dan yang sederajat mengelu-elukan masuk PTN. Selain fasilitas yang memadai juga ditambah dengan beaya perkuliahan. Dibanding dengan perguruan tinggi swasta bisa dikatakan PTN jauh lebih murah. Tidak hanya itu, secara nama, PTN lebih memiliki prestice yang istimewa di mata masyarakat. Lepas dari jurusan perkuliahannya. “Pokoknya kuliah di negeri, jurusan itu tidak penting”, begitu kira-kira prinsipnya.
Berbeda halnya dengan yang sudah terobsesi dengan PTN, harus diterima. Akan melakukan apa saja untuk melampiaskan kekesalannya, apabila ternyata hasil dari yang diharapkan tidak lolos. Rasa jengkel, kecewa dan marah akan dilampiaskan dengan berbagai macam cara. Menyalahkan orang lain, memaki hingga menghancurkan benda-benda di sekitarnya.
Lain cara pandang lain pelampiasan. Dari ribuan calon mahasiswa yang tidak diterima ada yang “nglenggono”. Menerima dengan lapang dada atas apa yang pengumuman yang dilihatnya. Lolos atau tidak baginya adalah kehendak Sang Maha Pengatur Kehidupan. Dia hanya seseorang yang punya kewenangan dalam ikhtiar saja. Sementara, hasil adalah Allah sebagai penentunya. Bagi yang memahami sekolah atau kuliah adalah sebuah wasilah untuk menuntut ilmu, pasti tidak akan begitu “down” dengan ketidak lolosannya di PTN. Dia akan berfikir dan terus berusaha untuk tetap bisa menuntut ilmu. Entah dengan cara mengikuti test-test yang berikutnya, atau dengan memilih ke PTS (Perguruan Tinggi Swasta).
Bisa dipahami, apabila anak maupun orang tuanya punya obsesi yang sama untuk masuk PTN dengan jurusan favorit. Namun ternyata tidak hanya sebatas itu. Ada yang sangat terobsesi untuk masuk PTN dengan jurusan seadanya. Dengan prinsip “Yang penting masuk PTN”. Entah jurusannya disukai atau tidak. Dengan hanya melihat nanti masyarakat akan menganggapnya “wah, kuliah di PTN”.
Sebenarnya ketika seseorang hendak memilih perguruan tinggi, seharusnya dikembalikan pada niatan awal kuliah. Yaitu menuntut ilmu. Jadi, ketika diterima ataupun tidak di PTN dengan jurusan yang dipilihnya dia akan tetap bersyukur. Karena niatannya adalah menuntut ilmu dan masih banyak cara untuk tetap dapat menuntut ilmu. Tidak lantas menjadi bahagia yang berlebihan hingga lupa bersyukur. Atau sebaliknya, bersedih hingga putus asa, ketika tidak diterima.
Manusia hanya mampu berusaha. Yang menentukan hasil adalah Allah SWT. Senyampang usaha maksimal di jalan yang Allah halalkan, maka di situlah Allah akan meridhloi. Dan selama niatan untuk menjalankan kewajiban yaitu menuntut ilmu, insyaallah, pahala ikhtiar sudahlah mengalir. Diterima atau tidak itu berkaitan dengan hasil, yaitu kehendak Allah. 
Yakinkan diri jikalau apa yang diterimanya (diterima di PTN atau tidak diterima di PTN) adalah suatu kebaikan dari Allah. Bagi yang diterima, tetap bersyukur atas karuniaNya. Jangan lupa diri dan menganggap itu semata-mata hasil usahanya. Tanpa pertolongan dari Allah, apalah artinya upaya seorang hamba. Karena hal ini akan memunculkan sikap sombong dan cenderung meremehkan teman atau orang lain yang tidak diterima. Tetaplah berbuat makruf pada teman dan orang tua. Bagaimanapun juga mereka orang-orang di sekitar kita, yang selalu memotivasi kita.
Bagi yang tidak lolos, pasrahkan yang sudah terjadi itu kepada Allah. Itu adalah sebuah kebaikan yang telah Allah rencanakan untuk kita. Tetap optimis ada jalan lain yang akan Allah berikan. Tetap terus berusaha dengan kesungguhan untuk mendapatkan tempat menuntut ilmu yang lebih baik. Tetaplah berusaha istiqamah menempuh jalan yang halal. Jangan lupa, selalu berdoa, agar pilihan kita diridhloi oleh Allah![]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × two =

Rekomendasi Berita