by

SW. Retnani, S.Pd: Bawang Merah Bikin Marah

SW. Retnani, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kota Brebes, salah satu penghasil bawang merah di negeri ini. Tanaman yang selalu diminati para kaum hawa, sebab aroma khas yang membuat masakan sedap menggugah selera. Tanpa kehadiran si bawang merah, Kuliner Nusantara tidak akan tersaji. Karena keberadaannya menjadi penentu setiap masakan. Mulai dari soto, sayur lodeh, nasi goreng, rendang, bakso, gado-gado, opor, capcay, bubur ayam, ketoprak, nasi liwet, bakmi, rawon, urap, gudeg, Ayam Betutu, tongseng, gulai, semur dan lain-lain. Semua masakan nusantara pasti memerlukan si bawang merah, bisa langsung dimasukkan dalam kuah atau ditumis terlebih dahulu, ada juga yang dipakai taburan diatas masakan siap saji. Hmm, lezat dan mantap betul. 
Namun sayang, kehadiran si bawang merah kian menguras dompet. Kini harga bawang merah melonjak hingga membuat emak-emak gerah dan marah. Sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia, mayoritas harga kebutuhan pangan menanjak pada awal pekan ini. Kenaikan tertinggi terjadi pada harga bawang merah sebesar 5,92 persen atau sebesar Rp2.000 per kilogram (kg) menjadi Rp35.800 per kg.
Selain bawang merah, harga bawang putih juga meningkat 2,23 persen atau Rp700 per kg menjadi Rp32.050 per kg. Sementara harga cabai merah besar naik 4,03 persen atau Rp1.250 per kg menjadi Rp32.300 per kg.
Lalu harga cabai merah keriting naik 2,14 persen atau Rp600 per kg menjadi Rp28,700 per kg dan cabai rawit merah naik Rp150 per kg menjadi Rp38.500 per kg. Kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng kemasan bermerk 1, gula pasir premium, dan gula pasir lokal masing-masing menjadi Rp50 per kg. Harga minyak goreng menjadi Rp14.350 per kg, gula kualitas premium Rp14.750 per kg, dan gula pasir lokal Rp12.050 per kg.Sementara itu, harga cabai rawit hijau turun Rp450 per kg menjadi Rp32.550 per kg, sedangkan harga beras kualitas medium II, minyak goreng curah, dan minyak goreng kemasan bermerk 2 masing-masing Rp11.750 per kg, Rp11.350 per kg, dan Rp13.650 per kg. (agi/agi)
Kenaikan bawang merah dan bahan pangan lainnya akan menimbulkan dampak kenaikan lain-lainnya. Bisa kita bayangkan, bila warung nasi menaikkan harga makanan yang dijualnya, pasti sopir-sopir langganan mereka pun ikut menaikkan harga tarifnya dengan 1000 alasan klasik. Akhirnya, pihak -pihak lain pun ikut latah menaikkan harga.
Dan dampak terbesar dari kenaikan harga-harga ini adalah berdampak pada perekonomian emak-emak. Mengingat emak adalah pengurus rumah tangga. Sebagaimana sabda rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bahwasannya tugas Ibu adalah Ummu warobatul bait yakni sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Ibu yang belajar ke pasar, ibu yang memasak, Ibu pula yang mengatur seluruh keuangan rumah tangga. Lonjakan harga- harga pangan akan semakin menghimpit kehidupan rumah tangga terutama pada ibu. Biaya hidup akan semakin tinggi, beban ini akan menambah daftar orang-orang stres atau depresi. Termasuk Jalan pembuka terjadinya perselingkuhan, zina dan perceraian. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً   ۗ  وَسَآءَ سَبِيْلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 32).
Bahkan tak jarang kita dengar berita kematian satu keluarga disebabkan tak sanggup menanggung beban kehidupan yang teramat berat. Allah SWT berfirman:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا  يُفْتَـنُوْنَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 2).
Sungguh dari masalah kenaikan harga pangan, bisa merembet ke masalah-masalah kehidupan lainnya. Semua ini akibat sistem demokrasi yang telah melahirkan paham sekularisme. Hingga umat jauh dari agama, umat tidak memahami arti penting Sang Pencipta menurunkan firman-firman-Nya. Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Dari paham inilah individu rusak, masyarakat terlantar hingga negara pun hancur. Pemimpin yang seharusnya mampu meriayah umat, malah sebaliknya: mendzolimi, menghianati, menipu dan memeras rakyatnya sendiri. Maka hanya orang-orang bodoh dan dangkal pemikirannya yang terus mempertahankan sistem demokrasi sebagai panutan negerinya.
Berbeda dengan sistem Islam yang sangat jelas mengikuti seluruh aturan dan hukum Sang Kholik, Allah Azza wa Jalla. Maka dalam sistem Islam negara akan mampu meriayah umat dan mampu merealisasikan Swasembada pangan. Tidak seperti sistem kapitalis -demokrasi yang hanya bisa menebar Janji -Janji Manis. Namun tak pernah ada yang terealisasi. Dengan sistem Islam fungsi dan tugas negara dalam memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat akan terjaga mulai dari kebutuhan dasar individu seperti: sandang, pangan dan papan. Hingga kebutuhan dasar publik seperti: pendidikan, kesehatan dan keamanan 
Jadi tidak akan terjadi lonjakan tajam harga-harga pangan. Negara Khilafah akan menjaga stabilitas harga pangan dengan selalu mengawasi langsung seluruh proses distribusi pasar, sehingga tidak akan ada kecurangan seperti penimbunan oleh oknum-oknum tertentu. Bila terdapat kecurangan, negara Khilafah akan memberi hukuman atau sanksi tegas yang membuat Jera. Hingga orang akan berpikir 1000 kali lipat kalau mau melakukan kecurangan dan hal ini tidak akan terjadi, sebab negara Khilafah yang menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan akan membentuk masyarakat yang memiliki keimanan yang tinggi dan tangguh. Allah SWT berfirman:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ  نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ  لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 6).
Negara Khilafah pun tidak akan membebani rakyat dengan biaya kehidupan yang mahal, semuanya dijamin oleh negara. Kas-negara yang berlimpah dari pengolahan sumber daya alam yang dikelola sendiri, akan dapat memenuhi seluruh kebutuhan umat. 
Dengan demikian Islam akan mampu mewujudkan kestabilan ekonomi dan rakyat akan hidup sejahtera. Sebagaimana dulu Khilafah mampu menjadi mercusuar dunia hingga kurang lebih 13 abad lamanya. Wallahua’lam bishowab.[]
Penulis adalah anggota komunitas AMK

Comment

Rekomendasi Berita