by

SW. Retnani, S.Pd: Merubah Kata Kafir Menyalahi Ketetapan Allah

SW. Retnani, S.Pd:

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kaum muslim wajib yakin dan percaya, bahwa semua yang tertulis di dalam kitab suci Alquran adalah benar atau Haq. Dengan keyakinan ini akan memudahkan kita untuk mampu melaksanakan setiap perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Didalam Alquran termaktub banyak hal, antara lain: perintah untuk beribadah kepada Allah SWT, petunjuk untuk bermasyarakat, sejarah nabi dan kisah-kisah umat terdahulu serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. Sebagaimana penjelasan-Nya di dalam Al Quran.

Allah SWT berfirman:
وَيَوْمَ نَـبْعَثُ فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ شَهِيْدًا عَلَيْهِمْ مِّنْ اَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيْدًا عَلٰى هٰۤؤُلَآ ءِ  ۗ  وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْـكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّـكُلِّ شَيْءٍ وَّ هُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ
wa yauma nab’asu fii kulli ummatin syahiidan ‘alaihim min anfusihim wa ji`naa bika syahiidan ‘alaa haaa`ulaaa`, wa nazzalnaa ‘alaikal-kitaaba tibyaanal likulli syai`iw wa hudaw wa rohmataw wa busyroo lil-muslimiin
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 89).
Dan di dalam Alquran diantaranya terdapat janji Allah SWT. Salah satu janji Allah adalah menjaga keaslian Alquran.
Allah SWT berfirman:
اِنَّا نَحْنُ  نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ
innaa nahnu nazzalnaz-zikro wa innaa lahuu lahaafizhuun
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 9)
Ayat -ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan sumber hukum, obat, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman tidak ada keraguan di dalamnya.
Ayat-ayat yang terkandung di dalam Alquran inilah yang akan menjadi saksi kita kelak di Yaumil akhir. Ia menjadi cahaya bagi orang-orang yang memiliki keyakinan, membacanya akan mendapatkan pahala dan melaksanakan ayat-ayat ini akan menerangi hati. Alquran akan menerangi kita kelak di alam kubur.   AlQur’an merupakan salah satu nikmat Allah SWT, yang diturunkan kepada nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam melalui Malaikat Jibril. 
Cinta pada al-qur’an akan membawa kita kepada keindahan yang Hakiki, sebab cinta ini berlimpah Rahmat dari Sang Pencipta Allah Azza wa Jalla. Al Qur’an merupakan rincian Peraturan hidup umat Islam maka wajib bagi kaum muslim mentaati dan melaksanakan nya bukan malah mengganti dan menjelek-jelekkan setiap kata yang tercantum didalamnya, hanya orang-orang yang sombong dan takabur yang telah berani mengganti kata-kata yang ada di dalam Alquran. Misalnya, kata kafir diganti dengan non muslim. Sebagaimana dilansir nasional. tempo.com bahwa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berencana mensosialisasikan usulan penghapusan sebutan kafir ke nonmuslim Indonesia. Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan sosialisasi ini akan dilakukan kepada pihak-pihak terkait.
Sosialisasi itu dilakukan baik ke internal NU maupun pihak-pihak eksternal NU. Pesan singkat Robikin melalui Tempo, Ahad, 3 Maret 2019.
Menurut Robikin, sosialisasi atas usulan ini memang selalu dilakukan oleh NU. Hal ini biasa dilaksanakan usai adanya usulan atau keputusan dalam kegiatan NU yang berskala nasional. Seperti lazimnya, seusai menggelar kegiatan berskala nasional seperti Muktamar atau Munas Alim Ulama dan Konbes NU misalnya, NU selalu melakukan sosialisasi hasil-hasilnya.
Usulan penghapusan sebutan kafir ke nonmuslim Indonesia tercetus dalam sidang komisi bahtsul masail maudluiyyah Musyawarah Nasional Alim Ulama NU. Sidang itu mengusulkan agar NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang tidak memeluk agama Islam.
Pimpinan sidang, Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti  para nonmuslim di Indonesia. Dianggap mengandung unsur kekerasan teologis, karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tapi ‘muwathinun’ atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain. Kata beliau di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis, 28 Februari 2019.
Meski begitu, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Al Quran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim. Memberikan label kafir kepada WNI yang ikut merancang desain negara Indonesia rasanya tidak cukup bijaksana.
Astaghfirullahall adzim. Saya tidak mengerti jalan pikiran mereka. Mereka mengatakan kata kafir mengandung kekerasan teologis. Berarti secara langsung mereka telah menghina firman-firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mengejek ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apakah mereka tidak paham?Alloh yang mengajarkan kepada kita melalui ayat ayatnya di dalam al-quran, untuk menyebut kafir kepada orang-orang yang tidak mengimani dan tidak menyembah kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
قُلْ يٰۤاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَ 
qul yaaa ayyuhal-kaafiruun
“Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir!”
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 1)
Lebih parahnya lagi, mereka lebih perhatian pada hal-hal yang menyakiti kafir yang menurut mereka ikut berjasa dalam pembangunan negara Indonesia. Dibandingkan pada  hal-hal yang menyakiti Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jumud sekali pemikiran mereka, Allah yang memberi kehidupan pada mereka, memberi kenikmatan dunia, memberi kesempurnaan dan kebahagiaan pada mereka. Saking banyaknya nikmat yang telah Allah berikan, Allah ingatkan di dalam kalammulloh. Allah SWT berfirman:
فَبِاَيِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
fa bi`ayyi aalaaa`i robbikumaa tukazzibaan
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 13)
 Allah SWT. ulangi ayat ini hingga puluhan kali. Naudzubillah, Semoga kita semua tidak termasuk orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala. Ini semua upaya kaum pemuja sekularisme- liberalisme untuk merusak Islam. Mereka semakin berani merusak tatanan ayat suci Alquran, mereka serang dari segala sisi hingga kaum muslim tercerai-berai. Mereka adu domba umat, mereka hancurkan ukhuwah islamiyah. sayangnya, semua ini akan terus menimpa umat Islam sepanjang rezim sekuler dan sistem pemerintahan demokrasi berkuasa di tengah umat. 
Akibatnya, umat saat ini  terlena hingga modus-modus sekularisme, pluralisme dan liberalisme menyusup ke berbagai ormas Islam mereka tidak mengetahuinya. Maka umat pun terhanyut dalam aliran kotor para kaum liberalisme, hingga mengakibatkan kedzaliman. Mereka penjarakan ulama warosatul Anbiya dan mereka agung-agungkan ulama su’.Mereka bubarkan ormas Islam yang menjunjung tinggi Syariah dan Khilafah lalu mereka biarkan para pemberontak sadis membantai umat. Haruskah kita memilih pemimpin dzolim penganut liberalisme? ataukah memilih pemimpin amanah yang bernaung dalam Daulah Khilafah? Dimana sistem Islam yang telah nyata membawa umat ke puncak kejayaan dan Khilafah yang pasti ajaran Islam yang telah dicontohkan oleh para Khulafaur Rasyidin serta telah terbukti mampu menguasai 2/3 dunia selama 13 abad. Kejayaannya pun pernah Indonesia rasakan, terutama orang-orang di wilayah Aceh dan Yogyakarta.
 Dengan demikian adanya Khilafah akan mampu menjaga kemurnian Al Quran hingga kata-kata kafir Tak akan ada  yang berani mencoba- coba untuk menggantinya dengan non muslim ataupun sebutan lainnya. Jelas, Alloh menyebut kafir seperti ayat ini.
Allah SWT berfirman:
الَّذِيْنَ يَتَرَ بَّصُوْنَ بِكُمْ  ۚ  فَاِنْ كَانَ لَـكُمْ فَتْحٌ مِّنَ اللّٰهِ قَالُـوْۤا اَلَمْ نَـكُنْ مَّعَكُمْ  ۖ  وَاِنْ كَانَ لِلْكٰفِرِيْنَ نَصِيْبٌ ۙ  قَالُـوْۤا اَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ   ۗ  فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ  ۗ  وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا
allaziina yatarobbashuuna bikum, fa ing kaana lakum fat-hum minallohi qooluuu a lam nakum ma’akum wa ing kaana lil-kaafiriina nashiibung qooluuu a lam nastahwiz ‘alaikum wa namna’kum minal-mu`miniin, fallohu yahkumu bainakum yaumal-qiyaamah, wa lay yaj’alallohu lil-kaafiriina ‘alal-mu`miniina sabiilaa
“(yaitu) orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu. Apabila kamu mendapat kemenangan dari Allah mereka berkata, Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu? Dan jika orang kafir mendapat bagian, mereka berkata, Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang mukmin? Maka Allah akan memberi putusan di antara kamu pada hari Kiamat. Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman.”(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 141)
Wahai kaum Muslim, kita butuh Khilafah untuk mencegah berkembangnya paham sekularisme, gerakan liberalisme yang telah terang-terangan membenci dan melawan Islam. Hanya Khilafah yang mampu menjaga Islam dan kaum muslim dari rongrongan kaum kuffar.
Wallahu A’lam Bishawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita