by

Tawati: Melindungi Anak Dari Tontonan Yang Merusak

Tawati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA Pada era 1990, merupakan awal kemunculan internet, akselerasi penyebaran pornografi dan pornoaksi semakin tinggi di seluruh dunia, termasuk negeri-negeri Muslim. Masyarakat sangat mudah mengakses situs-situs porno, mereka cukup duduk di depan komputer yang terhubung dengan jaringan internet, seluruh representasi pornografi, apakah berupa kata-kata vulgar yang membangkitkan nafsu syahwat, gambar-gambar berupa foto atau video porno, semuanya siap saji, ibarat sedang berada di sebuah restoran dengan berbagai menu spesial, tinggal memilih sesuai selera pengguna. Pada akhirnya, malapetaka pornografi dan pornoaksi tak bisa dielakkan lagi melanda kaum Muslimin bahkan umat manusia dari kalangan anak-anak.

Dilansir Viva.co.id (14/4/2019), polisi menyelidiki kasus belasan bocah di Garut yang diduga ketagihan seks menyimpang karena nonton video porno. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Garut, Jawa Barat, dikerahkan untuk mengungkap kasusnya. Belasan anak di bawah umur asal Kampung Cipeuteuy, Kelurahan Margawati, Kecamatan Garut Kota, mengalami ketagihan seks tak lazim. Mereka melakukan adegan syur layaknya penyuka sesama jenis setelah menonton video porno.

Penyebab utama kasus penyimpangan seks pada anak adalah penerapan sistem kehidupan yang rusak. Sistem sekularisme dan liberalisme menyuburkan kerusakan mental dan menghancurkan generasi secara massif. Tontonan yang merusak dibiarkan bebas. Sehingga anak-anak seolah dipaksa cepat dewasa dari waktunya. Usia masih dibawah umur tapi pemikiran dan perilaku sudah seperti orang dewasa.-

Tidak dapat kita pungkiri bahwa merajalelanya seks bebas, perkosaan atau pelecehan seksual lainnya, kekerasan dengan berbagai bentuknya, peredaran VCD porno dan bentuk pornografi dan pornoaksi lainnya, serta tindakan kriminal yang lainnya, merupakan buah yang harus dipetik ketika sekularisme liberalisme menguasai dan menjadi sistem kehidupan masyarakat. Sebuah sistem kehidupan yang memisahkan agama dari kehidupan, kebahagiaan diukur berdasarkan kepada manfaat atau kenikmatan jasadi dan materi semata. Penyaluran seks yang keliru, adalah hal yang wajar dilakukan, dengan alasan kebebasan berekspresi. Oleh karena itu seni dalam sekularisme dianggap bebas nilai, sehingga menafikan agama.

Di bawah pemerintahan sekular sebagaimana saat ini rakyat dibiarkan bertarung sendiri menghadapi kerusakan. Negara berlepas tangan. Rakyat yang miskin perlindungan iman diterjunkan untuk berperang melawan bombardir virus nilai-nilai merusak dan sajian intensif media yang mendorong kemaksiatan. Anak-anak generasi penerus dibiarkan rusak menjadi korban kerusakan media dan mendapatkan role model dari media yang penuh racun.
Berbeda dengan sistem Islam yang mampu melindungi generasi dari kerusakan media dan pergaulan bebas secara komprehensif. Negara mengatur mekanisme peredaran informasi di tengah masyarakat. Informasi yang dapat memunculkan gejolak seksual dan tindak kejahatan harus diberantas; termasuk di dalamnya adalah semua bentuk teori (ilmu) seperti sosiologi, psikologi, dan ilmu tentang isme-isme yang semuanya bertentangan dengan Islam.
Program media dilarang menayangkan hal-hal yang dilarang oleh Islam, seperti infotainmen ghibah, pemujaan terhadap materi, penonjolan hal-hal yang berbau seksualitas, tabarruj, serta siaran-siaran yang merendahkan akhlak manusia, dan lain sebagainya. Siapa saja yang membuat program-program siaran yang bertentangan dengan syariat dan akhlak Islam, akan dikenai sanksi ta’zir.
Media Islam memberikan santapan menyehatkan bagi pembentukan kepribadian generasi Islam, mendorong pembentukan fisik mereka karena Allah menyukai generasi yang kuat dibanding yang lemah fisiknya. Media Islam juga menghadirkan gambaran keteladanan generasi-generasi sukses dalam peradaban Islam sebagai role model. Karenanya tidak ada tontonan yang melenakan berupa film atau games yang membuat kecanduan. Juga terlarang muncul di media konten pornografi dan kekerasan baik dengan pelaku manusia/animasi. Tidak ada tokoh-tokoh khayalan dengan kekuatan super. 
Demikianlah peran hakiki media massa dalam Islam benar-benar mewujudkan fungsinya sebagai sarana informasi, edukasi, persuasi dan hak berekspresi publik dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar dan muhasabah lil hukkam. Inilah kebijakan media dalam Islam. Dengan kebijakan ini, anak akan terlindungi dari tontonan yang merusak dan pengaruh buruk media. Wallahu a’lam[].

Penulis adalah Anggota Muslimah Revowriter Majalengka

Comment

Rekomendasi Berita