Penulis: Desi Nurjanah, S.Pd. | Tenaga Pendidik
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Fenomena “freestyle” beberapa waktu terakhir ramai ditiru anak-anak usia dini hingga pelajar sekolah dasar. Aksi yang dianggap seru dan menantang itu menyebar cepat melalui media sosial serta gim daring. Di balik popularitasnya, tren tersebut justru menyisakan kekhawatiran besar bagi para orang tua.
Sebagaimana dilansir Kumparan.com (7/4/2026), dua anak TK dan SD di Lombok Timur meninggal dunia akibat cedera leher setelah meniru aksi “freestyle” yang viral di media sosial dan gim daring.
Aksi berbahaya itu diduga terinspirasi dari gim populer seperti Garena Free Fire yang menampilkan gerakan-gerakan ekstrem.
Peristiwa tersebut memunculkan berbagai respons dari kepolisian, sekolah, dinas pendidikan, psikolog anak, hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Mereka mengimbau orang tua agar lebih ketat mengawasi penggunaan ponsel, media sosial, dan tontonan anak. Namun, persoalan ini tentu tidak cukup diselesaikan hanya dengan imbauan, sebab nyawa anak-anak menjadi taruhan.
Anak Adalah Peniru Ulung
Anak-anak memiliki rasa ingin tahu tinggi, tetapi belum dibekali kemampuan berpikir matang untuk memilah mana yang aman dan mana yang membahayakan. Apa yang dianggap menarik akan dengan mudah ditiru tanpa mempertimbangkan risiko.
Aksi “freestyle” menjadi contoh nyata. Banyak anak langsung mempraktikkan gerakan yang mereka lihat tanpa memahami bahwa aksi tersebut membutuhkan latihan, pengawasan, dan kemampuan khusus.
Laman Metrotvnews.com (7/5/2026), melaporkan, psikolog anak dari Kancil, Evryanti Putri, menyebut tren freestyle dan handstand sebenarnya dapat memberi dampak positif jika diarahkan melalui pendampingan profesional. Bakat dan minat anak bahkan bisa berkembang menjadi prestasi.
Namun, tanpa pengawasan dan pelatih yang kompeten, aktivitas itu berisiko menyebabkan kecelakaan fisik hingga kematian.
Minimnya Kontrol Orang Tua
Pada dasarnya, setiap tontonan memiliki sisi positif dan negatif. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana pendampingan orang tua terhadap anak.
Minimnya kontrol membuat anak leluasa mengakses berbagai informasi, termasuk konten berbahaya dan tidak mendidik. Apa yang mereka lihat di media sosial kemudian dibawa ke lingkungan sekolah dan dipraktikkan bersama teman-temannya.
Akhirnya, anak lain yang sebelumnya tidak mengetahui tren tersebut ikut tertarik mencobanya hanya karena dianggap viral dan keren.
Di sinilah muncul persoalan besar dalam pola pikir generasi hari ini: apa pun yang sedang tren dianggap layak diikuti, tanpa mempertimbangkan manfaat maupun bahayanya.
Lemahnya Peran Lingkungan dan Negara
Pembentukan karakter anak sejatinya tidak hanya bergantung pada keluarga, tetapi juga lingkungan tempat mereka tumbuh. Sayangnya, kontrol sosial di tengah masyarakat mulai melemah.
Anak-anak dibiarkan bermain tanpa pengawasan, berekspresi tanpa batas, hingga perilaku yang semula dianggap tidak wajar perlahan menjadi hal biasa.
Di sisi lain, pembatasan akses terhadap konten digital juga belum berjalan efektif. Konten berbahaya terus bermunculan dan bahkan mudah viral.
Bukan hanya aksi ekstrem seperti “freestyle”, konten pornografi dan hiburan yang minim nilai edukasi pun masih mudah diakses anak-anak.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana generasi dapat tumbuh sehat jika ruang digital dan lingkungan sosial justru dipenuhi tontonan yang jauh dari nilai pendidikan?
Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam
Islam memandang anak sebagai amanah yang harus dijaga dan dididik dengan baik. Anak yang belum balig belum dibebani hukum syariat karena akalnya belum sempurna.
Karena itu, mereka membutuhkan bimbingan orang dewasa agar tumbuh dalam kebaikan.
Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga anak dari segala bentuk bahaya, termasuk tontonan dan perilaku yang tidak bermanfaat serta berpotensi fatal.
Rasulullah saw. bersabda:
أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا آدَابَهُمْ
Artinya: “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (HR Ibnu Majah).
Hadits tersebut menunjukkan pentingnya perhatian orang tua terhadap pembentukan akhlak, pola pikir, dan perilaku anak. Dalam Islam, pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik, tetapi juga pembinaan akidah dan akhlak.
Islam juga menempatkan pendidikan di atas tiga pilar utama, yakni keluarga, masyarakat, dan negara. Ketiganya harus berjalan selaras agar tercipta lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Peran Negara dalam Pendidikan Islam
Dalam pandangan Islam, negara bukan sekadar regulator pendidikan, melainkan penanggung jawab utama urusan rakyat, termasuk pendidikan generasi.
Rasulullah saw. bersabda: “Imam adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR al-Bukhari).
Karena itu, negara memiliki kewajiban menghadirkan sistem pendidikan yang menjaga akidah, akhlak, dan keselamatan generasi.
Negara wajib menjamin pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat, menyusun kurikulum berbasis akidah Islam, menyediakan sarana pendidikan yang layak, serta menggaji guru dari baitulmal agar fokus mendidik generasi.
Negara juga berkewajiban menjaga lingkungan pendidikan dari pemikiran dan konten yang merusak, termasuk pornografi, kekerasan, liberalisme, dan berbagai tayangan yang membahayakan anak-anak.
Dalam sejarah peradaban Islam, perhatian besar negara terhadap ilmu pengetahuan melahirkan banyak ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Jazari.
Fenomena “freestyle” yang menelan korban jiwa menjadi alarm serius bahwa pendidikan anak tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada media sosial dan lingkungan digital. Anak membutuhkan pendampingan, pengawasan, serta sistem pendidikan yang benar.
Islam memandang pendidikan sebagai tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan negara. Ketika ketiganya berjalan sesuai syariat, maka akan lahir generasi yang bertakwa, cerdas, dan memiliki kepribadian kuat.
Sebaliknya, ketika pendidikan dilepaskan dari nilai-nilai Islam, generasi akan tumbuh rapuh, mudah terpengaruh tren, dan rentan menjadi korban arus budaya yang merusak.
Wallahu a’lam bisshawab.[]














Comment