by

Ucie Siregar: Jalan Tengah dan Demokrasi, Konsep Yang Kabur Bagi Perdamaian Dunia

Uci Siregar, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Gagasan tentang “jalan tengah” dipercaya menjadi kunci perdamaian dalam peradaban manusia. Hal itu yang menjadi perbincangan dalam acara World Peace Forum (WPF) ke-7 yang diselenggarakan pada 14-16 Agustus 2018 di Hotel Sultan, Jakarta. (Kompas.com,16/8/2018)
WPF ke-7 tersebut menghasilkan enam komitmen peserta yang mewakili lebih dari 40 negara untuk merealisasikan jalan tengah dalam segala bidang kehidupan. Dan ini tercantum dalam draf pesan Jakarta. “Kami berkomitmen untuk bekerja sama mengarusutamakan Middle Path (Jalan Tengah) sebagai konsep yang membimbing peradaban dunia yang harus diimplementasikan dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial budaya,” kata utusan khusus Presiden RI untuk dialog dan kerja sama antar agama Din Syamsudin (AntaraNews,16/8/2018). 
Konsep jalan tengah yang dideklarasikan oleh Din Syamsuddin tersebut, patut untuk dikritisi. Apakah benar jalan tengah merupakan kunci bagi perdamaian dunia ataukah sebaliknya, jalan tengah justru menghasilkan keresahan yang berkepanjangan bagi peradaban manusia dan dunia ? 
Krisis yang dihadapi oleh dunia hari ini seperti kekurangan pangan, masalah energi, kemiskinan ekstrem dan sebagainya, semua ini merupakan permasalahan cabang yang akan terus berlangsung selama sumber masalahnya belum diatasi. Untuk mengatasinya bukanlah dengan menggunakan konsep jalan tengah. Karena jalan tengah pada faktanya bukanlah konsep yang jelas. Namun merupakan konsep kompromistik yang lahir dari ideologi kapitalisme yang rusak.
Adanya konflik berdarah yang sangat mengerikan di Eropa, yang terjadi antara kaum agamawan dan para raja di satu pihak, dengan para ilmuwan dan filosof di pihak lain. Para raja dan kaisar menunggangi kaum agamawan untuk melanggengkan kekuasaan mereka dengan cara menghisap darah dan mengeksploitasi masyarakat dengan mengatasnamakan agama, bahwa ini semua perintah agama. 
Para filosofpun menentang kebijakan tersebut, kemudian menginginkan agar agama dihilangkan secara total dari kehidupan. Segala yang berkaitan dengan agama tidak boleh dibawa-bawa dalam kehidupan baik urusan politik, ekonomi, sosial budaya dan sebagainya. Keadaan ini terus berlangsung hingga masuknya pihak ketiga untuk mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru, lalu mengusulkan sebuah solusi atas permasalahan tersebut yakni solusi jalan tengah (sekulerisme).
Jadi konsep jalan tengah merupakan konsep yang kabur dan menyesatkan, karena telah mengkompromikan berbagai sudut pandang yang ada tanpa membahas benar-tidaknya sudut pandang tersebut. Bagaimana krisis pangan bisa diatasi dengan jalan tengah? sementara pangan merupakan kebutuhan pokok bagi rakyat dimanapun berada. Begitu juga dengan masalah energi, bencana lingkungan dan sebagainya yang semua ini tidak bisa dikompromikan. Kompromi (jalan tengah) bukanlah kunci yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan krisis di dunia saat ini. 
Sementara permasalahan egosentrisme, primordialisme yang dianggap sebagai imbas dari krisis peradaban dunia yang mengakibatkan intoleransi, kekerasan, terorisme, ketidakadilan politik dan ketimpangan ekonomi, ini semua dianggap dalam forum WPF tersebut merupakan krisis yang akan melemahkan demokrasi.  Padahal jika ditelisik demokrasilah yang menyebabkan krisis peradaban dunia terjadi.
Negara-negara kapitalis telah memanfaatkan demokrasi untuk melabel negara-negara lain yang tidak sesuai dengan kepentingannya. Merekalah sebagai pengendali, penentu kebijakan setiap negara di dunia. Dengan mudahnya mereka melabelkan teroris, ekstremis dan sebagainya pada negara-negara lain, padahal sejatinya negara merekalah yang pantas untuk di labeli sebagai negara yang sangat intoleran dan teroris sesungguhnya. 
Belum lagi demokrasi memiliki standar ganda dalam menilai suatu peristiwa yang terjadi atas dunia Islam hari ini. Dengan standar ganda demokrasi, Amerika begitu lantangnya meneriakkan hak asasi manusia, dengan cara mencitraburukkan konsep Jihad. Jihad mereka pandang sebagai bentuk kekejaman, pembunuhan berdarah dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Sehingga jihad dipandang oleh negara-negara kapitalis sebagai monster yang menakutkan. Sementara di lain sisi, Amerika terus mendukung kekejaman Israel dalam membantai dan membombardir Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya. Sungguh hipokrit, bukan ?
Konyolnya masih banyak negara yang menggunakan sistem politik demokrasi untuk mengurusi negaranya. Padahal, tidak ada negara di dunia manapun yang bangkit secara hakiki dalam sistem demokrasi. Sekalipun negara tersebut terlihat maju dipandang dari sisi teknologi, militer ataupun ekonominya oleh negara-negara lain, pada akhirnya juga harus mengalami kebangkrutan. Utang terus menggunung, krisis moral terus terjadi di negara-negara yang menganutnya. Seolah terlihat besar, kuat dari luar, padahal di dalamnya keropos.
Selain itu demokrasi bukanlah sistem politik yang benar, karena lahir dari akal manusia yang terbatas. Tidak akan berpihak pada peradaban manusia secara keseluruhan. Hanya pada segelintir elite-elite penguasa dan kapitalis saja. Demokrasi meniscayakan kebebasan pada negara kapitalis manapun untuk mengeruk kekayaan negara lain dengan kekuatan modalnya.
Jadi jalan tengah ataupun sistem demokrasi yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan krisis peradaban dunia hanyalah gagasan sesat dari negara adidaya kapitalis (Amerika dan sekutunya) yang di adopsi oleh negara-negara pengikutnya untuk semakin mencengkram negara-negara lain agar tetap berada dibawah kendali kerakusannya.
Walhasil, krisis perdamaian dunia yang membelit setiap negara merupakan permasalahan cabang yang akan terus berlangsung selama sumber permasalahannya yaitu jalan tengah ataupun demokrasi tidak diganti. 
Maka sudah seharusnya bagi orang-orang yang beriman dan berakal mengganti konsep jalan tengah dan sistem demokrasi bathil ini dengan konsep yang haq (benar), yaitu konsep Islam dan sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Hanya dengan itulah segala permasalahan krisis peradaban dunia bisa terselesaikan dengan tuntas. Karena konsep Islam dan Khilafah adalah konsep yang diwahyukan Allah SWT yang paling tau apa yang terbaik dan terburuk bagi peradaban manusia dan dunia. 
Konsep yang memisahkan antara haq dan yang bathil. Menjelaskan hanya kebenaranlah yang layak untuk diambil dan dipegang kuat, sementara kebhatilan layak untuk dicampakkan dan dibuang dari peradaban manusia dan dunia. Sebagaimana Allah SWT telah menjelaskan dalam firmanNya, 


لآَإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(Al-Baqarah : 256)
Begitu juga dalam firmanNya yang lain, 

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (al-Isra’ : 18). Wallahu A’lam bisshawab.[]
Penulis adalah

Comment

Rekomendasi Berita