Ummu Aqeela: Ketika Perempuan Terbeli Oleh Materi Dan Popularitas

Berita1669 Views

ilustrasi
RADARINDONESIANEWS.COM,JAKARTA – 8 Maret adalah satu hari dimana dikukuhkan menjadi hari perempuan internasional. Menurut wikipedia, woman’day dibidani oleh demonstrasi pada tanggal 8 Maret 1917, yang dilakukan oleh para perempuan di Petrograd dan memicu terjadinya Revolusi Rusia. Hari Perempuan Internasional secara resmi dijadikan sebagai hari libur nasional di Soviet Rusia pada tahun 1917, dan dirayakan secara luas di negara sosialis maupun komunis. Hingga akhirnya pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional mulai diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia. (Wikipedia )
Ketika menelisik sejarah di atas, bisa dipahami bahwa perempuan saat ini adalah hasil yang lahir dari perempuan zaman dahulu, para perempuan yang kala itu memperjuangkan “hak”nya, yakni hak kesetaraan terhadap laki-laki, baik di dalam keluarga, pekerjaan ataupun kesetaraan di bidang politik.
Sejak saat itu mereka berlomba-lomba mengeksistensikan diri sebagai super woman yang masuk dalam bidang, intinya saat itu mindset bahwa perempuan hanya sebatas ibu rumah tangga sudah berubah total, perubahan pola pikir bahwa perempuan juga punya hak dan kesempatan menjadi seperti laki-laki. Miris memang ketika melihat begitu banyak perempuan yang beralih fungsi menjadi laki-laki, baik itu secara formal ataupun informal. Bahkan karena saking menjiwai peranannya tak sedikit pula yang merubah kodrat secara lahiriah entah laki-laki menjadi wanita ataupun sebaliknya. 
Semakin kesini perempuan jauh sekali dari kodratnya ditambah lagi dengan penerapan sistem kapitalis, yang seolah olah melegalkan apa-apa yang mereka perjuangkan. Padahal semenjak banyaknya perempuan yang menuntut hak kesetaraan ini kejahatan terhadap mereka tidak malah hilang tapi makin meningkat setiap tahunnya (sumber: Databoks berdasar rilis Badan Pusat Statistik).
Berdasar survei yang ada, perempuan di perkotaan dan perempuan dengan pendidikan tinggilah yang paling banyak mengalami tindak kekerasan. Ini membuktikan jika dalam hal materi dan tingkat sosial perempuan berada diatas laki-laki, maka sifat alamiah sombong dan berhitung dalam diri wanita akan muncul. 
Rasa percaya diri yang tinggi karena merasa bisa mengalahkan laki-lakilah yang kadang menjadi pemicu sebuah konflik entah dalam rumah tangga ataupun dalam kehidupan sosialnya. Terjunnya perempuan ke ranah publik tanpa didukung sistem yang kondusif, menjadikan para perempuan sebagai obyek industri, dengan mengeksploitasi bentuk tubuh yang dalam Islam harus ditutupi. Bahkan media massa pun seolah semakin membuat stigma bahwa perempuan adalah barang seni yang indah dan rugi jika tidak ditampilkan di khalayak ramai. Dan parahnya lagi tidak sedikit pula perempuan yang tergiur untuk mengeksploitasi dirinya dengan embel-embel popularitas ataupun materi.
Jargon “AURAT GUE BUKAN URUSAN ELO” seolah digaungkan dengan dalih HAM, bahwa apapun yang mereka lakukan dengan tubuh dan pikiran mereka adalah hak asasi. Mereka seakan lupa bahwa sesungguhnya mereka tidak punya otoritas atas tubuh mereka. Mereka hanya punya kewajiban untuk menjaganya sesuai aturan sang Pencipta, apalagi mempergunakan untuk hal-hal yang bertentangan dengan aturanNya.
Dalam Islam sendiri kedudukan wanita sangatlah dimuliakan. Salah satunya adalah perintah behijab (surah Al Ahzab : 59) dari situ kita akan tahu begitu menjaganya Islam terhadap wanita, kewajiban berhijab bukan hanya melindungi mereka dari pandangan syahwat laki-laki tapi juga sebagai indentitas diri. Hijab adalah tameng utama seorang wanita, dengan berhijab kita tangguhkan satu pintu dosa sebagai penggoda mata kaum pria.
Mau mulia atau tidak, itu semua pilihan yang kelak akan dipertanggung jawabkan. Seharusnya mulai dari sekarang kita tersadar, dari rahim dan tangan kitalah lahir sebuah peradaban. Yang InsyaAlloh adalah bibit-bibit yang ber-Akhlaqul Karimah. Kembali ke fitrah sebagai wanita dengan berlandaskan aturan yang ada yaitu Al Quran dan Sunnah. Karena tak ada satupun memuliakan kita melebihi diriNYA. Wallahu a’lam bi ash showab.

Comment