by

Ummu Dzakiyah: Caleg Gagal Lalu Gila Wajarkah?

Ummu Dzakiyah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kita ingat adagium Arab  yang mengatakan, “rakyat tergantung agama rajanya”. Secara tidak langsung, adagium itu mengatakan bahwa sebuah komunitas akan baik jika pemimpinnya baik, akan jelek jika pemimpinnya jelek. Tentu, ketergantungan rakyat kepada pemimpin mencakup segala hal. Kesejahteraan dunia dan kebaikan agama.
Adanya pemimpin adalah sebuah keniscayaan. Sunnatullah yang tidak bisa dihindarkan. Di mana ada sebuah komunitas, di situlah pasti ada pemimpin. Baik diangkat secara resmi atau terangkat secara alami. Namun, masalah kepemipinan tidak sesederhana itu. Pemimpin adalah sosok pilihan yang akan bertanggung jawab pada semua anggotanya. Baik dan tidaknya sebuah komonitas, tergantung pemangku kendali. Dengan kata lain, pemimpin adalah sentral dalam kemajuan kelompok.
Tak heran jika Rasulullah saw. pernah mengatakan, “Jika sebuah urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR. Imam Bukhari). Hadis ini bisa diartikan bahwa jika kepemimpinan disrahkan kepada orang yang tidak pantas menjadi pemimpin, hancurlah orang-orang yang dipimpinnya.
Namun di negara kita tercinta ini, setelah adanya pemilu 2019 pada 17 April lalu belum ada pengumuman pasti  saja sudah ada beberapa yang dinyatakan stress dan bahkan gila. Apakan ini sesuatu yang bisa dikatakan wajar? 
Seperti yang dilansir dalam berita media Merdeka.Com , Senin 22/4/2019 “Sekarang saja sudah ada lima caleg yang ke sini dan biasanya ketika hasil rekapitulasi suara di KPU selesai bisa lebih banyak,” kata pimpinan Yayasan Al-Busthomi Cirebon HM Ujang Bustomi. 
Dalam waktu lima hari setelah adanya pemilu sudah ada 5 orang masuk pondok rehabilitasi untuk caleg gila. Dan itu pada satu daerah saja. Saya lihat juga vidio dari caleg perempuan yang berparas cantik, telanjang bulat lari menyusuri jalan raya, ada juga caleg gagal yang stress dalam keseharian teriak-teriak ngumbar janji ketika nanti akan terpilih. Bahkan ada caleg gila yang memeluk kardus kemanapun dia pergi, Sungguh miris wajah Demokrasi Indonesia. 
Dan bisa kita bayangkan jadi seperti apa negara ini jika dipimpin orang-orang seperti itu? Kadang naluri mengatakan wajar calegnya yang gagal pada gila karena prosesnya juga bersama orang gila, yang milih orang gila pula.
Namun sebagai orang yang waras kita harus memperhatikan, menganalisa mengapa hal itu bisa terjadi? Karena apa? Solusinya bagaimana? Tidak hanya menonton dan menyoraki bagi yang tidak suka dan hanya prihatin bagi keluarganya. 
ketika kita telisik lebih dalam pada Islam, maka orang baik harus menjadi pemimpin, tapi tidak boleh cinta dan bernafsu untuk dijadikan pemimpin. Sederhananya orang baikpun tidak boleh gila jabatan. Hal ini sudah dicontohkan oleh para pemimpin Islam terdahulu. Contohnya, Umar bin ‘Abdul Aziz. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah (pemimpin umat Islam), beliau menangis dan mengatakan ‘Innalillahi wa Innalillahi raji’un’. Bukan ‘Alhamdulillah’. Sebab menurut beliau, menjadi pemimpin adalah musibah. Bukan nikmat. Akan tetapi, tanggung jawab beliau pada tugasnya tidak diragukan lagi. Dalam waktu dua tahun beliau sudah bisa memperbaiki negara. Beliau sosok pemimpin yangn baik dan adil. Lihat kisahnya, karena keadilan beliau, kambing dan serigala menjadi berteman.
Oleh Karena itu, pemimpin muslim harus mencontoh pemimpin-pemimpin terdahulu dimasa kejayaan Islam. Tidak cinta jabatan, tapi kalau diberi tanggung jawab maka akan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah saw. juga bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin. Seorang suami pemimpin keluarganya. Seorang istri pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya. Maka setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Muttafaq Alaih).
Menurut Imam Nawawi dalam kitabnya, al-Minhâj Syarh Sahîh Muslim bin al-Hujjâj, bahwa pemimpin harus adil. Harus melaksanakan tugas untuk kebaikan yang dipimpinnya. Baik yang berikaitan dengan dunia atau akhirat.
Imam Ibnu Bathal juga mengatakan bahwa setiap orang yang mendapatkan amanah (menjadi pemimpin) harus mengerahkan kemampuan untuk menjaga amanah itu. Sebab, kelak akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang ada dalam amanahnya. 
Dengan demikian, pemimpin yang tidak amanah adalah berdosa. Pemimpin yang tidak bertanggung jawab juga berdosa. Jika ada satu orang saja tidak baik, maka pemimpin kelak yang akan ditanya. Jika ada satu orang saja terlantar, tidak mendapatkan apa yang harus dia dapatkan, maka pemimpin yang akan mempetanggung jawabkannya di hadapan Allah.
Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda, “Seseorang yang dijadikan pemimpin, tapi tidak menjalankannya dengan baik, maka dia tidak akan mencium harumnya surga.” (HR. Imam Bukhari).
Begitu ngeri ancaman Allah bagi orang yang mengimaninya. Berbeda jauh dengan di dalam sistem demokrasi ini yang menginginkan jabatan sebagai jembatan untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya. Dan rela untuk bisa memperoleh jabatan dengan mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya. 
Jadi bisa dikatakan wajar jika dalam sistem demokrasi kapitalis ini akan ada banyak caleg gagal yang gila karena tujuan awal untuk meraih kekuasaan sudah salah. Untuk meraih sudah mengeluarkan harta banyak, untuk timsesnya, untuk balihonya, untuk kampanye, bahkan untuk dukun politiknya. Dan ahirnya harta yang di inginkan tidak kembali. 
Maka dari itu mari kita kembali perjuangkan sistem Islam yang di dalamnya hanya orang-orang yang amanah yang berani menanggung pertanggungjawaban yang besar dan berat untuk memimpin rakyat. Pemimpin Islam yang takutnya karena Allah dalam memimpin umat sehingga tidak berani mengambil uang sepeserpun dari harta yang bukan menjadi haknya. []

Penulis adalah ibu rumah tangga Sarjana Hukum Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya serta aktif sebagsi pengasuh keputrian ponpes Al Amri Probolinggo.

Comment

Rekomendasi Berita