by

Ummu Syilmi*: Petani, Sang Pahlawan Pangan Itu, Jangan Terlupakan

-Opini-30 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Penyediaan bahan kebutuhan pokok di tanah air menjadi tantangan yang perlu diperhatikan di tengah pandemi virus corona atau COVID-19 saat ini.

Pertanian menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan di saat semua sektor terpukul pandemi. Pertanian justru mengalami peningkatan. Para petani yang tergabung dalam Kelompok tani Wargisaluyu II yang berada di RW 03 Desa Sumbersari Kecamatan Ciparay berhasil memanen ubinan padi bebas residu seluas 25 hektar, Senin (31/8/2020).

Panen padi ubinan yang sehat dan bebas residu ini menghasilkan gabah 11 ton per hektarenya. (distan.kabbandung.go.id)

Kepala Perwakilan BI Jawa Barat, Herawanto mengatakan,
Saat ini sektor yang masih bagus adalah potensi sektor pertanian Kabupaten Bandung. Ini perlu terus dikembangkan, termasuk kopi, bawang merah, hortikultura, strawberry dan jeruk lemon, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Selain itu, peternakan ikan dan domba berpotensi untuk dikembangkan dengan konsep digital integrated farming.

Pengembangan sektor pertanian menurutnya akan mendukung terkendalinya inflasi melalui ketersediaan pasokan pangan.(TribunJabar.id 10/09/2020)

Secara kuartal ke kuartal, pertanian meningkat lebih besar, yakni 45,86 persen. Kondisi tersebut, menunjukan bahwa pertanian merupakan sektor andalan Jawa Barat dalam pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Ekonomi Jabar yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jabar, Setiawan Wangsaatmaja menyebutkan, sektor pertanian dapat mendongkrak ekonomi Jabar pada kuartal ketiga dan keempat. (bisnis.com 13/08/2020).

Pertanian menjadi penyumbang ketiga terbesar setelah Industri pengolahan dan perdagangan terhadap PDRB Kabupaten Bandung.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tisna Umaran seperti dilansir ayobandung.com (11/9/2020) mengatakan, sumbangan pertanian terhadap PDRB Kabupaten Bandung mencapai 9% pada 2019.

Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu.

Oleh karena perannya sebagai salah satu indikator utama dalam perekonomian, hal tersebut membuat PDRB ini secara otomatis memegang peran penting.

Pertumbuhan dan peningkatan PDRB
dari tahun ke tahun merupakan indikator dari keberhasilan pembangunan daerah. Sektor- sektor ekonomi yang membentuk PDRB salah satunya yaitu pertanian.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, sekitar 33.4 juta penduduk berprofesi sebagai petani. Akan tetapi terjadi penurunan jumlah petani setiap tahunnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah petani milenial yang umurnya 19-39 tahun itu terus menurun, untuk contoh seperti tahun 2017 ke tahun 2018 ada penurunan kurang lebih 415 ribu petani.

Hal ini diakibatkan antara lain oleh semakin sempit serta berkurangnya lahan pertanian karena alih fungsi lahan untuk pembangunan infrastruktur, industri, dan pemukiman.

Selain penurunan jumlah petani, pertanian di Indonesia di hadapkan pada permasalahan nilai daya saing hasil produk pertanian yang semakin terpuruk, apalagi dengan masuknya produk hasil pertanian impor.

Keberadaan petani sangatlah menjadi penentu keberhasilan pertanian. Eksistensi mereka sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah. Bukankah kita masih ingat bahwa Indonesia sebagai negeri agraris? Mereka tak patut untuk dilupakan.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebaiknya tidak diberlakukan secara sama untuk semua aktivitas perekonomian lebih khusus terhadap sektor pertanian. Hal ini dikarenakan :

Pertama, dari sudut pandang urgensi, pertanian adalah sektor penopang ketahanan pangan (food security) yang akan krusial di kala krisis ekonomi. Ini bukan hanya sebatas bertahan hidup tapi juga masalah asupan gizi masyarakat. Krisis moneter 1997/98 meninggalkan generasi yang mengalami stunting dan malnutrition yang cukup parah di kalangan anak-anak. Hal ini mengakibatkan dampak permanen.

Ada dua pertimbangan ekstra yang membuat urgensi sektor pertanian lebih tinggi.

Kedua, selain sebagai bagian penting dari sistem penyediaan pangan, di saat krisis ternyata sektor pertanian bisa menjadi jaring pengaman sosial (sosial safety net) alamiah.

Sektor pertanian, di kala normal pun, masih merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia, apa lagi ketika terjadi krisis ekonomi.

Pertanian Dalam Islam

Sistem pertanian begitu sempurna diatur oleh Islam, semata mata hadir untuk kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan korporasi. Hal ini tersirat jelas dalam firman Allah Ta’ala yang memerintahkan para hamba-Nya untuk berusaha di muka bumi, makan darinya, dan menikmati rezeki yang datang darinya (hasil bumi).

Allah Ta’ala berfirman: “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” [Quran Al-Mulk: 15]

Allah Ta’ala juga menjelaskan tentang manfaat pertanian di banyak ayat.
Di antaranya firman-Nya : “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? [Quran Yasin: 33-35].

Maka sudah semestinya, pemerintah daerah maupun pusat dalam hal ini Kementrian Pertanian memberikan perhatian khusus demi menyelamatkan kondisi pangan di negeri ini, memaksimalkan potensi alam dan petani dalam negeri, tidak lagi impor pangan sehingga mematikan nafas hidup pertanian dan nasib petani di Indonesia.

Kegemilangan dan kedaulatan sebuah negeri dikuatkan dengan swasembada pangan negeri itu sendiri tanpa tergantung pihak asing. Negeri ini mampu dan sangat layak untuk itu. Maka jangan lupakan, pahlawan pangan. Wallahua’lam bishowwab.[]

*Ibu Rumah Tangga-Owner Syilmi Hijab

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 3 =

Rekomendasi Berita