by

Uthie Siti Solihah S.Pd: Gugurnya Para Pengawal Surat Suara

Uthie Siti Solihah S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pesta demokrasi yang digelar 17 April lalu kini tengah menyisakan duka. Pasalnya diketahui banyak petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPSS) dari berbagai daerah yang meninggal dunia saat menjalankan tugas Pemilu 2019. Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus memperbarui data petugas KPPS yang gugur. Hingga Selasa (29/4/2019) sore, total terdapat 119 orang petugas KPPS dilaporkan meninggal dunia dari 667 orang yang sebelumnya mengalami musibah sakit dan kecelakaan (Liputan6.com, 23/04/2019).
Berita duka ini lantas mendapat simpatik dari berbagai lapisan masyarakat. Termasuk dari  warga net Twitter. Mereka bersama-sama mengicaukan tagar #PahlawanPemilu dan #IndonesiaElectionHeroes hingga menjadi trending topic.
Adapun respon yang datang dari Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid menilai pelaksanaan pemilu kali ini adalah yang terburuk selama masa reformasi. Alasannya banyak permasalahan yang terjadi, mulai dari persiapan yang kurang matang hingga pelaksanaan pemilu (Liputan6.com, 3/4/2019).
Indikasi Kematian
Diketahui beberapa penyebab yang menjadi jalan para petugas yang wafat ini diantaranya :
Pertama, kondisi fisik yang lemah. Hal ini disebabkan kurangnya waktu istirahat. Sedangkan waktu mereka tersita untuk mempersiapkan Tempat Pemungutan Suara atau TPS menjelang hari pencoblosan. Ditambah tugas utama mengawal Pemilu pada hari H. Dan setelah itu harus melakukan penghitungan suara. Mereka hanya punya waktu untuk istirahat makan dan sholat. Itupun dilakukan secara bergantian. Kemudian tidak disediakan nya penanganan medis baik untuk anggota KPPS atau aparat. Setelah jatuh korban meninggal. Baru di beberapa daerah disiapkan tim medis untuk mengawal mereka.
Kedua, beban kerja yang berat. Tidak seimbangnya antara tugas di lapangan dengan waktu kerja. Terutama tugas untuk menghitung hasil  suara yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Memakan waktu yang cukup lama hingga 2×24 jam bahkan lebih. Beban kerja ini juga tidak  disesuaikan dengan usia anggota, semua anggota KPPS baik yang masih muda atau yang sudah lanjut usia diberikan beban kerja yang sama.  Sehingga kebanyakan yang sudah berusia di atas 50 harus tumbang, banyak juga yang pingsan dan dirawat di Rumah Sakit  hingga akhirnya meninggal.
Ketiga, dampak psikis berupa tanggung jawab dan amanah yang harus segera dibereskan. Tugas negara yang diamanahkan kepada anggota KPPS berdampak juga pada psikis mereka. Apalagi kepada ketua KPPS. Jika terjadi selisih surat suara membuatnya risau hingga terfokus kepada pekerjaan yang segera harus beres dan melakukan laporan yang penuh kepada pengawas. Ditambah adanya tekanan dari berbagai pihak membuatnya semakin gusar. Padahal honor yang mereka terima dirasa belum sepadan dengan tugas yang diberikan. 550 ribu untuk ketua KPPS dan 500 ribu untuk anggotanya. Masih jauh dari cukup bukan?
Kesimpulan dari apa yang menjadi indikasi meninggalnya anggota KPPS adalah kelelahan. Kelelahan yang membawa mereka menemui ajalnya. 
Seiring dengan telah dimakamkannya jenazah para anggota KPPS yang wafat di daerahnya masing-masing. Pihak KPU dan Kementrian Keuangan sedang menggodok tunjangan kematian yang diperuntukkan untuk keluarga korban yang meninggal, juga anggota KPPS yang terkena kecelakaan serta yang masih dirawat. Mengingat tidak ada nya pengalokasian dana khusus untuk kesehatan para anggota KPPS sebelumnya dalam pelaksanaan Pemilu 2019 ini, maka masih dipikirkan akan diambil dari pos mana dengan jumlah kisaran 16 sampai 30 juta per orang. 
.
Pemilu Hanya Sarana 
Dalam pandangan Islam Pemilu hanyalah uslub atau cara yang digunakan untuk memilih seorang pemimpin. Namun tidak menjadi hal yang baku untuk dilakukan. Hal ini bisa saja dilakukan bisa juga tidak sesuai kondisi yang ada.
Tidak seperti sistem sekarang yang mengadakan Pemilu setiap lima tahun sekali untuk berganti kepemimpinan, dengan penggelontoran dana triliunan rupiah. Pemerintahan dibawah naungan Islam, mempunyai kebijakan selama pemimpin yang disebut Khalifah itu masih mampu dan amanah memegang kursi kepemimpinan dengan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Maka Ia masih berhak menjabat sebagai pemimpin pemerintahan dalam wilayah kekuasaan Islam.
.
Islam pun mengatur perihal kesehatan umat. Termasuk di dalamnya Jaminan Kesehatan Sosial yang merupakan tanggung jawab negara. Tidak boleh ditanggungkan kepada masyarakat. Maka jika rakyat membutuhkan perawatan medis apalagi dalam melaksanakan tugas negara. Maka otomatis negara akan memenuhinya secara cuma cuma.
.
Sehingga, walaupun berpulangnya para anggota KPPS ini sudah merupakan takdir dari Allah. Artinya sudah saatnya mereka wafat dan kembali ke Allah. Namun jika jalan menuju meninggalnya disebabkan oleh kelelahan menjalankan tugas pada Pemilu. Alangkah bijaknya jika semua pihak mengevaluasi pelaksanaan Pemilu ini dengan kembali kepada aturan Allah yang sempurna. Yang dapat mempersiapkan umat kembali kepada Allah dengan cara yang diidamkan yaitu kematian yang husnul khatimah. Wallahualam Bishowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita