by

Verawati S.Pd: Islamophobia Kapan Berakhir?

Verawati S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Innalilahi wa innailaihi rojiuun, turut berdukacita atas tragedi berdarah yang menimpa saudara-saudara muslim di Selandia Baru. Tepatnya pada hari Jumat tanggal 15 Maret 2019 lalu. Kurang lebih 50 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Semoga Allah memberikan tempat yang layak bagi para syuhada.  
Apa yang menimpa saudara kita di Selandia Baru tentunya bukan hal yang baru. Lagi dan lagi nyawa umat Islam begitu murah. Rasanya sesak dan sempit bumi ini untuk umat Islam. Di Uihgur, Myanmar Palestin dan negeri-negeri  lainnya nyawa umat Islam terus berguguran. Sampai kapan hal ini terus terjadi? Jawabannya akan terus terjadi selama umat Islam tidak memiliki perisai yaitu Khilafah. Umat Islam akan terus dibantai selama Islamophobia menjadi alat untuk memerangi Islam dan Khilafahlah yang akan mengobati virus Islamophobia tersebut.
Kejadian di Selandia Baru yang dilakukan oleh teroris Brenton Tarrant di sebabkan oleh Islamophobia. Sekaligus bukti nyata bahwa Islamophobia di Barat dan negara-negara lainnya terus menjadi ancaman. Sebagaimana pernyataan Imam Masjid Al Noor Gamal Fouda saat  memimpin Shalat Jumat pada 22 Maret 2019 yang dilansir oleh Serambinews.com “Dia menargetkan secara tidak manusiawi dan takut kepada Muslim secara tidak masuk akal. Takut kepada pakaian kita, makanan yang kita makan, cara kita berdoa, dan cara kita mempraktikan iman kita “.
Menurut Wikipedia Islamophobia adalah istilah kontroversial  yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Pada tahun 1997, Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan Islamphobia sebagai “rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua muslim,” dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa. Didalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama.
Penyakit  Islamophobia ini ternyata bukanlah hal baru. Penyakit  ini sudah berpuluh-puluh tahun menjangkit  Barat dan lebih terlihat jelas setelah peristiwa serangan 11 Sepetember 2001.  Barat mempunyai  prasangka-prasangka yang buruk terhadap Islam. Prasangka –prasangka ini lebih  dihasilkan oleh doktrin – doktrin yang buruk  dan sesat terhadap Islam. Barat mengangkap bahwa Islam itu kejam, Islam intoleran, Islam kuno, Islam radikal bahkan Islam dituduh sebagai teroris.
Hal lain yang  semakin takutnya Barat terhadap Islam adalah keyakinan mereka sendiri terhadap Islam dan juga fakta kehancuran kapitalisme yang tengah dihadapi. Barat begitu yakin bahwa Islam akan memimpin dunia dengan tegaknya Khilafah. Sekaligus kenyataan yang dialami Barat bahwa mereka tengah diambang kehancuran. Rusaknya tatana masyarakat, mulai dari individu keluarga, masyarakat dan negara. Lihat saja, angka kelahiran sangat kurang, setiap tahun terus menurun. Paham kebebasan membuat para wanita enggan menikah dan punya anak.  Ditambah angka perceraian semakin tinggi. Sehingga tak perlu dipunahkan, dengan paham yang dianutnya, merekai akan punah sendiri karena tidak ada generasi baru. 
Di sisi lain mereka juga iri terhadapa para Imigran muslim yang tinggal di Barat. Jumlah Imigran Muslim terus bertambah dan laju pertambahan pemeluk Islam pun terus meningkat.  Sebagaimana diungkapkan oleh Senator Queensland Australia, Fraser Anning. Anning menuding penyebab tragedi penembakan massal adalah program imigrasi yang memungkinkan kaum fanatik Muslim bermigrasi ke negara tersebut.  Tentu pernyataan Anning ini tak mendasar, lagi-lagi ini adalah tuduhan yang sesat dan menyesatkan serta merendahkan umat Islam. 
Inilah bahaya dari racun Islamophobia. Barat akan terus menebarkan racun  ini sebagai alat untuk menghentikan kebangkita Islam. Tak hanya di Barat, di negeri-negeri lainnya termasuk di Indonesia paham ini terus dihembuskan. Dengan cara mengkotak-kotakan Islam, Islam moderat, Islam fundamentalis, radikalis. Kemudian mereka juga berusaha mengkriminalisasi  ajaran Islam dan ulamanya.  Seperti pelarangan ceramah yang dialami oleh beberapa ustadz dan juga pelarangan pemakaian jilbab, niqib ( cadar ), azan dan  terakhir mereka ganti istilah kafir dengan non-muslim.
Khilafah Pengobat Islamophobia dan Pelindung Umat
Tak ada yang bisa menghilangkan racun Islamophobia kecuali khilafah. Khilafah akan mengobati dan menghilangkan racun yang dirasakan Barat sekaligus akan menebarkan cahaya kebaikan Islam.  Islam sebagai cahaya. Rasulullah ﷺ bersabda,
 “ Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)
Pemimpin seperti yang digambarkan dalam hadis di atas adalah pemimpin umat Islam yang mengikuti metode Rasulullah. Yaitu seorang Khalifah yang memimpin negara kesatuan umat Islam seluruh dunia dalam bentuk Khilafah. Hanya dengan Khilafah, seluruh permasalahan yang menimpa umat Islam sedunia bisa teratasi. Karena sumber kekacauan dan ketidakadilan atas kaum muslim adalah tidak diterapkannya hukum Allah. 
Sehingga jelas, kebutuhan umat akan pemimpin yang menerapkan hukum-hukum Islam sangatlah mendesak. Umat tak bisa menunggu lebih lama lagi. Karena tanpa Khilafah, umat Islam tercerai-berai. Mudah diadudomba dan dihancurkan oleh para penjajah. Kemuliaan Islam hanya akan tampak jika hukum-hukum Allah diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Hal ini hanya bisa dilakukan dalam sebuah negara yang menganut sistem Khilafah. 
Selanjutnya khilafah akan berdakwah, menyampaikan cahaya Islam keseluruh penjuru dunia. Sehingga cahaya Islam bisa dirasakan oleh penduduk bumi termasuk  Barat. Dengan kekuatan yang dimiliki, Khilafah akan mengirimkan utusan atau jihad memerangi siapa saja yang menghalangi sampainya Islam. Inilah yang akan membuat Islam dan umatnya mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat. Wallahu a’lambi showab.[]

Comment

Rekomendasi Berita