by

Zulaika: Dua Gelar Mulia Seorang Ibu

Zulaika
RADARINDONESIANEW.COM, JAKARTA – Seperti cendawan di musim hujan. Seperti itulah perempuan saat ini  yang banyak bermunculan sebagai wanita karir. Fenomena ini pula yang digembar-gemborkan oleh kaum feminis untuk mendapatkan kesetaraan gender dengan kaum lelaki. Hal ini pulalah yang menyebabkan para ibu rela meninggalkan anak-anak mereka di rumah entah dengan pengasuh atau dengan kakek nenek mereka.
Zaman milenial sekarang ini, menjadi wanita karir adalah hal yang lumrah bahkan boleh jadi sebuah kebutuhan. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi perempuan lebih memilih menjadi wanita karir, diantaranya adalah yang pertama: Memiliki gelar tinggi. Umumnya mereka yang memilih menjadi wanita karir memiliki gelar tinggi, maka sayang jika gelar tersebut tidak mereka gunakan untuk bekerja alih-alih menjadi ibu rumah tangga. Kedua: Tidak ingin dicemooh tetangga. Alasan ini berkaitan dengan alasan sebelumnya. Saat mereka sudah bersusah payah kuliah dan lulus dengan menghabiskan dana yang tidak sedikit, tentu mereka harus menjadi seorang wanita karir dengan penghasilan tinggi. Ini pula lah harapan terbesar orangtua ketika menyekolahkan anaknya hingga jenjang tertinggi. Ketiga: Menaikkan status sosial. Dilihat dari penilaian sosial di masyarakat, seorang wanita karir lebih baik daripada seorang ibu rumah tangga apalagi bila wanita karir ini mendapatkan jabatan yang tinggi.
Selain alasan di atas, perempuan memilih menjadi wanita karir juga karena alasan ekonomi. Membumbungnya harga setiap kebutuhan pokok, makin tidak terjangkaunya biaya pendidikan dan kesehatan, makin berkurangnya lapangan kerja bagi para lelaki, persoalan ekonomi lainnya, mendorong perempuan terutama kaum ibu menjadi wanita karir bahkan tidak jarang menjadi tulang punggung keluarganya. Karena kebutuhan mendesak itulah, seringkali mereka terpaksa meninggalkan anak-anak mereka di rumah.
Sebenarnya hukum asal perempuan bekerja dalam Islam adalah mubah. Selama tidak melalaikan perannya sebagai seorang ibu dan istri di rumah. 
Terkait peran perempuan dalam perubahan, maka Islam memberikan peluang yang sangat besar bagi perempuan untuk berkontribusi aktif  di tengah masyarakat, dengan tetap menjunjung tinggi kemuliaan mereka.  Dalam Islam, secara garis besar peran hakiki perempuan terdapat pada dua ranah yaitu, ranah domestik (keluarga/rumah tangga) dan ranah publik. Peran utama perempuan untuk mengubah kondisi umat ialah sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) dan ummu ajyal (ibu generasi).
Sesungguhnya peran sebagai ummu wa rabbatul bait tidak dapat dipandang sebelah mata, bahkan dijadikan stereotip bagi kaum hawa. Mengapa demikian? Sebab, hakikatnya yang menentukan kualitas generasi penerus bangsa tidak lain adalah seorang ibu yang menjalankan perannya sebagai almadrasatul ‘ula (sekolah pertama dan utama), di ranah publik, seorang muslimah bukan berarti tidak dapat beraktivitas secara optimal dan produktif. Islam pun mewajibkan bagi kaum muslimin, baik laki-laki dan perempuan untuk menjadi seseorang yang berpikir politis dan melakukan berbagai aktivitas politik. Politik di sini bukan dari sudut pandang kacamata demokrasi, dimana politik identik dengan kekuasaan dengan jalan meraih kekuasaan untuk meraup keuntungan materi semata. Akan tetapi politik di sini maksudnya politik dalam Islam yaitu riayatus su’unil ummah (mengurusi urusan masyarakat). 
Oleh sebab itu, aktivitas yang dapat dilakukan seorang muslimah untuk berperan dalam mengubah kondisi masyarakatnya ialah senantiasa melakukan dakwah untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar ditengah masyarakat. Dakwah pun tidak sembarang dakwah, akan tetapi dakwah dalam rangka mencerdaskan masyarakat untuk berjuang bersama dalam menyongsong terbitnya cahaya Islam yang akan menyinari gelap dan kelamnya dunia yang berada di bawah peradaban kufur kapitalis demokrasi menuju kegemilangan kehidupan di bawah naungan Khilafah ‘ala Minhaj An nubuwwah. Wallahu a’lam bi ash showab.[]
Penulis adalah seorang ibu rumah tangga

Comment

Rekomendasi Berita