by

Wida Widiawati: Takut Kepada Allah Karakter Penting Seorang Penguasa

Wida Widiawat
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Kita ingin negara ini semakin baik dan saya akan pergunakan seluruh tenaga yang saya miliki, kewenangan yang saya miliki. Tidak ada yang saya takuti untuk kepentingan nasional, rakyat, bangsa negara. Tidak ada yang saya takuti kecuali Allah SWT untuk Indonesia maju,”
(sinarharapan.co)
Mengutip pernyataan orang nomor satu di negeri ini, dengan sangat tegas dan lugas mengungkapkan hal yang bisa saja  membuat telinga dan hati jadi lega rasanya terutama bagi yang mendengarnya.
Itu adalah pernyataan pamungkas saat penutupan debat Capres kedua Minggu lalu. Menjadi ungkapan yang terngiang-ngiang di telinga rakyat Indonesia.
Tentu rasa takut terhadap Tuhan atau Sang Pencipta adalah hal yang terpuji dan mulia di mata agama terutama agama Islam. Siapa pun itu, mau dia seorang pedagang, suami atau istri, anak ataupun orang tua, ulama, penguasa,   status apapun itu, berapapun usianya, ketika memiliki rasa takut terhadap Allah atau Sang Pencipta, maka itu di nilai sebagai akhlak yang terpuji. 
Kenapa? Karena rasa takut terhadap Allah adalah satu hal yang akan menjaga dirinya untuk tidak bermaksiat kepada-Nya. Seperti halnya benteng, ketika rasa takut ini benar-benar melekat pada diri dan hati seorang muslim maka akan benar-benar menjaga agar tidak mengotori dirinya dengan menentang syariah-Nya. Secara tidak langsung rasa takut ini akan mendorong dan menghindari apa-apa yang akan mengundang Murka dan azab-Nya. Akan berusaha taat terhadap perintah-Nya dan menjauhi apa yang telah di larang-Nya. 
Terlebih pada sosok seorang pemimpin, maka rasa takut terhadap Allah  sangat penting sekali menjadi bagian dari  karakter yang melekat dalam kepemimpinanya, karena rasa takut ini akan mendorong nya untuk bertanggung jawab dalam mengurusi urusan rakyatnya, dan akan memunculkan rasa khawatir, gemetar dan takut jika kepemimpinan nya tidak sesuai dengan tugas dan tanggung jawab nya.
Seperti halnya sosok Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu dalam menyikapi tentang jalan berlubang di Irak. Amirul mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang terkenal tegas dan tegar dalam memimpin kaum muslimin tiba-tiba menangis, dan kelihatan sangat terpukul. Informasi salah seorang ajudannya tentang peristiwa yang terjadi di tanah Iraq telah membuatnya sedih dan gelisah. Seekor keledai tergelincir kakinya dan jatuh ke jurang akibat jalan yang dilewati rusak dan berlobang. Melihat kesedihan khalifahnya, sang ajudan pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?” dengan nada serius dan wajah menahan marah Umar bin Khattab bekata: “Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”
Dalam redaksi lain Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’.
Alangkah mulianya jika rasa takut itu benar-benar melekat pada seorang pemimpin saat ini, jika hanya seekor keledai saja tak luput dari perhatian dan tanggung jawabnya maka jelas, satu orang jiwa pun akan benar-benar menjadi perhatian seorang pemimpin yang memiliki rasa takut terhadap Allah ini.
Maka jelas lah dalam sebuah hadist Rasulullah yang sangat masyhur yang berbunyi : “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.”
Jelas sudah, karakter takut kepada Allah adalah syarat wajib, apalagi bagi seorang penguasa yang di pundaknya mempunyai banyak beban amanah dan tanggung jawab yang sangat besar, bahkan hanya untuk seekor keledai pun seharusnya tak boleh luput dari perhatian dan tanggung jawabnya, apalagi jiwa dan nyawa seorang manusia tak boleh sedikitpun merasa tersiksa dan teraniaya, atau bahkan di zhalimi dengan kekuasaan yang di milikinya.
Maka, satu-satunya cara mewujudkan pemimpin yang takut kepada Allah hanya dengan menerapkan aturan Islam saja, karena secara otomatis akan di kemudikan dirinya hanya dengan aturan dari Allah dan melaksanakan semua tugas dan kewajibannya atas dasar taat dan patuh terhadap perintah dan Larangan Allah. Wallahu’alam.[]


Penulis adalah anggota Akademi Menulis Kreatif, Bandung 

Comment

Rekomendasi Berita