by

Yanti, S. Pd: 17 Agustus, Sudahkah Merdeka?

Yanti, S. Pd, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bangsa Indonesia akan kembali memperingati hari kemerdekannya yang ke 73 tahun. Dimana pada 17 Agustus 1945, presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno membacakan teks proklamasi di hadapan sejumlah rakyat. Pembacaan teks tersebut menandakan awal kemerdekaan bangsa Indonesia. Merdeka dari penjajahan yang selama bertahun-tahun dilakukan oleh negara-negara kolonialis. Sejak saat itulah, 17 Agustus menjadi tanggal bersejarah bagi segenap bangsa Indonesia. 
Berbagai ragam acara pun diselenggarakan untuk menyambut momen kemerdekaan ini. Mulai dari upacara, doa bersama, karnaval, hingga berbagai macam perlombaan khas 17-an. Hampir di setiap sudut desa dan kota terpasang bendera merah putih serta baliho-baliho yang bertuliskan ‘Merdeka’. Namun, kemudian muncul pertanyaan di dalam benak kita, “Benarkah bangsa ini sudah merdeka?”
Sudahkah Merdeka?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu makna sesungguhnya dari kata ‘Merdeka’ itu sendiri. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka memiliki arti sebagai berikut: 1) bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya) berdiri sendiri; 2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Dengan memahami arti kata ‘merdeka’ tersebut, maka kita dapat melihat dan menganalisis secara lebih mendalam, sudahkah negeri kita ini layak menyandang status sebagai negeri yang benar-benar merdeka.
Jika merdeka diartikan sebagai bebas dari penjajahan, maka apakah negeri kita sudah sepenuhnya merdeka? Secara fisik mungkin kita telah merdeka dari penjajah, karena kita tidak lagi berhadapan dengan tentara Jepang yang membawa laras panjang. Akan tetapi perlu kita ketahui bahwa penjajahan ternyata tidak hanya berwujud fisik semata, tetapi juga dapat berwujud yang lain, seperti penjajahan ekonomi, penjajahan sumber daya alam, penjajahan pemikiran, dan lain sebagainya. Disadari atau tidak, saat ini negara kita Indonesia pun sedang dijajah perekonomiannya oleh Cina. (www.konfrontasi.com). Hal ini dapat kita lihat dari kependudukan warga negara Cina yang secara aktif dan masif memainkan bisnis di dalam negeri, seperti sekumpulan pengusaha Taipan yang sering dijuluki 9 naga. Kumpulan pengusaha beretnis Cina tersebut memiliki berbagai bisnis yang berkembang di Indonesia. Mulai dari bisnis korporasi media, real estate, dan lain-lain. 
Indonesia tidak hanya dijajah secara ekonomi, tetapi masih dijajah dari sisi sumber daya alamnya. Banyak kita jumpai eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh negara-negara asing terhadap sumber daya alam Indonesia. Salah satu contohnya adalah perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia, PT Freeport. 
Sedangkan bentuk dari penjajahan lainnya adalah berupa pemikiran. Penjajahan yang satu ini memang tidak tampak oleh mata atau bisa dikatakan penjajahan laten (terselubung). Walaupun tidak kasatmata, namun penjajahan secara pemikiran ini sangat berbahaya dampaknya. Penjajahan pemikiran berupa paham sekuler saat ini sedang menerpa masyarakat Indonesia. Sekulerisasi berupaya menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai agama, dan ini memang upaya Barat menghancurkan tatanan masyarakat Indonesia. Akibatnya, masyarakat banyak yang mengambil rujukan dari Barat. (mirajnews.com). Hasilnya bisa kita lihat sendiri bagaimana generasi bangsa ini selalu mengekor pada budaya Barat. Semua ini merupakan dampak dari berkembangnya paham sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Jika hal ini terus dibiarkan, maka kehancuran generasi penerus bangsa tinggal menunggu waktu.
Belum lagi penderitaan yang terus-menerus ditanggung oleh rakyat atas kebijakan-kebijakan yang ditelurkan pemerintah. Berbagai kebutuhan pokok rakyat justru dinaikkan harganya. Listrik, BBM, dan sebagainya, harganya semakin melambung tinggi. 
Menurut Badan Pusat Statistik mencatat angka kemiskinan di Indonesia pada Maret 2018 mengalami penurunan sebesar 9,82 persen menjadi 25,95 juta orang. Angka tersebut turun 633,2 ribu orang dibandingkan September 2017 yang mencapai 26,58 juta orang. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan, penurunan angka kemiskinan yang mencapai single digit tersebut terjadi untuk pertama kalinya di Indonesia. Sebab, lanjut dia, meski jumlah persentase penduduk miskin mengalami naik-turun sejak dicatat pada 1999, baru di tahun ini yang menyentuh angka penurunan 9,82 persen (viva.co.id, 16/07/2018).
Beginilah potret kelamnya bangsa Indonesia. Bangsa yang dikatakan telah 73 tahun merdeka, ternyata masih jauh dari gambaran kemerdekaan yang hakiki. Bangsa ini hanya merdeka dari sisi fisik saja, sedangkan dari sisi ekonomi, politik, budaya, pemikiran, masih terbelenggu oleh penjajahan asing. Lalu, bagaimana gambaran kemerdekaan hakiki yang seharusnya kita wujudkan?
Kemerdekaan Hakiki 
Sekitar 1400 tahun yang lalu, Rasulullah Muhammad SAW. telah memberikan contoh dan teladan kepada kaum muslimin tentang bagaimana mewujudkan kemerdekaan yang hakiki. Di saat kondisi bangsa Arab saat itu masih jahiliyah dan kelam. Kebiasaan-kebiasaan menyembah berhala, mabuk-mabukan, berzina, hingga membunuh anak-anak perempuan mereka. Dan Rasul kita yang mulia, Muhammad SAW., tinggal di tengah-tengah lingkungan yang jahiliyah tersebut. Namun, Rasulullah SAW. tidak hanya berdiam diri, pasrah ataupun meratapi kondisi yang ada. Sebagai seorang Rasul, Beliau SAW. berusaha melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat dengan menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru Arab. Ada yang menerima, banyak yang menolak. Rasul dikatakan gila, disebut sebagai tukang sihir yang memisahkan manusia dari keluarganya. Rasul juga pernah diludahi, berusaha dibunuh, bahkan diboikot selama bertahun-tahun. Tetapi Rasul dan para sahabat Beliau yang setia tetap bersabar dan terus melakukan dakwah. 
Rasulullah SAW. bersabda, “Ucapkanlah satu kata, jika kalian memberikannya maka seluruh bangsa Arab akan tunduk kepada kalian, dan orang non-Arab akan membayar jizyah kepada kalian.” Rasul melanjutkan, “Katakanlah, Laa illaha illa Allah, Muhammad Rasulullah (tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah).” (HR. Tirmidzi).
Setelah berdakwah selama 13 tahun di Mekkah, Rasulullah SAW. berhasil mewujudkan masyarakat Islam di Madinah. Rasulullah memimpin dan mengatur masyarakat Madinah dengan syariat Allah, dan menyebarkan Islam ke seluruh wilayah di sekitarnya. Maka tak lama kemudian, pada tahun delapan hijriyah, Rasulullah SAW. akhirnya berhasil mengubah bangsa Arab jahiliyah menjadi bangsa yang sangat mulia. Melalui peristiwa Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah), Allah menyelamatkan kota Mekkah dari belenggu kesyirikan dan kedzaliman menjadi kota yang bernafaskan Islam, dengan ruh tauhid dan sunnah. Melalui peristiwa ini pula, Allah mengubah kota Mekkah yang dulunya menjadi lambang kesombongan dan keangkuhan menjadi kota yang merupakan lambang keimanan dan kepasrahan kepada Allah ta’ala. (muslim.or.id). 
Tidak hanya membebaskan kota Mekkah, dengan dakwah, Rasulullah SAW. juga mampu menjadikan Islam berjaya menjadi peradaban besar yang memimpin dunia. Bahkan, peradaban Islam mampu menutup dua imperium besar yang sangat dzalim pada masa itu, yakni Kekaisaran Persia di Timur dan Imperium Romawi di Barat. (bkim.lk.ipb.ac.id). Sahabat Rabi’ bin Amir ra. dalam dialognya dengan Raja Kisra, ketika ditanya tentang motif pembebasan yang dilakukan kaum muslimin pada saat itu. Beliau menyatakan, “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan manusia pada manusia lain kepada penyembahan semata-mata pada Tuhannya manusia, dan dari sempitnya dunia pada luasnya kehidupan akhirat, dari ketidakadilan keyakinan-keyakinan (agama-agama) pada keadilan Islam…”. (banuasyariah.com). Inilah makna kemerdekaan hakiki dalam Islam, yaitu terbebas dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah semata.
Maka semakin jelaslah perbedaan dorongan pembebasan yang dilakukan oleh orang-orang Barat dengan pembebasan yang dilakukan oleh kaum muslimin. Barat berusaha menguasai daerah baru untuk dijajah dan dieksploitasi hasil buminya tanpa sisa. Inilah semangat Gold, Glory and Gospel (emas, kekuasaan, dan agama). Hal ini terbukti dengan tidak adanya satupun daerah bekas jajahan mereka –termasuk Indonesia– sepeninggal penjajah yang berubah menjadi maju, makmur, dan sejahtera. Sebaliknya, yang tersisa adalah derita, duka, dan nestapa. (al-azharpress.com). Maka kemerdekaan yang didapatkan pun hanyalah kemerdekaan semu. 
Hal ini tentu berbeda dengan pembebasan yang dilakukan oleh kaum muslimin. Misi pembebasan kaum muslimin ketika memperluas kekuasaannya adalah misi dakwah menyerukan tauhid. Semangat membebaskan manusia dari perbudakan menuju penghambaan kepada Allah semata. Mengubah manusia dari pemikiran, perasaan, dan tingkah laku yang sesat dan kufur menjadi pemikiran, perasaan, dan tingkah laku yang tinggi dan mulia, yang diatur dengan syariat Allah. Maka sudah terbukti dan tidak diragukan lagi bahwa kemerdekaan yang dihasilkan dari pembebasan Islam bukanlah kemerdekaan semu. 
Mewujudkan Kembali Kemerdekaan Hakiki
Demikianlah gambaran kemerdekaan hakiki yang dirasakan umat Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Kondisi di mana negara tidak bergantung kepada pihak asing. Khalifah juga memiliki ketegasan menolak keinginan asing untuk menginjakkan kakinya di wilayah kekuasaan khilafah, sekalipun disogok dengan uang. Maka rakyat pun merasa terlindungi dan tidak terampas hak-haknya. Rakyat juga dapat menjalankan semua aktivitasnya sesuai dengan syariat Islam. Karena hanya syariat Islam saja yang diterapkan oleh negara untuk dijalankan oleh seluruh rakyatnya.
Tentunya kita menginginkan kondisi yang dirasakan pada masa kekhilafahan Islam tersebut bisa kita rasakan kembali pada kehidupan kita saat ini. Hal itu bukanlah suatu yang mustahil. Karena Allah telah menjanjikan kemenangan bagi kaum muslimin melalui firman-Nya di dalam QS. An-Nur: 55:
“…dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Maka tidak ada cara lain untuk mewujudkan kembali kemerdekaan hakiki tersebut selain dengan cara-cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW., yaitu dengan sabar dan tulus ikhlas berdakwah menyerukan penerapan syariat Islam secara menyeluruh di dalam berbagai sendi kehidupan. Insyaallah kemenangan itu nyata bagi orang-orang yang yakin. Dan itulah kemerdekaan hakiki bagi umat manusia.Wallahua’lam bish showab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven + 7 =

Rekomendasi Berita