Yuni Masruroh: Ketika Kebenaran Diperdebatkan

Berita1956 Views
Yuni Masruroh
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ramai orang memperdebatkan masalah Khilafah. Benarkah
Khilafah itu ajaran Islam? Benarkah Khilafah itu yang mampu membawa umat pada
keselamatan dan kesejahteraan? Solusi bagi setiap persoalan yang tak kunjung
usai di negeri muslim terbesar ini? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan
serupa yang menunjukkan keraguan tentang Khilafah. Bahkan keraguan itu muncul
dari kalangan muslim sendiri, yang meyakini Islam sebagai agamanya. Islam yang
Allah turunkan sebagai agama dan ideologi yang mengatur kehidupan mereka.
Allah SWT memerintahkan pada kita umat manusia, yang diberi
amanah menjaga bumi dan seluruh isinya, untuk menggunakan aturan yang telah
diturunkan-Nya melalui manusia yang paling agung dan mulia Rasulullah Muhammad
SAW. Karena dengan aturan tersebut kita akan hidup tenang, tentram, dan
bahagia. Allah SWT telah memerintahkan kepada kita agar menerapkan hukum sesuai
dengan apa yang Allah turunkan.
Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ma’idah : Ayat 48
“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu
(Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang
diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut
apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka
dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di
antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah
menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak
menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka
berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali,
lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan,”
Seruan Allah SWT kepada Rasul saw. untuk memutuskan perkara ditengah-tengah
mereka sesuai dengan wahyu yang telah Allah turunkan juga merupakan seruan bagi
umat Beliau. Hendaknya kaum muslim mewujudkan seorang pemimpin setelah
Rasulullah saw. untuk memutuskan perkara ditengah-tengah mereka sesuai dengan
wahyu yang Allah turunkan. Perintah dalam seruan ini bersifat tegas karena yang
menjadi obyek seruan adalah wajib. Dan pemimpin yang memutuskan perkara
ditengah-tengah kaum muslim setelah wafatnya Rasulullah saw. adalah Khalifah,
sedangkan sistem pemerintahannya adalah siatem Khilafah. Rasulullah saw. bersabda:
“Dulu Bani Israel diurus dan dipelihara oleh para nabi.
Setiap kali seorang nabi meninggal, nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya
tidak ada nabi sesudahku dan akan ada para khalifah, yang berjumlah banyak”.
(HR. Al- Bukhari dan Muslim)
Penegakan seluruh hukum-hukum syariah adalah wajib.
Kewajiban ini tidak akan terlaksana tanpa adanya seorang pemimpin, sedangkan
kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan adanya sesuatu maka keberadaan
sesuatu itu hukumnya menjadi wajib. Dalam sebuah kaedah syara’ disebutkan:
“Tidak akan sempurna suatu kewajiban kecuali dengan adanya
sesuatu, maka sesuatu tersebut menjadi wajib”
Artinya, mewujudkan pemimpin yang menegakkan syariah
hukumnya adalah wajib. Dalam hal ini, pemimpin yang dimaksud adalah Khalifah
dan sistem pemerintahannya adalah Khilafah.

Itulah sistem pemerintahan Islam. Sebuah sistem yang
mengatur seluruh urusan kehidupan kita sesuai dengan apa yang Allah turunkan. Yang
tidak bertentangan dengan fitrah kita sebagai manusia. Yang membawa ketenangan
dan ketentraman dalam jiwa. Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya menjadi
hukum Allah sebagai landasan dalam setiap perbuatannya. Termasuk dalam berdebat
ataupun berdiskusi dalam rangka mencari kebenaran bukan pembenaran.
(yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah
tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Sangat besar kemurkaan (bagi mereka) di
sisi Allah dan orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci hati setiap
orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang.”(QS. Ghafir 40: Ayat 35)
Cukuplah ayat Allah ini sebagai peringatan bagi kita agar
tidak lagi memperdebatkan yang berasal dari Allah. Tidak menawar-nawar apa yang
sudah Allah turunkan kepada kita. Apalagi dengan mendebatnya dengan berbagai
dalih untuk mencari pembenaran atas pilihan kita.Wa ma taufiqi illa billah.[]

Penulis adalah anggota komunitas penulis online, Jember

Comment