by

Yuyun Suminah: Muslimah Gelar Paling Istimewa

Yuyun Suminah, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Berbicara soal muslimah terlalu banyak sisi keistimewaannya ketika seorang perempuan mengikrarkan diri sebagai seorang muslimah pasti tahu siapa diri kita dihadapan Allah yaitu sebagai hamba-Nya.Lewat ketaatan dan ketundukan kita buktikan pengakuan tersebut. 
Kini sesuai perkembangan zaman kiprah muslimah pun mulai melebar, banyak peran yang mereka ambil dalam segala bidang seperti bidang ekonomi, sosial dan bidang politik yang sejatinya hanya seorang laki-laki yang bisa menempati posisi tersebut kini muslimah pun bisa berkecimpung disana. Dengan bantuan media mulai membuka sisi keistimewannya yang dulu tertutup rapat tapi kini banyak yang mengekspos pemberitaan tentang kehidupannya.
Banyak peran perempuan yang bergeser bahkan hilang tergerus oleh budaya hedonis. Bebas melakukan sesuai kehendak apalagi paham plularisme semakin kencang, yang menganggap semua agama benar, tak ada lagi sandaran halal dan haram semua mengambil jalan tengah.
Semua dinilai dengan bentuk materi, keistimewaannya selalu dijungjung tatkala materi yang ia raih. Sejatinya, ada peranan yang lebih penting dari pada ukuran sebatas materi.
Keistimewaan yang Allah anugrahkan begitu bernilai yang harus dipegang teguh oleh seorang muslimah yang tidak bisa dipisahkan dalam diri kita yaitu keistimewaan yang sudah Allah karuniakan.
1. Muslimah sebagai hamba Allah
“Dan tidaklah AKU ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah.” (TQS. Adz -Dzariat: 56)
Firman tersebut mengingatkan bahwa Allah menciptakan diri kita untuk semata-mata beribadah kepada-Nya baik Laki-laki maupun perempuan. Menjalankan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. 
Pengakuan yang selalu terucap ketika solat  dalam doa iftitah yang berbunyi “Inna shalaati, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati lillahi robbil ‘alamin” yang artinya” Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Rabb sekalian alam”.
Doa tersebut tidak hanya sebatas pengucapan saja atau hanya sebatas menjalankan ibadah ritual seperti solat, puasa dan zakat tapi perlu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Mempraktekannya seperti menutup aurat, jangan bertransaksi dengan riba dll
2. Menyadari Fitrahnya
Perempuan adalah sebuah ujung tombak suatu peradaban. Hampir di setiap sejarah, dari rahim perempuanlah lahir generasi- generasi tanggung. Di era semakin maju ini seorang muslimah mulai luntur terhadap fitrahnya sendiri yaitu sebagai seorang ibu yang mendidik anak-anaknya.
Padahal dari seorang ibulah sekolah pertama bagi anak-anaknya, ia seperti sedang membentuknya untuk menyiapkan peradaban dunia, yang selalu mendidiknya dengan ilmu. 
Seorang muslimah juga harus ahli dalam segala bidang maka tidak ada salahnya ia mengenyam pendidikan yang tinggi. Tidak ada yang sia-sia dengan ilmu tersebut karena ia yang akan mengaplikasikan ilmunya di dalam rumah tangganya.
Hanya dari seorang ibu yang kurang ilmulah hingga ia berkata” buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya perempuan tersebut ke dapur, kasur dan sumur. Wahai muslimah yakinlah ilmumu tidak akan sia-sia walaupun kau hanya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Disitulah peranmu menjalankan fitrah yang sudah Allah berikan. Raihlah rido-Nya dengan menjalankan peranmu yang sesuai dari-Nya. Wallahua’lam.[]

Penulis adalah anggota Komunitas Aliansi Peduli Ummah Karawang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + eighteen =

Rekomendasi Berita