by

Zefanya, Atlet Renang Indonesia yang Sukses di Usia Muda

Foto dok. Vemale.com

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menekuni bidang olahraga yang disukai tidak hanya merupakan hal yang
menyenangkan, tetapi sekaligus bisa menjadi ladang mata pencaharian. Hal
ini seperti yang dijalani gadis kelahiran Kendal Jawa Tengah, 28
November 1998, Zefanya Asih Setyorini. Gadis berusia 17 ini,
sangat menyukai olahraga renang. Selain kesukaannya pada berenang,
ketekunannya untuk berlatih renang sejak usia dini telah berhasil
membuat dirinya menjadi seorang atlet renang.

Saat duduk di
bangku sekolah dasar, gadis yang akrab disapa Asih ini mengaku bahwa ia
susah untuk disuruh makan, sehingga orang tuanya mengambil inisiatif
untuk mengajaknya rekreasi ke sebuah kolam renang agar ia mau makan.
Karena menurut orang tuanya, sehabis berenang Asih pasti akan merasa
lapar dan minta makan. Dari sanalah, dirinya mulai menyukai olahraga air
itu.

Selain
untuk menekuni kesukaannya pada berenang, masalah ekonomi keluarganya
yang pas-pasan juga mendorong anak pertama dari dua bersaudara ini,
berjuang membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Maka dari
itu, Asih tidak pernah berhenti berlatih demi bisa menjadi atlet renang
Indonesia yang mumpuni dan mampu membanggakan nama Indonesia ke
depannya.

Ingin tau lebih lanjut kisah inspiratif dari gadis
manis satu ini? Berikut hasil wawancara Vemale dengan atlet renang muda
yang sudah membawa pulang banyak medali ini.

Bagaimana awalnya kamu bisa menyukai olahraga renang?

Saya
suka sekali dengan air, tapi saat itu, saya belum bisa berenang. Lalu,
pas kebetulan di ajak orang tua ke kolam rekreasi, saya lihat ada club
renang yang sedang latihan. Setelah itu, saya mulai nanya-nanya tentang
renang dan akhirnya coba-coba latihan. Ternyata, saya suka dan akhirnya
terus dilanjutkan setiap hari latihan.

Berapa lama proses yang kamu perlukan untuk bisa mahir dalam berenang, seperti sekarang ini?

 
Berawal
dari latihan gaya dada. Setelah satu bulan latihan, teryata saya sudah
bisa ngalahin temen yang lebih lama latihannya dari pada saya. Selang
waktu 3 bulan, saya sudah menguasai semua gaya berenang. Pelatih dan
orang tua saya sangat senang karena saya mengalami perkembangan yang
cukup cepat.

Kapan kamu mulai mengikuti perlombaan renang?

Saya
berlatih renang dengan tekun sejak  kelas 2 SD. Setelah mahir, saya
mulai ikut kejuaraan renang. Mulanya, kejuaraan  antar Kecamatan, lalu
se-Kabupaten, dan Puji Tuhan saat itu saya bisa ngalahin lawan yang
ternyata kakak kelas. Setelah itu, saya lanjut mengikuti kejuaraan ke
antar Kabupaten, lalu se-Provinsi Jateng (POPDA). Saat POPDA, saya belum
bisa menang, karena lawannya gede-gede banget, sementara saya masih
kecil dan kurus. 

Pada usia berapa akhirnya kamu memutuskan ingin menjadi atlet renang?

Setelah
event POPDA, saat saya kelas 3 SD, ada kejuaraan antar club se-Jateng
dan DIY, di Wonosobo. Saat itu, tanpa saya sangka, saya berhasil
mendapatkan juara 3. Saya rasa, sejak saat itulah saya memutuskan untuk
menjadi atlet. Kia-kira, saat saya berusia 8 tahun. 

Dalam seminggu berapa kali kamu berlatih renang?

Setiap
minggunya saya berlatih sebanyak 10x. Latihannya dilakukan setiap hari
Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat saat pagi dan sore, sedangkan untuk Rabu
dan Sabtu hanya pagi saja. Volume latihan pagi sekitar 5000 – 6000m,
sedangkan sore 6000-8000m. Jadi setiap hari latihan saya sekitar
12.000-14.000m/12-14km.

Sudah berapa kali kamu memenangkan kejuaraan?

 
Puji
Tuhan, Banyak. Saat di Thailand International Sport School Games 2014,
saya dapat 2 medali emas dan 1 medali perak, kemudian di tahun 2015,
dalam event yang sama saya mendapat 3 medali emas. Selain itu, saat
Kejuaraan Renang antar perkumpulan se-Indonesia (KRAPSI) 2013 dapat 1
medali perunggu. Kejuaraan Nasional PPLP 2014, 4 medali emas 1 medali
perak. Walikota Cup 2015, 3 medali emas 2 medali perak. Open water
Swimming jarak 6000 meter tahun 2015, saya juara 1. 

Adakah pengalaman dari kejuaraan renang yang paling berkesan buat kamu?

Ada.
Saat mengikuti Open Water Swimming atau renang marathon. Jaraknya waktu
itu 10km, saya masih kelas 3 SMP. Saat itu,  saya peserta paling kecil
yang mengikuti Open Water Swimming, jadi, takut sekali karena di
tengah-tengah laut sendirian, deg-degan luar biasa. Dan itu 10 kilometer
yang luar biasa, saya pikir, saya tidak akan mampu menyelesaikan rute
tersbut, karena di kolam dengan di laut kondisinya berbeda jauh. Belum
juga, kalau ada ombak, haduh. Eh, ternyata saya bisa sampai finish 10km
dan menduduki urutan ke-6 dari 21 peserta. 

Apa suka duka menjadi atlet renang?

Dukanya,
sekolahnya jadi tertinggal, karena lebih fokus ke latihan dan kurang
fokus untuk belajar, karena sudah lelah dengan program latihan yang
sangat berat. Saya harus bangun pagi-pagi untuk latihan pukul 4.30 WIB,
yaampun itu saat-saat paling enak untuk tidur ya, kan? Kemudian, saya
juga jarang hangout sama temen-temen, nggak kayak anak sekolah biasa
yang habis sekolah bisa nongkrong bareng temen-temen, sebagai atlet,
saya punya kewajiban untuk latihan. Sementara sukanya, kalau pas
tanding, saya bisa sekalian jalan-jalan keluar kota atau ke luar pulau.
Apalagi kalo ke luar negeri, enak sekali, gratis di biayai oleh negara
dan dapat uang saku pula, hehe. Lebih senang lagi kalau
ternyata dapat medali, seneng banget. Seumuran anak SMA,  sudah bisa
menghasilkan uang sendiri,  bangga rasanya. 

 Foto dok. Vemale.comFoto dok. Vemale.com


Keinginan apa yang belum bisa kamu capai?

Yang
belum tercapai, ingin banget ikut Sea Games atau Asean Games, tetapi
belum tercapai, ya, saya harus berusaha lebih lagi. Doakan saya untuk
PON September depan di Jawa barat. 

Apa harapan kamu sebagai atlet renang?

Harapan
saya ke depannya, bisa menang di PON, setelah PON semoga bisa ikut
kejuaraan yang lebih tinggi lagi. Kalau tidak, ya, saya ingin fokus
untuk kuliah. Dan, saya juga berharap agar pemerintah Indonesia, tidak
melupakan para atletnya. Amin. [VEM]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − nine =

Rekomendasi Berita