by

Adekha Kurnia Sari*:  Dekapan Liberalisme Di Balik Pacaran Islami 

-Opini-18 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA,– Pada era modern seperti sekarang ini, pacaran seakan menjadi hal yang lumrah di masyarakat.

Manusia mempunyai naluri untuk menyukai lawan jenis dan dengan begitu,  manusia perlu wadah untuk menyalurkan naluri tersebut. Untuk hal yang satu ini, ada yang menyalurkannya dalam bentuk pacaran dan ada juga dengan jalan halal, menikah.

Fakta bahwa masih banyak umat muslim yang menyalurkan nalurinya melalui pacaran yang tidak dibenarkan agama. Namun, ada istilah dan terminologi pacaran Islami yang kemudian menjadi dalih anak-anak muda untuk melakukan pacaran.

Menurut Ustadz H. Miftahul Chair, S.Hi. MA, ada beberapa manfaat pacaran jika disikapi secara benar, bertanggung jawab dan jauh dari lingkaran syahwat yang tiada ujungnya.

Menurutnya, pacaran akan menjadi halal ketika dilakukan secara Islami. Pacaran pun bisa jatuh haram jika diarahkan tanpa konsepsi ajaran Islam yang benar. Stop mengharamkan pacaran! Pacaran itu adalah ciri-ciri orang yang beriman. Pacaran itu Syar’i”.

Ustadz H. Miftahul Chair, S.Hi. MA juga mengungkapkan bahwa pacaran merupakan tradisi orang-orang shalih terdahulu untuk menjaga kelestarian cinta. Mereka telah berhasil mengarahkan pacaran ke arah positif. Mereka telah menjaga amanah Allah. Tinggal manusia itu sendiri berupaya meneladani generasi-generasi terbaik dulu”.

Tidak hanya itu, beliau juga menyatakan bahwa Nabi pun pernah berpacaran dengan Khadijah sesembari berdagang saat itu. Bahkan sebelum menikah dengan Aisyah, Nabi Muhammad sering ke rumah Abu Bakar untuk melihat Aisyah karena memang Nabi cinta kepadanya. Hanya saja pacarannya Islami baget.”

Jika ditelisik lebih dalam, istilah pacaran tidak ada dalam khasanah Islam. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah dalam salah satu ceramahnya pernah mengatakan bahwa sesuatu yang dinisbatkan kepada Islam artinya dia diajarkan oleh Islam atau memiliki landasan dari Islam.

Maka dari itu, istilah pacaran Islami memang tidak dibenarkan dalam Islam karena Islam tidak pernah mengajarkan pacaran dan tidak ada landasan pacaran Islami dalam syariat. Bahkan sebaliknya, Islam mengajarkan untuk tidak melakukan kegiatan yang ada dalam pacaran.

Pacaran itu termasuk aktivitas yang bisa menjerumuskan pada zina, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan  keji dan jalan yang buruk.” (TQS Al-Isra’: 32).

Dari ayat tersebut, kita tidak diperbolehkan mendekati zina, apalagi melakukannya. Sehingga pacaran itu termasuk yang mendekati zina dan karena itu pacaran diharamkan

Memang tidak semua pacaran berujung zina tapi kebanyakan zina diawali dengan pacaran.

Banyak ditemukan sebagai fakta-fakta bahwa akibat dari berpacaran yang sangat mengerikan dan berujung tragis. Terbukti dengan kasus pembunuhan yang dilakukan bocah SMP asal Bandung.

Diduga karena cemburu sang kekasih mempunyai pacar baru, SF tega menghabisi nyawa gadis belia bernama Fricilia Dina. Mirisnya lagi, SF melakukannya dengan sebuah martil dan menghantamkannya ke kepala korban hingga meninggal.

Selain itu, ada juga kisah tragis yang dialami S (15), siswi kelas 2 SMA kejuruan di Cikupa, Tangerang dan kekasihnya Sp (19).

Keduanya diamankan petugas Polresta Tangerang karena mengubur bayi hasil hubungan gelap mereka karena takut diketahui orangtua mereka.

Berbagai kerusakan dan tindakan keji tersebut tentu ada penyebabnya. Salah satunya adalah karena mereka terjebak oleh gaya hidup bebas yang permisif, apapun diperbolehkan tanpa adanya aturan.

Semua itu akibat dan pengaruh faham liberalisme,  kebebasan –  yang memisahkan agama dari kehidupan yang dikenal dengan istilah sekulerisme.

Liberalisme sekularistik inilah yang menyebabkan rusaknya moral generasi muda hari ini yang diciptakan secara sistematis dan terorganisis oleh orang-orang kafir untuk merusak moral generasi muda Muslim.

Dengan menanamkan paham liberalisme akan membuat generasi muda berperilaku bebas bahkan sampai keblabasan.

Sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan akan menjauhkan generasi muda dari pemahaman agama yang sesungguhnya. Agama tidak dijadikan sebagai aturan dalam kehidupan, sehingga menyebabkan rusaknya generasi.

Tidak mengherankan lagi jika liberalisme dan sekulerisme menyuburkan kerusakan mental dan menghancurkan generasi muda secara massif.

Selama generasi muda dalam dekapan liberalisme, maka mereka akan semakin kehilangan potensi besarnya sebagai agent of change yang seharusnya membangun peradaban dan menjadi agen perubahan bagi umat.

Akan tetapi, kini generasi muda sudah jauh dan melupakan arti sebuah jati diri. Harga diri tergadai, terlepas dari Islam karena terjebak liberaisme.

Sebagai seorang muslim harus memahami bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggung- jawaban di hadapan Allah. Hal ini bisa diartikan bahwa dalam kehidupan, kita diwajibkan untuk terikat dengan aturan Allah.

Maka, kita harus kembali kepada aturan yang benar, yaitu aturan yang datang dari Allah dengan seperangkat peraturan yang sempurna untuk mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk pergaulan dalam Islam.

Saatnya umat Islam kmbali pada Syariat Islam, yang menjadikan agama sebagai landasan dalam kehidupan.[]

*Mahasiwa Universitas Negeri Malang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 1 =

Rekomendasi Berita