![]() |
| Al Ihya Yunus Putri, S.Sos, Penulis |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sepertinya tak ada kata terlambat untuk membahas fenomena hijrah. Akhir-akhir ini dapat dilihat secara langsung maupun tidak langsung bahwa fenomena hijrah tengah menjamur di berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat biasa, anak sekolah, mahasiswa, politikus, hingga artis semakin banyak yang berhijrah.
Dikutip dari halaman www.kbbi.web.id, Hijrah berarti berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya). Akan tetapi, saat ini hijrah di maknai lebih luas. Artinya hijrah tak hanya berpindah dari satu tempat ketempat lain saja, akan tetapi hijrah juga dimaknai berubah ataupun melakukan perubahan. Perubahan yang dimaksud tentunya adalah perubahan yang dikonotasikan pada perubahan menuju kebaikan. Fenomena hijrah yang paling populer adalah semakin banyaknya perempuan ynag menggunakan hijab. Bagi perempuan yang tidak berhijab sebelumnya, setelah hijrah hal yang paling pertama dilakukan adalah menggunakan hijab, entah itu menuju hijab yang tidak syar’i ataupun hijab syar’i.
Lalu, hijrah seperti apa yang seharusnya dan semestinya dipahami dan dilakukan?. Timbul pertanyaan seperti ini. Hijrah dari segi pakaian saja tentu tidak cukup. Hijrah mestinya diiringi dengan keinginan untuk belajar dan memahami Islam lebih banyak. Hijrah tanpa dibekali ilmu akan membuat linglung dan tak tentu arah.
Jika diperhatian di sosial media, pun akan terlihat semakin menjamurnya akun-akun dakwah. Akan tetapi, akun-akun dakwah ini sepertinya terlalu terfokus pada postingan-postingan yang membahas seputar pernikahan sehingga membuat pembacanya terjangkit baper alias bawa perasaan. Bukan berarti membahas perihal pernikahan dan ke-baper-an adalah sesuatu yang tidak baik, namun alangkah lebih baik jika hal yang dibahas lebih luas. Karena seperti yang sama-sama diketahui bahwa ilmu Islam itu luas dan menyeluruh.
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Aturan Islam tidak hanya terbatas pada menutup aurat dan pernikahan saja. Aturan Islam itu mencakup seluruhnya, yakni hubungan manusia dengan Allah (Hablumminallah), hubungan manusia dengan sesama manusia (Hablumminnas), dan hubungan manusia dengan diriya sendiri (Hablumminannafs). Maka hijrah yang berkualitas adalah hijrah yang mengarah kepada keinginan untuk melaksanakan hukum islam secara sempurna dan keseluruhan (kaffah). Allah swt berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).
Jadi, jangan memilih-milih dalam menjalankan aturan Islam karena aturan Islam bukan prasmanan yang suka diambil yang tidak suka dibiarkan begitu saja. Maka mari sama-sama kita berhijrah menjadi hijrah ideologis, hijrah yang berkualitas dan berkeinginan untuk melaksanakan segala aturan Islam dalam setiap lini kehidupan. Wallahu’alam.[]
Penulis adalah alumni Universitas
Sumatera Utara dan Anggota Komunitas Mahasiswa Jambi Menulis
Sumatera Utara dan Anggota Komunitas Mahasiswa Jambi Menulis












Comment