by

Ammylia Rostikasari, S.S: Mengakhiri Kemiskinan di Negeri Loh Jinawi

Ammylia Rostikasari, S.S
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Panas perdebatan mengenai kemiskinan  di negeri ini. Tim sukses Prabowo-Sandiaga, Gamal Albinsaid dan Juru bicara
tim sukses petahana, Deddy Sitorus diketahui adu mulut perihal data angka
kemiskinan siapa yang lebih valid.
Debat panas itu terjadi saat keduanya menjadi narasumber di
acara Mencari Pemimpin di Kompas TV, pada Jumat (26/10/2018).
Menjelang tahun pilpres, memang menjadi ajang unjuk gigi.
Berpromosi mati-matian untuk meraup perhatian khalayak ramai. Bertarung cara
supaya dinilai mana yang lebih layak memegang tampuk kekuasaan.
Berbicara kemiskinan di negeri loh jinawi ini, memang tak ada
habisnya. Berbicara angka yang sebenarnya bisa saja dibumbui manipulasi. Namun,
bukan angka pada hakikatnya. Yang menjadi fokus perhatian adalah mengapa
kemiskinan masih menyapa mesra Indonesia? Tentunya bagaimana cara efektif untuk
mengatasi kemiskinan di negeri tercinta?
Saat ini,
kemiskinan yang menimpa umat lebih merupakan kemiskinan struktural atau sistemik, yakni kemiskinan yang diciptakan oleh sistem yang
diberlakukan oleh negara/penguasa. Itulah sistem
kapitalisme-liberalisme-sekularisme. Sistem inilah yang telah membuat kekayaan
milik rakyat dikuasai dan dinikmati oleh segelintir orang.
Di
negeri ini telah lama terjadi privatisasi sektor publik seperti jalan tol, air,
pertambangan gas, minyak bumi dan mineral. Akibatnya, jutaan rakyat terhalang
untuk menikmati hak mereka atas sumber-sumber kekayaan tersebut yang sejatinya
adalah milik mereka. Akibat lanjutannya, menurut laporan tahunan Global Wealth
Report 2016, Indonesia menempati negara keempat dengan kesenjangan sosial
tertinggi di dunia. Diperkirakan satu persen orang kaya di Tanah Air menguasai
49 persen total kekayaan nasional.
Dalam
konteks global, di semua negara yang menganut
kapitalisme-liberalisme-sekularisme telah tercipta kemiskinan dan kesenjangan
sosial. Hari ini ada 61 orang terkaya telah menguasai 82 persen kekayaan dunia.
Di sisi lain sebanyak 3.5 miliar orang miskin di dunia hanya memiliki aset
kurang dari US$ 10 ribu.
Oleh karena
itu, mustahil kemiskinan bisa dientaskan bila dunia, termasuk negeri ini, masih
menerapkan sistem yang rusak ini. Bahkan Oxfam International yang meriset data
ini menyebut fenomena ini sebagai “gejala sistem ekonomi yang gagal!”
(Tirto.id, 22/01/2018).
Lantas bagaimana mengatasi kemiskinan sistemik yang dirasa
semakin pelik. Berikut solusi Islamnya.
Pertama: Secara individual,
Allah SWT memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah
untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya (Lihat: QS al-Baqarah
[2]: 233). Rasulullah saw. juga bersabda:
طَلَبُ الْحَلالِ فَرِيضَةٌ
بَعْدَ الْفَرِيضَةِ
Mencari
rezeki yang halal adalah salah satu kewajiban di antara kewajiban yang lain (HR
ath-Thabarani).
Jika
seseorang miskin, ia diperintahkan untuk bersabar dan bertawakal seraya tetap
berprasangka baik kepada Allah sebagai Zat Pemberi rezeki. 
Kedua: Secara jama’i
(kolektif) Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan
saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Rasulullah saw.
bersabda:
مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ
شَبْعَانَ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ
Tidaklah
beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara
tetangganya kelaparan, padahal ia tahu (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).
Ketiga: Allah SWT memerintahkan
penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu
menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw. bersabda:
فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى
النَّاسِ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه
Pemimpin
atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus
(HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Di
Madinah, sebagai kepala negara, Rasulullah saw. menyediakan lapangan kerja bagi
rakyatnya dan menjamin kehidupan mereka. Pada zaman beliau ada ahlus-shuffah.
Mereka adalah para sahabat tergolong dhuafa. Mereka diizinkan tinggal di Masjid
Nabawi dengan mendapatkan santunan dari kas negara.
Solusi
Islam adalah solusi paripurna. Bahasan perdebatannya bukan semata angka. Namun,
dapat membongkar problem kemiskinan dari akar-akarnya. Nyata di depan mata,
jika kemiskinan yang ada di nusantara dan belahan dunia lainnya sebagai akibat
dari mendurhakai hukum-hukum Sang Pencipta.
Sudah
saatnya masyarakat juga penguasa menyadari kekhilafan ini. Kembali kepada
syariat Islam secara komprehensiflah sebaik-baik jalan untuk keluar dari semua permasalahan
hidup, tak terkecuali dengan kemiskinan. Dengan dorongan iman dan takwa marilah
berserah diri kepada Allah subhanahu
wata’ala
supaya negara ini segera dihujani rahmat-Nya.
Jika penduduk negeri beriman dan bertakwa,
niscaya Kami membuka untuk mereka pintu keberkahan dari langit dan bumi
(TQS
al-A’raf [7]: 96). 
Wallahu’alam bishshowab

Comment

Rekomendasi Berita