Anna Ummu Maryam: Isu Terorisme Dalam Pemilu Demokratis

Berita3386 Views
Anna Ummu Maryam

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Komisi III DPR meminta Polri melakukan deteksi dini terkait potensi ancaman terorisme pada Pemilu 2019. Meski sukses membuat aksi terorisme tak terjadi di gelaran Asian Games 2018, kasus itu masih terjadi di 2018, terutama dalam penyerangan di Surabaya. 

Dalam pemilu serentak 2019 nanti diharapkan tak boleh dikacaukan oleh aksi terorisme,” ujar Anggota Komisi III Ahmad Sahroni. (CNN,  01/01/2019).
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, Keamanan Wiranto menargetkan Jawa Timur sebagai wilayah program penanggulangan terorisme pada 2019. Ia menyebut pemilihan Jatim sebagai target wilayah ini merupakan hasil pemantauan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). 
“Jatim dulu karena kami akan coba cari daerah-daerah yang kami lihat ada indikasi masalah terpapar oleh aksi dan terorisme. Tentu ini hasil pemantauan BNPT,” ujar Wiranto usai memberikan sambutan dalam acara penyampaian laporan penanggulangan terorisme BNPT di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (27/12). 
Pada tahun ini, Sulteng dan NTB menjadi dua provinsi yang terpilih untuk program penanggulangan karena dianggap sebagai wilayah yang terpapar radikalisme dan terorisme. (CNN, 01/01/2019)
Menjelang Pemilu Munculkan Isu
Tak dapat dipungkiri pemilu sudah di depan mata. Berganti dan bertahannya sebuah kekuasaan. Suasana semakin memanas untuk dapat duduk di kursi panas. Berbagai isu mulai digulirkan untuk membuat suasana makin membingungkan. 
Namun yang menjadi pertanyaan,  mengapa saat menjelang pemilu ada kasus- kasus  tertentu yang kuat mencuat. Padahal negeri ini tidak pernah sepi dari sejumlah peristiwa. Mengapa hal ini tidak di selesaikan.
Isu teroris muncul tenggelam sesuai keinginan yang terpendam dan coba  dikaitkan dengan isu pemilihan. Mencari kambing hitam atas kegagalan pengaturan dalam kehidupan oleh negara seolah terabaikan dengan isu ini.
Padahal kalau kita perhatikan dengan seksama maka kita akan sepakat jika memang seseorang itu teroris yang mengancam nyawa orang lain dan melukai orang lain untuk ditangkap. Namun faktanya banyak orang yang ditangkap tampa ada bukti tapi hanya terduga tentu ini menjadi masalah.
Karena sebuah proses penangkapan haruslah mengikuti prosedur yaitu adanya bukti tindakan kekerasan pada korban dan memasuki pengadilan,  namun lagi- lagi faktanya tidaklah demikian. Siapa saja terduga boleh langsung ditangkap bahkan ditembak di tempat. 
Dan tidak ada sedikitpun uang negara yang dicuri dan rusaknya bangunan namun bisa langsung disekap dibawa untuk diperiksa. Aneh memang tapi ini fakta.
Hal ini berbanding terbalik dengan tindakan korupsi yang di lakukan oleh pejabat dan aparatur negara yang mencuri uang rakyat triliunan bahkan tak terhitung jumlahnya,  mereka melenggang dengan santai sambil melambaikan tangan pada wartawan dengan senyum yang menawan.
Ini semua lahir dari sistem kapitalis yang sistemnya dibuat oleh manusia,  sehingga banyak melahirkan kecacatan hukum dan hilangnya rasa keadilan yang menjadi impian rakyat.
Isu apapun bisa dingkat untuk pencitraan dan mengalihkan perhatian dari sesuatu yang penting dikerjakan tapi tak diketahui oleh publik.
Tiada Teroris Dalam Islam
Tindakan terorisme dalam islam adalah tindakan yang termasuk kriminal yang mendapatkan sanksi keras karena telah mengancam /menakuti orang lain. Terorisme muncul saat kepercayaan dan kehidupan rakyat berada dalam kondisi yang amat rendah. 
Oleh karena itu islam menjadikan urusan kekuasaan dan menjadi penguasa bukanlah perkara memperkaya diri dan kesombongan, tetapi penguasa adalah pelayan rakyat yang mengurusi segala hal yang dibutuhkan rakyat.
Dalam Islam ada 3 hal harus diperhatikan mendasar oleh negara,  yaitu pendidikan,  kesehatan dan keamanan. Ketiga hal ini adalah kebutuhan rakyat yang amat penting. Selain mendorong dan membantu masing masing individu untuk memenuhi kebutuhan sandang,  papan dan pangannya.
Maka jelaslah,  mengapa kita tidak mendapati adanya tindakan terorisme pada masa kejayaan islam, hal ini terjadi karena keberadaan negara dan kepala adalah sebagai pelaksana aturan Allah Swt agar kehidupan yang damai benar benar dapat dirasakan oleh seluruh manusia.
Hal berikutnya yang harus kita pahami adalah dalam pandangan islam tidak ada pemahaman tentang terorisme,  jadi jika ada orang yang mengaitkannya dengan islam ini adalah hal yang keliru dan menipu.
Padahal siapa saja berpeluang menjadi teroris dengan maksud tertentu. Apalagi dalam sistem kapitalis yang menghalalkan segala cara untuk mendulang suara.
Rasulullah SAW bersabda, kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama sekali bukan ajaran Islam. Dan orang yang paling baik Islamnya ialah yang paling baik akhlaqnya. [HR. Ahmad juz 7, hal. 410, no. 20874].
Kemudian Allah Swt juga berfirman dalam Qs. Al- Maidah :32
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”
Ada upaya yang amat kuat untuk menghancurkan ajaran islam dengan mengaitkannya sebagai ideologi para teroris. Dan kita juga tak dapat mengelak adanya untuk mengkriminalisasi umat islam, dan memonsterisasi simbul islam oleh para kafir dan orang munafik yang mengambil kepentingan dan keuntungan di atas penderitaan manusia lainnya.[]

Penulis adalah Pengamat Media Dan Pemerhati Sosial

Comment