by

Chusnatul Jannah: Pelangi Pilpres 2019

Chusnatul Jannah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Perhelatan hajatan akbar poitik semakin dekat. Tim kampanye saling beradu argumen. Sajian diskusi tentang kepemimpinan pun semakin ramai. Sosial media juga ikut berisik. Adu data dan pendapat menjadi perbincangan harian di media sosial. Memang begitulah keadaan tatkala pilpres di depan mata. Berlomba-lomba memenangkan sang jagoan. Memoles citra adalah tugas pertama. Tugas selanjutnya adalah adu strategi dan visi. Sebab, masa depan Indonesia menjadi taruhannya. Itulah mengapa menjelang pilpres, dunia nyata dan maya semakin riuh. 
Lembaga survey pun dibuat penasaran. Dibuatlah survey pemanasan tentang elektabilitas capres dan cawapres. Ada yang bilang incumbent masih tak terkalahkan. Ada pula yang mengatakan calon nomor urut dua mulai memadati hati kaum milenial dan umat Islam. Sebab, capres nomor dua adalah hasil rekomendasi ijtima’ ulama. Sedang cawapresnya mewakili jiwa-jiwa milenial. Emak – emak pun keranjingan mengaguminya. Capres nomor urut satu mengaku lebih banyak diuntungkan. Posisinya sebagai petahana membuatnya leluasa membangun citra. Banyak hal yang akan mewarnai hajatan akbar politik kali ini. 
Pertama, posisi dan status. Posisi capres incumbent memungkinkan bergerak bebas. Sebab, tak ada penghalang baginya untuk melawat ke sejumlah tempat yamg terbilang harus netral dalam politik praktis. Sebagai contoh, kampus dan pesantren. Hal ini memberi keuntungan bagi TKN Jokowi – Ma’ruf. Prestasi Sang Presiden dianggap sebagai senjata untuk memenangkan suara. Sementara, paslon nomor urut dua belum ada bukti prestasinya sebagai pemimpin Indonesia. Hanya saja, latar militer dan pengusaha menjadi daya pikat tersendiri bagi masyarakat yang menginginkan perubahan.
Kedua, Isu ekonomi. Hal yang paling disorot dalam pemerintahan Jokowi adalah masalah ekonomi. Rupiah yang keok dihantam dolar hingga tembus Rp 15.200 menjadi sajian hangat bagi BPN Prabowo – Sandi. Belum lagi impor pangan yang habis-habisan menyerbu Indonesia. Terdahsyat, utang luar negeri yang mencapai lebih dari 4.000 triliun. ditambah bantuan bencana dari Bank Dunia yang dihitung sebagai pinjaman. Artinya, utang luar negeri menjadi sorotan tajam di masa pemerintahan Jokowi. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi tim pemenangan Prabowo – Sandi. Isu ini selanjutnya akan terus memanasi persaingan pilpres 2019.
Ketiga, dukungan umat Islam. Tak dipungkiri, suara mayoritas di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini tetaplah menggoda. Tanpa suara mereka apalah daya. Menang kalah ditentukan mayoritas ini. Tak ayal, dilakukanlah ‘test the water’ oleh kubu Jokowi. Ia menggandeng seorang ulama tokoh gerakan 212, KH Ma’ruf Amin. Alhasil, dukungan beberapa pesantren dengan mengangkat ketokohan Kyai Ma’ruf terbilang cukup sukses. Meski Prabowo tak menggandeng ulama, rekomendasi ijtima’ ulama yang mendukung pencalonannya adalah angin segar bagi partai oposisi. Sebab, bila ulama mendukung, mudah bagi umat Islam untuk mendukungnya. Titah ulama masih dianggap keramat oleh sebagian umat Islam.
Keempat, kepemimpinan. Pidato Jokowi mendapat standing ovation dari para peserta IMF – WB di Bali. Ia mengutip kalimat dalam film Game of Throne yang berbunyi ’winter is coming’. Ia menggambarkan kondisi ekonomi dengan kalimat dan cerita pada film tersebut. Sebelumnya, ia juga pernha mengutip kata dalam film fiksi Avenger. Di kubu paslon nomor dua, narasi dan pidato Prabowo yang berapi-api tentang ‘make Indonesia great again’ cukup menyita perhatian publik. Seakan inilah sosok pemimpin yang dirindukan. Tegas dan berani. Obrolan tentang gaya kepemimpinan akan turut membumbui kampanye pilpres hingga hari H nanti.
Apapun warna yang berusaha dibangun, rakyat harus tetap jeli dan kritis. Sebab, salah pilih pemimpin bisa berakibat buruk. Salah kelola negara bisa berakibat terpuruk. Indonesia membutuhkan model kepemimpinan yang amanah dan terpercaya. Bukan kepemimpinan yang penuh pura – pura. Setelah menang, malah amnesia dengan janji kampanyenya. Indonesia membutuhkan perubahan dan perbaikan di semua lini kehidupan. Bukan melemah ‘dihajar’ kepentingan kapital. Terjajah di atas tanah sendiri.
Penyelamatan generasi dari liberalisme serta perilaku menyimpang semacam LGBT juga PR besar bagi pemimpin masa depan. Apalah arti sebuah kepemimpinan bila tak mampu selamatkan aset peradaban. Kita tentu mengharapkan Indonesia menjadi negeri penuh keberkahan. Berkah tanahnya, airnya, dan segala sumber dayanya. Bukan menjadi negeri yang dimusuhi alam hingga bencana berdatangan. Mari bangun Indonesia kuat, bertaqwa, dan berkah dengan kembali pada aturan Pencipta manusia, Allah SWT. Semoga, Allah segerakan kepemimpinan yang benar – benar paham bagaimana seharusnya negeri ini dikelola tanpa menabrak aturan Pencipta manusia.[]

Penulis adalah anggota Lingkar
Studi Perempuan dan Peradaban 

Comment

Rekomendasi Berita