by

Dewan Pakar ICMI Pusat: Aneh Pembakar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid Tidak Menjadi Tersangka

Anton Tabah Digdoyo
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Umat Islam sedunia pertanyakan bahkan murka kenapa anggota Banser pembakar bendera bertuliskan kalimat Tauhid di Garut, Jawa Barat tidak menjadi tersangka dan justeru pembawa bendera bertuliskan kalimat Tauhid yang menjadi tersangka.
Terhadap hal ini, radarindonesianews.com, meminta tanggapan Ketua Penanggulangan Penodaan Agama, Dewan Pakar ICMI Pusat, Jendral Polri (pur) Anton Tabah Digdoyo melalui sambungan selular.
“Jika rakyat anggap aneh bisa difahami misalnya dari segi pembuktian aplg dari sosiologi hukum mestinya yg bikin gaduh masyarakat itu yg menjadi tersangka. KUHAP, UU POLRI nomor 2 / 2002 pun mengamanahkan begitu. UU nomor 1 Th 1965 PNPS, Tentang Penodaan Agama dan KUHP psl 156 dan 156a juga cukup tegas dan jelas.” Jelas Anton melalui selular, Senin (29/2018).
Apalagi dengan alasan yang tak masuk akal dengan mengatakan bahwa bendera yang dibakar itu milik HTI tidak sesuai fakta. 
Mantan Jenderal inipun mempertanyakan, apakah jika benar bendera tersebut milik HTI lalu kita boleh seenaknya bertindak dengan membakar seperti itu? Apakah ormas boleh dengan seweang- weang dan represif mengeksekusi dan membakar bendera bertuliskan kalimat Tauhid yang sangat dimuliakan oleh kaum muslim sedunia? 
“Apalagi menyamakan HTI degan PKI. Ini dua hal yang sangat berbeda. PKI sudah tegas dilarang di bumi NKRI dengan ancaman penjara 10 sd 20 tahun bahkan seumur hidup bagi yang melanggar dalam segala bentuk perwujudannya.(KUHP psl 107a s/d f, UU no 27/1999). ” Tambah Anton Tabah Digdoyo.
Sedangkan HTI tanbah Anton, merujuk UU Ormas yang mengatur secara rinci dan yuridis formil, HTI tidak dibubarkan apa lagi dilarang, baru dicabut badan hukumnya karena selama ini tidak memaksakan gagasan. Tidak ada kalimat dibubarkan/dilarang.
Bendera yag dibawa dalam acara HSN di Garut tersebut bukanlah bendera HTI tapi bendera bertuliskan kalimat Tauhid, bendera umat islam se dunia, maka umat islam se dunia murka.
MUI sangat yakin dengan kesaksian di lapangan dengan melakukan pertanyaan langsung kepada ketiga orang yang melakukan pembakaran yang mengatakan bahwa tidak ada tulisan HTI namun mengapa tiba-tiba ada aparat yang mengatakan bahwa itu bendera HTI? Perlu dipahami bahwa dalam AD/ART HTI pun tidak ada klausul tentang bendera tersebut.
“Kesalahan fatal negara jika pembakar bendera bertuliskan kalimat Tauhid tersebut tidak dijadikan sebagai tersangka padahal merekalah biang kekacauan kekacauan luas di negara Muslim terbesar di dunia ini malah menjadikan yang membawa bendera sebagai tersangka.” Tegas Anton Tabah. 
Seluruh umat Islam Indonesia  dan juga umat Islam dunia sera merta mengutuk dan marah terhadap peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid tersebut. Pemerintah cq Wapres, para pemimpin umat Islam se Indonesia merekomendasikan pembakar bendera sebagai yang bersalah tapi hingga hari ini tidak ada respon bahkan sebaliknya justeru menyalahkan pembawa bendera.
“Hal ini makin perkuat kesaksian rakyat bhw rezim ini sgt tdk suka Islam malah pro RRC PKC negara komunis terbesar didunia dan dutambah lg gagal mensejahterakan rakyat dg mdtgkn jutaan TKA kasar dr RRC shg pengangguran dan kemiskinan di Indonesia trs meningkat.” Ujar Anton.
Mantan jendral senior POLRI yang juga kolomnis ini telah menerbitkan lebih dari 40 buku tentang kepolisian ini berpesan agar anggota Ppolri mengamalkan UUD45 ; POLRI harus jadi pelayan pengayom pelindung masyarakat tanpa pilih kasih dan harus tahu politik tapi dilarang keras berpolitik. Jika polri berpolitik, itulah awal hancurnya polri. [Red]

Comment

Rekomendasi Berita