by

Dwi Rahayuningsih: Ada Apa Dengan Islam Nusantara?

Dwi Rahayuningsih, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Siapa yang tak kenal istilah Islam Nusantara? Penggambaran tentang Islam yang toleran, ramah, dan sangat cocok dengan kultur Nusantara yang terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan agama. Istilah Islam Nusantara kembali mencuat tatkala Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Barat menolak gagasan ini. 
Menurut Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013, Mahfud MD menegaskan Islam Nusantara artinya mengindonesiakan Islam. Yaitu membawa Islam dalam realitas-realitas yang ada di Indonesia. Bukan memaksa orang lain atau suatu bangsa untuk masuk Islam. (NU Online, Rabu, 25/7/2018)
Sementara itu, munculnya wacana Islam Nusantara masih simpang siur di antara para penggagasnya. Jika yang dimaksud Islam Nusantara adalah orang-orang yang memeluk Islam di Nusantara, maka harusnya disebut sebagai Muslim Nusantara. Namun tampaknya makna Islam Nusantara ini dimunculkan untuk mengimbangi atau mencegah masuknya Islam Arab yang dianggap transnasional. 
Islam Nusantara dianggap sebagai Islam yang lebih Indonesia. Lebih ramah. Lebih toleran. Dan tidak bertentangan dengan adat istiadat Nusantara. Senada dengan hal demikian, pernah juga muncul gagasan yang bertentangan dengan Islam. Seperti mengganti lafadz azan dengan bahasa Indonesia. Mengganti ucapan “Assalamu’alaikum” dengan “selamat pagi”, membolehkan bacaan salat dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.
Munculnya pergolakan antara “Islam Nusantara” dengan “Islam Transnasional” (Islam Arab) yang dianggap radikal dan terlalu fanatik, menjadikan Islam terkotak-kotak. Seakan-akan Islam Nusantara adalah Islam yang paling baik dan paling layak untuk diterapkan. Pelabelan ini sebenarnya sangat berbahaya bagi umat Islam yang satu. Dimana Islam tidak memiliki embel-embel apapun. Karena sejatinya Islam ya hanya Islam saja. 
Setidaknya ada beberapa kejanggalan dari istilah Islam Nusantara ini. Pertama, adanya klaim Islam Nusantara hanya milik golongan tertentu. Padahal Nusantara bukan milik satu golongan, melainkan lahir dari heterogenitas antara Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan negeri-negeri tetangga yang masuk dalam rumpun Nusantara.
Kedua, Islam Nusantara muncul untuk menentang Islam Arab yang dianggap transnasional. Padahal Islam sendiri datangnya dari Arab. Nabi Muhammad juga dari Arab. Bahasa Alquran juga bahasa Arab. Islam turun sebagai Rahmat bagi seluruh alam. Menyatukan seluruh umat manusia di dunia. Serta penyempurna agama-agama samawi lainnya. Kesempurnaan Islam ini tidak boleh dinodai dengan Islam kelompok atau golongan tertentu.
Ketiga, gagasan Islam Nusantara muncul secara emosional yang dibenturkan dengan Islam Arab. Seolah-olah Islam yang datang dari Arab tidak toleran. Radikal. Tidak sesuai dengan adat dan budaya Indonesia. Tidak memahami keragaman Indonesia sebagai Negara yang majemuk. Padahal Islam sendiri sangat menghormati perbedaan. Karena perbedaan adalah rahmat. 
Jika demikian adanya, maka wajar jika gagasan Islam Nusantara harus ditolak. Pasalnya hal ini tidak sesuai dengan makna Islam Rahmatan Lil ‘aalamin. Selain itu, ide Islam Nusantara juga berbahaya bagi eksistensi Islam itu sendiri. 
Pertama, gagasan Islam Nusantara merupakan upaya untuk memecah belah umat Islam. Hal ini sejalan dengan apa yang telah dirancang oleh Rand Corporation dengan tujuan untuk mencagah umat Islam bersatu mengusih penjajah dari negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia.
Kedua, Islam Nusantara melahirkan pemikiran-pemikiran fasad. Beredarnya video nyanyian wathaniayah di tanah suci, azan berbahasa Indonesia, pembacaan Ayat Suci Alquran dengan langgam jawa, bacaan salat berbahasa Indonesia, adalah beberapa contoh pemikiran rusak yang telah muncul. 
Melihat berbagai bahaya tersebut, maka sudah selayaknya bagi kaum muslim, para ulama, dan mubaligh untuk menolak tegas Islam Nusantara. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, adalah agama yang sempurna yang turun dari Allah. Seluruh aturan kehidupan sudah ada di dalamnya. 
“Hari ini telah Aku (Allah) sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan telah Aku ridloi Islam sebagai agamamu…” (QS. Al-Maidah:3)


Penulis adalah Praktisis Pendidikan dan Anggota Revowriter

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 1 =

Rekomendasi Berita