by

Epi Aryani:Challenge Kikis Keimanan Remaja Muslim

Epi Aryani, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Penasaran dengan 2 challenge yang katanya lagi viral di dunia maya. Kiki challenge dan momo challenge. 
Yassalam, ternyata pelakunya bikin nyawa jadi permainan. Pada kiki challenge, pelaku akan keluar dari mobil sambil terus membuka pintunya, berjoget-joget di samping mobil yang berjalan pelan. Lagunya asyik. Dentuman bass nya membuat pelakunya terkadang lupa diri. Bahwa mereka sedang menari di jalan. Dimana mereka bisa tertabrak oleh mobil lain ketika sedang asyik menari. 
Banyak publik figure Indonesia yang sudah melakukan kiki challenge ini, sehingga memicu anak-anak jaman now yang mayoritas muslim untuk melakukan hal serupa. Sukarela demi eksistensi diri.
Selain itu, ada lagi momo challenge yang tak kalah berbahaya, bahkan merenggut korban jiwa. Diberitakan seorang remaja putri di Argentina (liputan6.com) dan 12 anak di Meksiko tewas setelah mengikuti callenge ini (tribunjakarta.com).
Untuk ikut challenge ini, seseorang harus kontak dulu ke nomer whatsapp momo dan akan diberikan tantangan tertentu yang harus dilakukan selama 15 hari berturut-turut. Biasanya tantangannya berupa ajakan bunuh diri. Seperti mengirimkan foto atau video sedang gantung diri dan sebagainya. Ngeri. 
Belakangan nomer whatsapp momo sudah tidak aktif dan tidak diketahui identitas aslinya.
 Mengikis Keimanan 
Selain membahayakan jiwa, kedua permainan ini juga membahayakan keimanan, karena lahir dari budaya permisiv (serba boleh) dan hedonis (kesenangan/kenikmatan duniawi adalah tujuan utama kehidupan) yang berasal dari aqidah sekuler (memisahkan agama dengan kehidupan). Tentu tidak layak diikuti.
Sebagaimana Rosululloh telah mengabarkan:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Musim – Shahih)
 Permainan Tidak Bermanfaat 
Sebagai seorang muslim, kita tidak di syariatkan untuk menekuni hal-hal yang tidak berguna, Nabi SAW mengabarkan:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
 Generasi Islam, Generasi Cemerlang 
Sejarah telah mencatat dengan tinta emas, betapa kegemilangan Islam ditopang oleh tangan-tangan para pemudanya.
Di dalam Islam, manusia dikategorikan menjadi 2. Anak-anak dan dewasa. Masa kanak-kanak adalah masa ditanamkannya aqidah secara kuat. Dibina keimananya. Sehingga ketika memasuki usia baligh, dia telah siap menanggung taklif/beban hukum syara dalam setiap perbuatannya. Yaitu wajib/fardu, sunah/mandub, haram, makruh, mubah.
Sehingga menjadi sebuah keniscayaan, akan muncul generasi berkepribadian Islam yang visioner, produktif, kreatif dan inovatif dalam kebaikan.
Layaknya Usamah Bin Zaid, sahabat cilik yang dibina langsung oleh Rosululloh layaknya cucunya sendiri. Dengan nuansa kasih sayang dan keimanan yang kental dari orang tuanya. Maka tumbuhlah Usamah menjadi pemuda yang percaya diri. Dan menjadi dambaan umat. Kulitnya yang hitam, pesek dan pendek tidak membuatnya minder, karena Islam tidak memandang kemuliaan hanya dari fisik semata.
Ia mulai karir militer di usia 15 tahun. Kemudian terpilih menjadi panglima dalam perang melawan Romawi di usia belum genap 20 tahun. Dengan membawahi para sahabat senior, Usamah pulang dengan membawa kemenangan.
Belum pernah terjadi pasukan bertempur yang kembali dengan utuh (tanpa ada satu pun yang terluka) dan membawa begitu banyak harta rampasan perang kecuali yang telah dilakukan Usamah Bin Zaid.
Dan masih banyak contoh, pemuda dengan karir gemilang hasil dari pembinaan Islam.
Maka sudah sepatutnya, peradaban Islam sebagai penyelamat generasi wajib diperjuangkan bersama untuk mencegah hilangnya generasi terbaik. Bukankah Allah telah mengabarkan bahwa kaum muslim adalah umat terbaik yang diciptakan untuk umat manusia. Maka tidak bisa tidak, generasi terbaik harus muncul dari sistem yang juga baik, yaitu Islam. Wallahu A’lam

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + 19 =

Rekomendasi Berita