by

Gara-Gara Isu Reshuffle, Menteri Tak Fokus Kerja

Pengamat LIPI, Siti Zuhroh (tengah).[Suroto/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Walau sudah dibantah Presiden Joko Widodo, isu reshuffle Kabinet Kerja masih saja menggema. Setelah Presiden menepis isu itu, politisi PDIP Darmadi Durianto malah memberikan keterangan lebih rinci, Kamis (29/12/2016) kemarin.

Darmadi bahkan terang-terangan menyebutkan, Muhadjir Efendi (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), Airlangga Sutarto (Menteri Perindustrian), Amran Sulaiman (Menteri Pertanian), dan Rini Soemarno (Menteri BUMN) sedang dievaluasi Presiden.

Ketika diminta komentarnya mengenai isu ini, pengamat politik Siti Zuhro mempertanyakan relevansi, signifikasi, dan urgensi melakukan resuflle kabinet dalam waktu dekat.

“Pertanyaan publik tentunya apa relevansi, signifikasi, dan urgensinya. Ini kan akan membuat para menteri tidak nyaman dan merasa waswas dalam bekerja karena memikirkan reshuffle,” katanya Jumat (30/12/2016).

Dia meminta sebaiknya diberikan waktu kepada para menteri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Kalau ada yang kurang, para menteri bisa dibimbing dan diberikan quidance.


Apalagi kalau reshuffle jadi dilakukan, akan merupakan yang keempat kali bongkar pasangan Kabinet Kerja. Apalagi baru kali ini dalam sejarah Indonesia, menteri yang baru saja dicopot dilantik lagi.

“Ressuflle memang hak prerogratif Presiden. Tapi harus dipikirkan matang sebelum melakukannya, karena walaupun kecil pasti ada dampaknya. Misalnya kepada partai koalisi, menteri, maupun konsentrasi kerja para menteri,” ujarnya.

Siti juga meminta agar dalam memilih menteri dan pemimpin lembaga negara harus ada tolok ukur, indikator, dan syarat-syaratnya. “Jadi integritas, kompetensi, dan indikatornya untuk mengisi posisi tertentu harus terukur, sehingga tidak sebentar-sebentar dilakukan reshuffle,” tegasnya.

Siti mengharapkan, kalau benar-benar reshuffle adalah keinginan Presiden, Jokowi harus memiliki perhitungan yang clear dan terukur dalam mengangkat seorang pembantu.

Di sisi lain, ketimbang memikirkan reshuffle, Siti mengharapkan Presiden menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah yang cukup krusial. Seperti masalah hukum, kesenjangan sosial yang begitu nyata dan menjadi bahaya laten, keadilan, ekonomi, maupun demokrasi. (nga/tb)

Comment

Rekomendasi Berita