by

Guru Nonmuslim Boleh Mengajar Di Madrasah, Apa Kata Dunia? 

-Opini-21 views

 

 

Oleh: Mamik Laila*

RADARINDONESIANEWS.COM,  — Menurut PMA, peraturan menteri agama tentang pengangkatan guru madrasah khususnya pada bab VI pasal 30 dicantumkan tentang standar kualifikasi umum calon guru madrasah (khususnya pada poin a), yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Tidak disebutkan bahwa harus beragama islam,” terang Andi Syaifullah, seperti yang dikutip dari suarasulsel.id/30/1/2021.

Dia melanjutkan bahwa guru non muslim akan mengajarkan mata pelajaran umum, bukan pelajaran agama sehingga menurutnya itu tidak masalah.

Meskipun menggunakan nama moderasi agama, kebijakan seperti itu tidak pantas untuk dilakukan. Entitas muslim di Indonesia sejak dahulu adalah umat yang paling banyak menyumbang generasi di negara ini. Sehingga wajar mengkhususkan guru yang mengajar di sekolah madrasah adalah guru-guru muslim dan sudah menjadi konsensus umum.

Guru adalah garda depan dalam membentuk generasi. Baiknya guru akan mencerminkan generasi nantinya seperti apa. Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya memberikan materi sesuai KD yang diajarkan. Guru memberikan kontribusi lain yaitu berkontribusi memberikan contoh dan perilaku yang akan menjadi panutan bagi siswa.

Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berfokus pada kognitif saja, ada afektif dan psikomotor. Hal ini dapat dibayangkan, ketika seorang guru non muslim mengajar di lingkungan madrasah dengan tidak berbusana muslimah (untuk guru perempuan, red). Maka keberadaannya akan memberi suasana dan pengaruh lingkungan kelas dan juga sekolah.

Mereka akan melihat bahwa gurunya tidak memakai busana muslim, maka boleh dong mereka juga melakukannya. Ibarat pepatah, orang tua kencing berdiri anak kencing berlari.

Filosofi mendasarnya bahwa apa yang menjadi sikap dan perilaku guru akan terekam jelas oleh siswa.

Para sahabat dan para salafus Sholih sangat serius dalam memilihkan guru untuk anak-anaknya. Sebab, guru adalah cermin yang dilihat oleh anak sehingga akan membekas di dalam jiwa dan pikiran mereka. Guru juga menjadi sumber pengambilan ilmu.

Selain itu mereka juga memberikan nasehat pada anak-anaknya supaya mempelajari adab sebelum mengambil ilmu. Adab bisa tercermin dari perilaku guru yang diambil dari muatan ilmu-ilmu dalam syariat Islam. Dapatkah ini berlangsung bila status gurunya nonmuslim? Sangat sulit tentunya seorang nonmuslim mengajarkan adab Islam. Lalu, apa kata dunia?

Di dalam kitab adabul ‘alim wa muta’alim, seorang murid (orang tua murid) hendaklah memilihkan guru yang sholih. Memiliki akhlak  dan mengajarkan adab pada murid sehingga tidak diragukan lagi bahwa peran guru itu sangat penting dalam membentuk kepribadian seorang murid.

Sekolah madrasah hadir menjawab keresahan generasi muslim dalam hal memberikan pendidikan yang baik untuk generasi muslim. Tujuan mereka, supaya generasi muslim mendapatkan pendidikan yang berlandaskan agama. Di saat pendidikan agama dipandang sebelah mata. Madrasahlah benteng yang diharapkan mampu menjaga entitas kepribadian generasi muslim.

Di saat kerusakan moral bangsa semakin meluncur seperti roket sampai di ambang batas kewajaran. Apa kata dunia, ketika guru non muslim akan mengajar generasi-generasi muslim di lingkungan madrasah?

Di samping itu, dikhawatirkan akan rentan terbukanya pendangkalan akidah apabila guru nonmuslim berinteraksi dengan peserta didik yang masih perlu bimbingan di lingkungan madrasah.

Tidak dapat dibayangkan, generasi muslim tidak akan mendapatkan figur contoh suri tauladan kesholihan seorang guru.

Eksistensi guru nonmuslim di madrasah dan sebaliknya, meskipun tidak mengajarkan agama, sepatutnya dikaji ulang demi menjaga hubungan baik antar agama yang telah terbangun selama ini. Wallahu’alam.[]

*Praktisi pendidikan

_____

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat menyampaikan opini dan pendapat yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Setiap Opini yang ditulis oleh penulis menjadi tanggung jawab penulis dan Radar Indonesia News terbebas dari segala macam bentuk tuntutan.

Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan dalam opini ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawab terhadap tulisan opini tersebut.

Sebagai upaya menegakkan independensi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Redaksi Radar Indonesia News akan menayangkan hak jawab tersebut secara berimbang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 1 =

Rekomendasi Berita