by

Hanif Kristianto, Analis Politik dan Media: Numpang Ngiklan Pemimpin Idaman

Hanif Kristianto
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tidak semua orang baik dan dipandang bersih layak jadi presiden dan wakil presiden Indonesia. Tidak semua yang diiklankan capres dan cawapres akan dipilih maju dalam pemilihan. Begitu pun, tidak semua yang memiliki kepedulian pada negara, bangsa, dan perbaikan rakyat bisa maju dalam kontestasi.

Sebelum tahun 2019, rakyat disuguhi kandidat yang pantas menjadi pasangan capres-cawapres. Baik individu, parpol, komunitas, kelompok keagamaan, dan publik mencocok-cocokan figur. Tampaknya figuritas masih dijadikan nilai integritas. Sayangnya, publik mudah lupa bahwa untuk menuju kursi kepresidenan ‘sabda’ dan koalisi partailah yang menentukan. Survey dan penelitian sekadar alat ukur mengetahui keinginan publik.

Bisa jadi wajah yang nampang dalam iklan bursa capres-cawapres sekadar tenar. Secara hitungan politis dan bisnis, yang dipilih tentu yang mau tunduk pada kepentingan. Sistem demokrasi meniscayakan kepentingan kekuasaan di atas segalanya. Rakyat hanya pemanis di kala obral janji-janji. Nasib rakyat selalu menjadi pelengkap derita demi derita.

Kesadaran umat Islam khususnya dan rakyat pada umumnya harus dipandu secara benar. Kumpulan manusia Indonesia belumlah memiliki kesadaran politik. Rakyat mudah terkesima dengan sosok pencitraan. Tatkala jadi pemimpin, meski kebijakannya kejam dan dzalim, rakyat pun diam. Justru pemimpin itu bersikap tangan besi dan antipati rakyat. Berkaca dari segala peristiwa adalah sikap terbaik bagi rakyat.

Sungguh bencana besar bagi rakyat Indonsia di era fitnah politik demokrasi. Meski mayoritas menginginkan sosok ulama dan nasionalis bersatu, mereka akan dikalahkan kendali internasional dan lokal. Kehadirannya memang tak tampak dan ini yang tidak disadari rakyat. Rakyat terlalu sibuk mencocokan dan berhitung untung rugi. Mereka lupa bahwa ini medan politik demokrasi yang ilusi dan manipulasi. Rakyat akan sangat mudah dikooptasi jiwa, raga, dan nyawanya demi syahwat kekuasaan.
Percayalah, manusia-manusia yang menumpang iklan untuk capres-cawapres sejatinya tidak berjuang untuk rakyat. Niat mereka untuk menyejahterakan dan membebaskan rakyat dari nista, apa daya ada kekuatan global yang tak bisa dilawan. Kekuatan itu berupa tekanan internasional, kepentingan kapitalis global, dan negara-negara yang meraup untung di Indonesia. Jika ingin melawan kekuatan besar itu, dibutuhkan ideologi yang sahih dan negara yang berdaulat di atas hukum Allah.

Pemimpin Indonesia idaman seharusnya mampu tunduk pada hukum Allah, menerapkan syariah-Nya, ketaqwaannya tinggi, berdaulat tanpa tunduk pada asing-aseng, cerdas, arif bijaksana, dan negarawan sejati yang mampu mengelola negara. Gaya politiknya penuh dengan kepentingan mengurusi rakyat sepenuh hati dan jiwa. Serta dia mampu tampil dalam pentas dunia sebagai pemimpin negara yang disegani oleh kawan maupun lawan. Model pemimpin seperti ini sesungguhnya ada dan hadir bersama rakyat.
Oleh karena itu, siapa pun yang saat ini ditampilkan dan ditawarkan ke publik, mereka hanyalah Presiden dan Wakil Presiden iklan. Pasca mereka tidak terpilih, ronanya berubah dan mencari tempat singgah dalam roda perpolitikan. Lagi-lagi, rakyat harus selalu waspada di tahun politik. Politisi sekadar bermain sirkus dan rakyat yang diminta membayar tiket untuk menontonnya. Nasib-nasib di republik iklan! Segera buatlah arus baru, sebelum Anda dilumat tsunami demokrasi.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 3 =

Rekomendasi Berita