Penulis: Vie Diharjo | Komunitas Ibu Hebat
RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Setiap kali Maulid Nabi Muhammad SAW tiba, kita kembali mengenang sosok mulia yang menjadi teladan bagi dunia. Kita bershalawat, membaca kisah perjuangan beliau, serta mempelajari kesabaran, keteladanan, dan pengorbanannya.
Namun, setiap kali memperingati kelahiran beliau, ada pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: Jika Nabi adalah teladan kita, apa yang sudah kita lakukan untuk melanjutkan perjuangannya?
Pertanyaan ini penting karena mencintai Nabi tidak boleh berhenti pada kekaguman terhadap kehidupannya. Keteladanan tidak berhenti pada kekaguman, tetapi semestinya melahirkan kesadaran, keberanian, dan tindakan.
Allah SWT berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21).
Ketika Nabi Hadir di Tengah Masyarakat yang Bermasalah
Rasulullah SAW tidak lahir dalam kondisi masyarakat yang sudah tertata dan baik. Beliau hadir di tengah masyarakat yang mengalami krisis akidah, kerusakan moral, penindasan terhadap kelompok lemah, kesenjangan sosial, serta berbagai praktik kehidupan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan ketundukan kepada Allah SWT.
Namun, beliau tidak memilih menjadi penonton.
Rasulullah SAW membawa risalah, mendidik generasi, menguatkan keluarga, membina masyarakat, serta menanamkan keimanan dan akhlak.
Beliau menghadapi penolakan terhadap risalah yang dibawanya dengan kesabaran dan menghadapi berbagai tantangan dengan keteguhan karena membawa visi perubahan yang jelas.
Di sinilah perenungan yang lebih dalam perlu dilakukan: apakah kita hanya memperingati kelahiran Nabi yang membawa perubahan, atau turut menjadi bagian yang memberikan kontribusi terhadap perubahan?
Ketika Persoalan Manusia Terus Berubah
Kita hidup pada zaman yang berbeda dengan masa Rasulullah SAW. Persoalan yang dihadapi memang tidak sepenuhnya sama, tetapi akar persoalannya memiliki sejumlah kemiripan – krisis moral, ketimpangan sosial, melemahnya kepedulian sosial, krisis keteladanan, persoalan keluarga, tantangan pendidikan, hingga derasnya arus informasi yang tidak selalu membawa kebenaran dan kebaikan.
Generasi muda saat ini menghadapi persoalan yang kompleks. Salah satunya adalah krisis identitas. Identitas sering kali dibentuk berdasarkan tren, influencer, atau penerimaan sosial.
Banyak anak muda berusaha membangun citra berdasarkan bagaimana mereka ingin dilihat oleh orang lain.
Mereka juga hidup di tengah derasnya arus informasi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan menyaring informasi secara kuat. Akibatnya, mereka mudah terpapar hoaks, disinformasi, manipulasi konten, deepfake, hingga algoritma yang secara perlahan dapat memengaruhi cara pandang mereka.
Karena itu, generasi muda membutuhkan keteladanan yang hadir di tengah-tengah mereka. Mereka membutuhkan figur yang dapat dilihat, dirasakan, dan ditiru.
Ketika orang dewasa hanya banyak berbicara tentang nilai, tetapi tidak memberikan contoh dalam kehidupan nyata, pesan moral akan kehilangan kekuatannya.
Perubahan Dimulai dari Manusia
Rasulullah SAW menghadapi masyarakat yang kehilangan nilai dan arah kehidupan. Beliau tidak hanya menyampaikan informasi dan nasihat, tetapi membangun manusia.
Sebab, perubahan masyarakat tidak dapat dilakukan tanpa perubahan manusia.
Assabiqunal Awwalun, yakni orang-orang yang pertama menerima dan mengikuti dakwah Nabi SAW dari kalangan generasi awal para sahabat, menjadi contoh bagaimana Rasulullah SAW membangun perubahan melalui pembinaan manusia.
Rasulullah SAW memulai perubahan dengan mendidik manusia dari berbagai lapisan dan latar belakang. Pembinaan itu dimulai dengan mengubah cara berpikir, keyakinan, kepribadian, dan orientasi hidup.
Dari jahiliah menuju Islam. Dari penyembahan terhadap banyak sesembahan menuju tauhid. Dari fanatisme kesukuan menuju persaudaraan. Dari kepentingan pribadi menuju kepedulian terhadap umat.
Dari ketakutan kepada manusia menuju ketundukan kepada Allah. Dari kehidupan tanpa arah menuju visi kehidupan. Dari sikap pasif menjadi pengemban risalah.
Para Assabiqunal Awwalun ditempa menjadi pribadi yang memiliki syakhsiyah Islamiyah atau kepribadian Islam.
Dari Perubahan Manusia Menuju Perubahan Masyarakat
Individu-individu yang memiliki syakhsiyah Islamiyah akan memengaruhi nilai dan tujuan yang berkembang di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya berusaha menjadi pribadi yang baik, tetapi juga memiliki kepedulian ketika terjadi kemungkaran atau persoalan sosial.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar.”
Nilai-nilai Islam tidak hanya berhenti dalam pikiran individu, tetapi diharapkan dapat diinteraksikan sehingga membentuk kesadaran bersama, perasaan yang sama, bahkan aturan dalam mengatur kehidupan berdasarkan nilai-nilai Islam.
Perubahan masyarakat itu tergambar dalam fase hijrah Rasulullah SAW ke Madinah.
Di Madinah, Rasulullah SAW membangun kehidupan sosial yang berlandaskan aturan-aturan Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi fase penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW untuk membangun kehidupan yang berlandaskan ketundukan kepada aturan Allah.
Setelah hijrah, Islam tidak hanya menjadi pedoman dan keyakinan pribadi, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun kehidupan masyarakat di berbagai aspek, termasuk keluarga, pendidikan, ekonomi, sosial, politik dalam negeri dan luar negeri, hingga pertahanan dan keamanan.
Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Ra’d ayat 11:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Perubahan yang Dimulai dari Mutiara Umat
Pelajaran dari Madinah mengingatkan kita bahwa membawa perubahan tidak cukup hanya dengan mengubah individu dan membentuk kesalehan personal.
Diperlukan pula upaya membangun masyarakat yang memiliki kesadaran, perasaan, dan aturan kehidupan yang semakin dekat dengan ketentuan Allah, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW ketika menjadi pemimpin di Madinah.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Apakah saya sudah berhijrah?” tetapi juga, “Sudahkah perubahan dalam diri saya memberikan kontribusi terhadap perubahan masyarakat menuju kehidupan yang diridai Allah?”
Gerakan perubahan tidak dapat dilepaskan dari kehadiran para mutiara umat: ulama dan umara, intelektual, serta cendekiawan yang berada di tengah masyarakat.
Individu-individu yang kuat akidahnya, luas ilmunya, dan kokoh kepribadian Islamnya dapat menjadi penggerak perubahan menuju kehidupan yang diridai Allah.
Peran mutiara umat menjadi penting dalam mewujudkan perubahan. Mereka memiliki kewajiban mempelajari dan memahami Islam, kemudian menyampaikan kebaikannya di tengah masyarakat.
Mereka juga dituntut menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Islam tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga ditunjukkan melalui perilaku. Dengan ilmu dan keteladanan, masyarakat diajak mencintai Islam tidak hanya secara emosional, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman kehidupan.
Mutiara umat dapat hadir di berbagai ruang publik, mulai dari sekolah, kampus, tempat kerja, komunitas, hingga lingkungan masyarakat. Sebagai penggerak perubahan, mereka dapat menjadi perekat umat dan menghubungkan masyarakat dalam berbagai kebaikan.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
Peran strategis yang tidak kalah penting adalah melahirkan generasi mutiara umat berikutnya agar perjuangan menghadirkan kehidupan Islam dalam berbagai aspek terus berlangsung.
Orang tua, guru, aktivis dakwah, dan para profesional Muslim dapat menjadi mata rantai dalam membentuk generasi yang memiliki syakhsiyah Islamiyah.
Kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam membutuhkan individu-individu yang ditempa oleh ajaran Islam, sebagaimana dicontohkan Nabi SAW ketika membina generasi Islam di Makkah yang kemudian menjadi penggerak kehidupan masyarakat di Madinah.
Maka, jika Nabi Muhammad SAW adalah teladan, saatnya kita melanjutkan perjuangan beliau dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Islam – menyebarkan ilmu, menghadirkan keteladanan, membangun kepedulian, dan berkontribusi menghadirkan kehidupan yang diridai Allah SWT. Wallahu a’lam bishawab.[]














Comment