by

Kanti Rahmillah, M.Si: Puasa dan Pemimpin Adalah Perisai

Kanti Rahmillah, M.Si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bulan Ramadhan adalah bulan mulia. Bulan pengampunan dosa. Bulan tempat berlatihnya menahan syahwat dunia. Maka, bagi umat muslim, puasa adalah Junnah/perisai diri agar senantiasa terjaga ketaatannya. Dan terbebas dari kedurhakaan terhadap syariatNya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Selain puasa, kata Junnah pun dipakai untuk sebutan pemimpin/imam. Karena seorang pemimpin dalam kacamata Islam adalah Junnah/perisai/pelindung yang akan melindungi umat dari keterpurukan dan kezaliman.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sesungguhnya Al imam adalah perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu        Dawud, dll)
Jelaslah sudah, seorang imam atau pemimpin adalah pelindung umat. Melindungi dari apa?
Menurut al-Hafizh Abu Zakariya bin Syarf al-Nawawi dalam kitab syarahnya atas Shahih Muslim. 
قوله صلى الله عليه وسلم: (الإمام جنة) أي: كالستر لأنه يمنع العدو من أذى المسلمين، ويمنع الناس بعضهم من بعض، ويحمي بيضة الإسلام، ويتقيه الناس ويخافون سطوته 
”Sabda Rasulullah SAW: (الإمام جنة) yakni seperti al-sitr (pelindung), karena Imam (Khalifah) mencegah musuh dari perbuatan mencelakai kaum muslimin, dan mencegah sesama manusia (melakukan kezhaliman-pen.), memelihara kemurnian ajaran Islam, rakyat berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”
Lantas, sudahkan pemimpin negeri ini menjadi Junnah rakyatnya? Imam yang senantiasa memenuhi kebutuhan hidup warganya? memelihara kemurnian ajaran Islam? Imam yang melindungi rakyatnya dari marabahaya? 
Potret buram tata kelola negeri ini telah menjadi bukti akan buruknya penguasa saat ini. Umat dipaksa berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Para kapitalis, dibiarkan mengeruk Sumber Daya Alam, yang seharusnya diperuntukan bagi kemaslahatan umat. Sungguh, hanya dengan Islam lah, karakter pemimpin sebagai Junnah akan terwujud.
Mampukah Indonesia memiliki Karakter Pemimpin sebagai Junnah?
Kemelut pemilu kali ini belum usai. Kematian petugas KPPS yang hampir 600 orang telah mengusik hati nurani warga Indonesia. Bukan pada perkara menang atau kalah lagi yang menjadi permasalahannya. Namun kecurangan yang dipertontonkan dengan telanjang. Telah mendorong umat, untuk tidak diam dalam masalah ini.
Ditambah pesawat tempur milik AS dan China bahkan Australia yang telah mendarat di tanah air. Terakhir pesawat tempur milik Perancis yang mendarat di Aceh, telah menambah ketegangan pemilu kali ini. Ada apa? Mengapa mereka mendarat dengan darurat disaat genting seperti ini?
Namun yang pasti, mereka punya kepentingan besar dalam perubahan perpolitikan negeri ini. Bagaimana tidak, SDA yang melimpah telah menjadi daya tarik bangsa-bangsa yang ingin menguasainya. Mereka harus bisa memastikan, bahwa pemimpinnya adalah dia yang bisa diajak kerjasama.
Padahal di dalam Islam. Pemimpin adalah Junnah atau pelindung bagi rakyatnya. Dia tidak boleh bekerjasama dengan siapapun yang dapat mendzolimi umat. Penguasaan SDA oleh asing, tentu akan merugikan umat. Dan menguntungkan penjajah. Maka, haram pemimpin yang menggadaikan umat, demi kepentingan diri dan golongannya. 
Maka, jika ditanyakan bisakah Indonesia memiliki pemimpin yang berkarakter sebagai Junnah? Jawabannya tentu sangat bisa. Namun dengan syarat yaitu  Indonesia menerapkan syariat Islam dengan Kaffah. Karena hanya negara yang menerapkan syariat Islamlah, akan terlahir pemimpin yang berkarakter Junnah.
Mudah-mudahan, di bulan yang mulia ini, kita dapat mewujudkan kedua Junnah tersebut. Puasa yang menghantarkan pada ketaatan dan Pemimpin yang menghantarkan pada kemaslahatan.[]

Comment

Rekomendasi Berita