Kelaparan Sistemik: Strategi Baru Genosida di Gaza, Umat Islam Harus Bangkit Menyuarakan Solusi Hakiki

Opini800 Views

Penulis: Meli Yuliani | Mahasiswi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Krisis kemanusiaan di Gaza kini bukan sekadar konflik militer atau blokade ekonomi. Ia telah berkembang menjadi bentuk baru genosida sistemik—melalui kelaparan yang disengaja. Sejak gencatan senjata gagal diperpanjang dan Israel memberlakukan blokade penuh pada Maret 2025, warga Gaza menghadapi situasi yang kian tidak manusiawi.

Sebagaimana ditulis Antaranews (2025), Israel menutup akses ke 71 persen wilayah Jalur Gaza, membuat distribusi bantuan kemanusiaan hampir mustahil.

Sindonews.com (26/7/2025) mencatat, lebih dari 1.000 truk bantuan dihancurkan Israel di tengah kelaparan akut yang melanda.

Anak-anak menjadi korban paling rentan; ribuan meninggal akibat kekurangan gizi berat dan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, sebagaimana ditulis cnbcindonesia.com (23/7/2025).

BBC Indonesia juga melaporkan, keluarga Palestina kini bertahan hidup dengan sisa makanan tak layak konsumsi, atau bahkan tanpa makan sama sekali.

Tragisnya, ini bukan kebetulan. Sejumlah pernyataan pejabat tinggi Israel mengindikasikan adanya agenda sistematis. Sebagaimana ditulis Republika.co.id (23/7/2025), seorang Menteri Keamanan Nasional Israel secara terang-terangan menyatakan ketidakpeduliannya terhadap bencana kelaparan, bahkan menginginkan seluruh wilayah Gaza menjadi wilayah Yahudi. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa kelaparan adalah bagian dari strategi pembersihan etnis yang terencana.

Dunia internasional tampak tak berdaya. PBB tak memiliki kekuatan nyata untuk memaksa Israel membuka blokade, terlebih setelah veto Amerika Serikat kembali menjadi tameng bagi kejahatan perang tersebut. Bahkan, sebagaimana ditulis Tempo.com (26/7/2025), sebanyak 34 mantan duta besar Uni Eropa mendesak tindakan tegas terhadap Israel—sebuah sinyal betapa parahnya situasi ini di mata komunitas diplomatik.

Namun, yang lebih menyedihkan adalah diamnya mayoritas pemimpin negara-negara Muslim. Padahal, bila bersatu, mereka memiliki kekuatan politik dan ekonomi yang cukup besar untuk menekan rezim zionis. Sayangnya, banyak yang justru memilih jalur diplomasi lunak atau menjalin hubungan menguntungkan dengan penjajah.

Umat Islam harus kembali menyadari bahwa solusi hakiki tidak cukup berhenti pada donasi dan doa. Sejarah mencatat, ketika umat memiliki kepemimpinan yang kuat dan berlandaskan syariat, mereka mampu membebaskan wilayah tertindas, menolong kaum lemah, dan menegakkan keadilan global. Pada masa kejayaan islam, bantuan militer dan logistik bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan.

Kebangkitan umat hari ini harus diarahkan pada kesadaran mendalam akan urgensi penegakan kepemimpinan Islam global sebagai solusi sistemik bagi Palestina dan dunia Islam. Dakwah dan gerakan ideologis perlu menggugah kesadaran, memperkuat keimanan, dan mengarahkan energi umat pada perjuangan terorganisir yang berpijak pada syariat.

Solusi hakiki bukan mimpi, melainkan kebutuhan mendesak. Gaza memanggil, dan panggilan itu hanya akan terjawab ketika umat bersatu dalam visi perubahan yang bersumber dari wahyu Ilahi.

Saatnya umat Islam bangkit, bukan sekadar peduli, tetapi bertindak nyata menjemput kemenangan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Wallahu a‘lam bishshawab.[]

Comment