by

Kepuasan Masyarakat Terhadap Kinerja Jokowi-JK Dan Peta Politik Pemilu Serentak

Jokowi JK.[Dok/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Penelitian oleh INES ini dilakukan di 33 (tiga puluh tiga) provinsi di Indoensia. Pelaksanan survei pada 22 November -1 Desember 2017. Jumlah responden sebanyak 2180 orang. Para responden pada penelitian ini tersebar secara proposional di 178 kabupaten/kota. Data berasal dari laki-laki dan perempuan yang bekerja di sektor domestik atau publik, dengan aneka profesi dengan ragam pendidikan dan ragam umur. Margin of error ± 2,1% pada tingkat kepercayaan 95%.
A.Keadaan Ekonomi diera Pemerintahan Joko Widodo -JK 
1.Keada Ekonomi Keluarga Masyarakat dalam 3 Tahun terakhir. Keadaan Ekonomi Keluarga dalam temuan Survei sebanyak 68,3% mengatakan mereka kekurangan, pendapatan yang dihasilkan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dikurangi bahkan terpaksa diabaikan. Misalnya pakaian dan kebutuhan lauk pauk yang disediakan.
Sementara 27,8% mengatakan cukup, tidak ada sisa pendapatan yang bisa disimpan. 
Dan sisanya sebanyak 3,9% menyatakan ada peningkatan pendapatan.
2. Lapangan Kerja. 71,7% responden menyatakan selama 3 (tiga) tahun terakhir sangat sulit mencari pekerjaan. 26,7% mengatakan ada lapangan kerja tapi banyak yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikan ataupun keahlian yang dimiliki masyarakat. Sebanyak 1,6% menyatakan tersedia lapangan kerja (Banyak).
B.Pra Pemilu dan Pilpres 
Tingkat Elektabilitas Parpol  Jika pemilu di gelar hari ini, partai mana yang akan saudara pilih?
Pilihan Masyarakat Terhadap Partai ( %)
PERINDO
3,1
PSI
0,3
PDIP
16,1
HANURA
3,1
NASDEM
4,2
PAN
6,9
PKS
5,2
GERINDRA
21,8
GOLKAR
7,1
PPP
3,8
PARTAI BERKARYA
0,2
PARTAI DEMOKRAT
8,4
PKB
6,7
PARTAI IDAMAN
0,2
PKPI
0,3
PBB
1,1
TIDAK MEMILIH
11,5
Tingkat Elektabilitas Tokoh Jika Pilpres diglar hari ini. Nama 12 Tokoh Yang di Uji  Tingkat Elektabilitas (%)
JOKOWI
27,2
PRABOWO
41,8
GATOT NURMANTYO
7,8
ANIS BASWEDAN
1,1
SRI MULYANI
1,1
PUAN MAHARANI
5,7
AGUS YUDHOYONO
1,1
HARRY TANOE
0,7
ZULKIFLI HASAN
2,1
MUHAIMIN ISKANDAR
1,7
RIZAL RAMLI
1,6
TITO KARNAVIAN
1,7
TIDAK MEMILIH
6,4
Nama 8 Tokoh Yang di Uji
Tingkat Elektabilitas (%)
JOKOWI
29,6
PRABOWO
43,2
GATOT NURMANTYO
6,6
PUAN MAHARANI
5,1
ZULKIFLI HASAN
2,1
MUHAIMIN ISKANDAR
1,7
SRI MULYANI
6,2
AGUS YUDHOYONO
1,1
TIDAK MEMILIH
4,4
Nama 3  Tokoh Yang di Uji
Tingkat Elektabilitas (%)
JOKO WIDODO
31,1
PRABOWO SUBIANTO
52,2
GATOT NURMANTYO
16,7
Kesimpulan 
Dari kuisoner yang diberikan para surveyor kami, mayoritas responden telah mengetahui akan adanya pemilu serentak pada bulan April 2019. Pengetahuan ini mereka dapatkan lebih banyak melalui media sosial. Hal ini tentu saja sangat rawan bagi kesuksesan hajatan demokrasi kita, dikarena masyrakat bisa menginterprestasikan sendiri pengetahuan yang mereka dapat sehingga bisa terjadi kesalahan-kesalahan yang akan merugikan bagi pelaksanaan pemilu itu sendiri.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus lebih giat lagi melakukan sosialisasi akan pelaksanaan pemilu serentak ini. Memberikan pengetahuan sampai pada hal-hal teknis di lapangan karena banyaknya tingkatan yang harus di pilih oleh masyarakt. Semisal dengan melakukan simulasi-simulasi dan sejenisnya.
Dalam pandangan responden, Pancasila dan UUD 45 adalah barang final, sudah tidak bisa diganggu-gugat. Hanya saja permaslahannya menurut responden adalah undang-undang atau peraturan-peraturan turunannya lebih banyak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45 itu sendiri. Semisal pelaksanaan dari pasal 33 UUD 1945, dimana perekonomian lebih banyak dikuasai oleh pihak swasta dan asing.
Slogan “Saya Pancasila” hanya sebatas jargon, karena dikehidupan sehari-hari praktek Pancasila itu masih jauh dari nilai-nilai luhurnya. Masyarakat terlalu disibukan oleh kebutuhan sehari-hari yang terus melambung tinggi sehingga masyarakat cenderung pragmatis dan mementingkan diri sendiri. 
Jokowi-JK gagal. Tak ada satupun janji kampanye Jokowi-JK dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahun ini. Mulai dari janji menolak hutang luar negeri sampai swasembada pangan. Yang terjadi justru sebaliknya, hutang luar negeri terus bertambah dan ketersediaan pangan kita justru dipasok oleh impor. Tak ada perbaikan terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan, masyarakat umum masih saja mendapatkan kesulitan dikarenakan biaya yang tinggi untuk mengakses kedua hal tersebut. 
Pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas pemerintahan Jokowi-JK, walau sebagian besar responden setuju akan hal ini tapi disisi lain menimbulkan masalah baru. Dimana pembangunan infrastruktur ini tidak menyerap tenaga kerja baru dimana angkatan kerja setiap tahunnya terus bertambah.
Melesatnya Gerinda dan Prabowo Subianto merupakan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Gerindra adalah Prabowo dan Prabowo adalah Gerindra. Tanpa bermaksud mengecilkan pihak lain, tapi itulah pandangan responden.
Banyak hal dalam pandangan responden terkait Gerindra. Hal yang sangat dominan adalah sikap Prabowo Subianto yang menunjukan sikap kenegerawanan yang tidak di miliki oleh politisi lain. Prabowo dianggap tegas mendisplinkan kader-kadernya yang berkasus. Tidak ada toleransi bagi kader-kadernya yang melanggar hukum. Gerindra juga di anggap partai yang kadernya paling sedikit terlibat kasus korupsi. Baik terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK maupun kasus-kasus korupsi lainnya. Berbeda dengan PDIP dan Golkar dimana kader-kadernya banyak terkena OTT KPK. Prabowo dianggap tak memiliki dendam politik walau dikhianati oleh kawan sekutunya.
Golkar sebagai salah satu partai tertua saat ini sedang dalam kondisi terparah sepanjang sejarahnya dari tingkat elektabilitas. Selain karena basis massa Golkar yang menjadi bancakan banyak partai-partai senapas, seperti Nasdem, Demokrat, PKPI dll juga dikarenakan banyaknya kasus korupsi yang membelitnya. Terutama kasus Setya Novanto yang membuat elektabilitas Golkar terjun bebas. Senada dengan Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang terus tergerus basis massanya dan konflik internal yang tak selesai-selesai dapat membuat salah satu partai tertua ini hilang dari percaturan politik tanah air jika tak segera membenahi diri.
“Reborn Demokrat” dianggap cukup berhasil menampilkan wajah baru Demokrat dengan memunculkan Agus H Yudhoyono (AHY) sebagai pigure baru partai. Karena dalam pandangan responden mereka memilih partai karena pigure dari partai tersebut.
Kesimpulan Tingkat Elektabilitas Tokoh Jika Pemilihan Presiden digelar Hari Ini 
Turunnya daya beli masyarakat. Responden yang mayoritas berbisnis sangat merasakan pengurangan omset mereka. Ancaman PHK terhadap buruh atau karyawan terus menghantui, karena ketidakpastian dunia usaha apalagi sebentar lagi akan memasuki tahun politik yang relatif panjang. Apalagi bagi buruh yang bersatus kerja kontrak, mereka harus berpikir untuk mendapatkan penghasilan lain jika sewaktu-waktu di PHK karena tidak adanya pesangon yang akan didapatkannya. Dimana aspek hukumpun dalam pandangan responden masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Ini tentunya akan menimbulkan ketidakpuasan di masyarakat. Pemerintah Jokowi-JK harus betul-betul mengantisipasi hal ini.
Yang menyelamatkan pemerintahan Jokowi-JK hanya aspek ketertiban dan keamanan, termasuk di dalamnya masalah pencegahan terorisme dan radikalisme. Dimana sebagian besar responden cukup puas.
Ada korelasi yang kuat antara kinerja Pemerintah Joko Widodo dengan dampak perekonomian masyarakat khususnya keadaan ekonomi keluarga masyarakat yang 68,3 persen keadaan ekonomi keluarga menurun ,serta sebanyak 71,7% responden menyatakan selama 3 (tiga) tahun terakhir sangat sulit mencari pekerjaan. dengan tingkat keterpilihan Joko Widodo pada Pilpres 2019 yang dipilih oleh sebanyak  27,2 persen responden dengan simulasi 12 tokoh yang diuji dalam survey ini dan Prabowo Subianto menjadi tokoh yang paling dipilih dengan keadaan ekonomi masyarakat yang sangat menurun pendapatannya selama dipimpin Joko Widodo ,sedangkan tokoh baru yang punya elektabilitas diatas 5 persen hanya Puan Maharani dengan 5,7 persen dan Gatot Nurmantyo 7,8 persen tokoh lainnya.
Dari 8 nama disimulasi siapa yang akan dipilih jika pilpres digelar hari secara spontan maka tingkat keterpilihan Joko Widodo lagi lagi hanya diurutan kedua yaitu 29,6 persen dari jawaban 2180 responden yang memilih ,sedangkan Prabowo Subianto dipilih oleh 43,2 persen dan Gatot Nurmantyo 6,1 persen sedangkan Sri Mulyani 6,1 persen  Puan Maharani  5,1 persen.
Jika simulasi tiga nama diujikan dalam survey ini maka Prabowo Subianto akan dipilih oleh  52,2 persen dan Joko Widodo 31,1 persen sedangkan Gatot Nurmantyo sebanyak 16,7 persen 
Seperti yang telah diprediksi oleh banyak pihak, sosok Gatot Nurmantyo memiliki daya tarik sendiri. Bahkan beberapa partai, seperti Nasdem bersedia mengusung Gatot sebagai Cawapresnya Jokowi pada pemilu 2019. Elektabilitas Gatot yang tinggi tidak terlepas dari kinerja beliau sebagai panglima TNI yang dianggap mampu menjembatani antara pemerintah dengan gerakan umat Islam yang saat ini sedang bangkit karena adanya momentum politik yang mempersatukannya.
Sedangkan tokoh-tokoh lain tidak memiliki daya tarik yang tinggi bagi masyarakat sehingga mereka cenderung memposisikan diri hanya sebagai Cawapres. Karena pada realitanya pertarungan Capres 2019 pengulangan dari Pilpres 2014. Hanya Jokowi versus Prabowo.
Jakarta 12 Desember 2017 
Widodo Edi Sektianto 
Direktur Eksekutive

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − 16 =

Rekomendasi Berita