by

Ketika Kesetiaan Berbalas Luka, Rasa Ikhlas Akan Menyembuhkannya

Photo: Copyright pexels.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setia, seperti apa yang dinamakan dengan kesetiaan? Apakah ia yang tak akan pernah meninggalkan, apakah ia yang akan selalu menanti meski tahu penantiannya bisa saja berakhir sia-sia, apakah ia yang tak akan berpindah ke lain hati meski banyak kesempatan dan peluang untuk pindah? Bicara mengenai kesetiaan, saat ini tak banyak orang yang bisa setia baik itu pada pasangan atau bahkan dirinya sendiri. 

Hanya sedikit orang yang benar-benar mengabdikan dirinya pada kesetiaan, rela sakit atas nama kesetiaan dan tetap ikhlas menerimanya. Belajar mengenai kesetiaan, sosok Mbah Sri di film Ziarah mengajarkan kepada kita semua bahwa sebagai seorang wanita, penting untuk kita agar senantiasa setia pada seorang pria yang telah memiliki hati kita.
Tak peduli jika akhirnya kesetiaan tersebut berbalas luka, melalui rasa ikhlas, legowo (lapang dada) dan sabar kesetiaan yang berbalas luka akan sembuh dengan sendirinya. Melalui rasa ikhlas dan menerima, semua hal yang sebelumnya menghancurkan rasa dalam dada perlahan akan berubah menjadi kebahagiaan, pelajaran berharga dan kekuatan terbaru untuk melanjutkan hidup. 

Sejak Kamis (18/05/2017), film Ziarah karya BW Purba Negara ditayangkan di beberapa bioskop. Sosok Mbah Sri yang diperankan oleh Mbah Ponco berhasil membuat para penontonnya merasa kagum sekaligus tercabik-cabik atas kesetiaan juga komitmen yang ia punya.

Bagaimana tidak, di usianya yang telah sangat senja, impian terbesarnya sangatlah sederhana. Ia hanya ingin menyatu kembali dengan sang suami yang dicintainya selama puluhan tahun. Ketika suatu saat nanti beliau meninggal dunia, impiannya hanya satu. Ia ingin makamnya bersanding dengan makan sang suami. Sang suami yang telah hilang sejak berpuluh-puluh tahun lalu karena tugas negara sebagai tentara pada agresi militer II.

Perjalanan yang jauh dan melelahkan pun dilalui untuk menemukan makam sang suami. Usianya yang sudah senja tidak menghalangi niatnya untuk menunjukkan bahwa dalam hidupnya ia hanya setia dan ingin nyawiji (menyatu kembali) dengan hanya satu orang yakni suami. Bersanding di pemakaman sebagai sepasang suami istri yang sama-sama telah berpulang ke haribaanNya.

Sayang, setelah makam suami ditemukan, kesetiaan yang Mbah Sri jaga selama berpuluh-puluh tahun berbalas luka mendalam. Makam suaminya tidak sendiri. Ada satu nama wanita lain di sampingnya, wanita yang telah menjadi istri sang suami selama ketiadaan kabar darinya. Hancur memang mengetahui akan kenyataan ini, tapi kembali lagi, rasa ikhlas dan penerimaan menjadi penawar dari kehancuran tersebut.

Setia, tidak ada yang salah dengan kesetiaan. Ini bahkan sangat baik dan disarankan untuk senantiasa dilakukan. Tapi setia, perasaan ini juga harus dibarengi dengan pemikiran yang terbuka dan berlogika. Tak selamanya kesetiaan akan berbalas kebahagiaan dan melegakan. Sesekali, kesetiaan juga berbalas luka dan hancurnya perasaan.

Apapun dan bagaimana pun balasan atas kesetiaan yang kita lakukan pada seseorang yang kita cinta, alangkah baiknya jika kita senantiasa menerima setiap akhirnya dengan rasa sabar, ikhlas juga lapang dada. Tak perlulah bermuram durja apalagi menyakiti diri sendiri kala hati kecewa. Tuhan maha asik, Ia selalu punya rencana terindah pun terbaik untuk setiap hambaNya. (vem/mim)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × five =

Rekomendasi Berita