by

Kisah Nyata, Sedekah Kunci Dikabulkannya Doa Seorang Hamba

lsutrasi sedekah/google
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Waktu itu usai Isya saya duduk sendirian di depan warung, saya tanya kepada manager warung bagaimana penjualan hari ini.

“Agak sepi nih mas, mungkin karena akhir bulan pada belum gajian, jadi pada ngirit gak jajan di luar.” Katanya.

Dari jauh tampak lelaki tua naik sepeda memboncengkan dua anak kecil.. Aaah bapak itu, muadzin di masjid kampung sebelah. Saya mengenalnya, suara paraunya setiap subuh sudah bergema, dia yang mewakafkan tanah di sebelah rumahnya untuk di jadikan masjid, dialah orang kaya sesungguhnya.
Setiap pagi dengan sepeda yang sudah karatan berangkat ke sawah sebagai buruh tani, mengerjakan sawah orang lain dengan bayaran tak seberapa.

“Pak.. Pak.. Sekedap pak!” Saya memanggilnya.

“Pripun mas? Sehat to panjenengan..?”

“Sehat pak, Alhamdulillah.. Saya nyuwun panjenengan meninggalkan doa Al Fatehah untuk warung saya malam ini, doa dari panjenengan langsung.”
Dengan berdiri memegang stang sepeda pak tua itu menunduk, membacakan Al Fatehah seperti yang saya minta.. Menutupnya dengan mengusap wajahnya.

“Sampun mas.. Kulo lanjut nggih, ajeng ngeterke anak kulo tumbas buah”.

Saya langsung menyelipkan selembar uang kepada anak-anak itu, mereka menerimanya dengan mata berbinar-binar. Ilmu sedekah di muka. Bayangan tubuh mereka naik sepeda sekilas tampak dari sorot lampu mobil yang bersliweran.

Saya duduk lagi, tak lama berselang sebuah mobil berhenti.. 3 orang masuk ke dalam, pesan tengkleng dan sate bebarengan.

Tiba-tiba berhenti dua mobil lagi, rombongan yang baru pulang wisata di Gunung Kidul.. Satu.. Dua.. Tiga.. Empat… Sepuluh orang turun bebarengan, riuh rendah dengan suara candaan.

Satu, dua motor ikut berhenti. Satu lagi mobil kebagian parkir di timur sa na.Tidak ada setengah jam, seluruh meja telah terisi wajah-wajah orang kelaparan.

Lima karyawan warung tampak kewalahan.. Saya pun turun tangan, ikut menata piring-piring sate untuk dihidangkan.

Hampir jam setengah sepuluh malam, saya bertanya pada Agus manager saya, 

“Piye gus?”

“Ludessss boss! Ludeeesss…!”

Aaahh, sambil berjalan pulang saya memandang langit penuh bintang. Gusti Allah itu mboten sare. Sungguh. Allah itu tak pernah tidur.[@Saptuari]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − six =

Rekomendasi Berita