by

Kotak Pandora Terbuka Pajak Semakin Menganga

-Opini-37 views

 

 

Oleh: Ina Agustiani, S.Pd, Praktisi Pendidikan

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Mendengar judul di atas, tak sedikit yang diingatkan dengan cerita seorang perempuan cantik bernama Pandora, ia adalah seorang wanita legenda Yunani. Di hari pernikahannya, Zeus memberi sebuah kotak yang indah, namun seseorang memberitahu untuk tak membukanya.

Pandora pun penasaran dan membukanya, dan keluarlah berbagai macam keburukan (kejahatan, penderitaan, penyakit) dan menyebar ke seluruh dunia dan menimpa manusia.

Segala macam keburukan ini adalah cerminan kondisi saat ini, di mana Pandora Papers yang dirilis oleh International Consortium Journalis mengungkapkan ada skandal penggelapan pajak terbesar manusia atau penghindaran pajak.

Kesepakatan bersifat rahasia melibatkan  orang-orang kaya global atau yang biasa disebut kalangan “jet set” dan “the have” untuk mengamankan aset secara tersembunyi, termasuk 35 pemimpin dunia, 130 miliader, selebriti, penipu, pengedar narkoba, anggota keluarga kerajaan, di hampir 200 negara.

Surga Pajak

Dilansir dari akurat.com, Anis Byarwati, anggota Komisi XI DPR RI mengatakan adanya kotak Pandora ini seolah menunjukkan adanya perilaku koglomerat dan pejabat yang menghindari pajak lalu digelapkan ke negara-negara yang “surga pajak” sehingga menekan rasio pajak.

Jika rasio semakin berat, imbasnya adalah hutang yang semakin banyak, lalu jika pemerintah ingin memperbaiki rasio perpajakan sehingga fiskal pulih, harus dimulai dengan memperbaiki sistem perpajakan dan menerapkan asas keadilan hal pajak itu sendiri.

Kalangan “the have” di Indonesia juga tak serta merta melakukan ini, adanya RUU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP) untuk mencegah penghindaran pajak diperkuat dengan instrumen Alternative Minumum Tax (AMT) dan General Anti Avoidance Rule (GRR) dianulir (dianggap tidak sah) dalam RUU ini, bertindak sebagai pelicin dan pemulus jalan.

Pantas saja banyak kalangan politis menilai agar RUU HPP ini tidak sampai menguntungkan sebagian pihak saja, apalagi sampai mengabaikan keadilan untuk para wajib pajak yang taat dan sesuai prosedur.

Membuat perusahaan cangkang atau buatan sudah bukan rahasia lagi untuk menyamarkan penghasilan para konglo, kebutuhan aktivitas keuangan ke pasar luar negeri guna penghematan pajak.

Surga pajak adalah area abu-abu penghindaran pajak tempat orang menyalurkan pendapatan perusahaan agar tak dihitung pendapatan pribadi, ataupun pencucian uang.

Menurut cnbcindonesia.com, sebagian besar surga pajak yang saat ini telah berkembang berada di dua kutub geopolitik utama terbesar di dunia, yakni Inggris dan Eropa.

Selanjutnya efek domino yang terjadi adalah APBN semakin defisit dan harus mencari sumber pendapatan lain, dari mana? Sudah pasti dari tambahan utang luar negeri dan menggenjot pajak dari rakyat secara keseluruhan tanpa pandang bulu.

Ini juga sangat berbahaya untuk kedaulatan bangsa, sedikit demi sedikit merampas kesejahteraan rakyat, dan mengukuhkan bangsa ini menjadi negara “penghutang”.

Bagaimana Islam Memandang?

Kenyataan pahit di tengah kemiskinan melanda dunia, ada 1 persen golongan yang dapat menguasai 90 persen aset dunia. Luar biasa, 1 banding jutaan, ini terjadi karena sumber pendapatan utama negara kita adalah pajak, tindakan zalim dalam kaca mata Islam.

Pajak dalam sistem Islam sifatnya temporal, ketika dibutuhkan, mendesak, itu pun kepada orang muslim yang dan mampu. Jika sudah tidak dibutuhkan, pajak tidak berlaku lagi.

Pendapatan utama di Baitul Maal adalah pada pos fai, kharaj, ‘usyur, dan harta milik umum yang beralih menjadi milik negara. Ini cukup untuk membiayai pengeluaran negara, sehingga tidak perlu memungut pajak kaum muslimin.

Pengelolaan SDA secara mandiri tanpa intervensi asing, jadi kedaulatan negara bisa terwujud. Itulah sebabnya fasilitas publik bisa gratis seperti sekolah, rumah sakit, kebutuhan pangan, tercover semua.

Berbeda dalam kapitalis pajak sumber utama pendapatan negara dan seumur hidup, pengelolaan SDA diserahkan pada asing yang mengolah, akibatnya pendapatan negara tak bisa dinikmati rakyat, tapi segelintir pengusaha licik yang menikmati.

Hutang kian bertambah, kejahatan meningkat, karenanya kesejahteraan tidak merata. Dengan adanya pandora papers, sudah dipastikan keadaan lebih buruk lagi.

Dari contoh di atas, tak heran akan melahirkan pribadi-pribadi yang tidak amanah semisal penggelapan pajak. Negara sebagai benteng pertahanan untuk rakyat tak berfungsi baik. Semua SDA beralih ke swasta, kemaslahatan dan kesejahteraan umat jauh dari angan.

Untuk itu kita butuh sistem di era baru yang dapat menyelesaikan masalah manusia, dengan sistem Islam Kaffah, dan dengan sistem politiknya memberikan kunci pembangunan yang bebas utang luar negeri, dan menjadi jaminan kebijakan negara yang independen tanpa setiran pihak swasta. Digdaya selama 13 abad, mejadi kuat mendunia, kesejahteraan bukan khayalan akan tetapi selangkah di depan mata. Wallahu a’lam.[]

___

Referensi

muslimahnews.com

cnbcindonesia.com

Comment

Rekomendasi Berita