by

Mala Oktavia*: Karena Perempuan Begitu Istimewa

Mala Oktavia
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di manapun perempuan berada, ia akan menjadi peri istimewa yang selalu menebar senyum dan geliat tawa ke penjuru dunia. Tangan-tangan mungil yang siap menorehkan karya luar biasa bagi generasi bangsa. Perempuan itu cantik, menarik, setiap kedipan matanya saja mampu membuat semua mata terpana padanya. Tapi banyak perempuan justru terjebak dengan kelebihan dirinya sendiri, perempuan terlalu hanyut pada pujian-pujian dunia yang sesungguhny hanya fatamorgana, indah dan seakan ada bentuknya namun kenyataannya hanya hamparan kosong belaka. 
Sebagian menganggap bahwa perempuan adalah makhluk elok yang harus dijaga dan dilindungi kehormatannya, namun ada pula yang menganggap bahwa perempuan hanya sebuah seni indah yang bisa dengan bebas diekspos tubuhnya. Bayangkan saja, hampir semua iklan di dunia ini tak lepas dari mempertontonkan keindahan tubuh perempuan. Sekedar iklan di jajaran emperan toko hingga brand ambassador – kebanyaan adalah perempuan. 
Anehnya, perempuan seperti ini justru merasa nyaman dan bahagia bisa mempertontonkan auratnya. Inilah awal lahirnya paham-paham feminisme berbalut kebebasan berekspresi. Menganggap bahwa setiap jengkal tubuh wanita adalah haknya semata, yang lain tidak boleh mengatur, apalagi sampai mencampuri urusannya. Auratku adalah otoritasku, begitulah slogan yang mereka gaungkan di depan mata dunia. Akan tetapi, ketika ada laki-laki yang melihatnya, merasa tertarik padanya, mereka protes meminta laki-laki menjaga pandangannya. 
Apa yang sebenarnya mereka harapkan? Mereka menebar syahwat pada kaum laki-laki, tetapi ketika diminta menjaga auratnya, bilangnya urus saja matamu, mengapa harus melihat aurat kami? Pemikiran seperti inilah yang sekarang merasuki pemikiran pegiat-pegiat feminisme. Seakan mereka yang paling benar dan memperjuangkan kebenaran, yang lain salah dan tak sejalur dengannya. Perempuan-perempuan ini menganggap dirinya modern, padahal sebenarnya mereka terjebak pada kubangan berbahaya berbalut kesetaraan gender.
Ketika paham seperti ini meluas ke segala penjuru dunia, lalu bagaimana dengan perempuan yang senantiasa menjaga dirinya? Dimana mereka saat ini? Apa mereka masih ada? Tentu saja mereka masih ada, dan sebenarnya mereka jumlahnya besar, tapi sayang suara mereka belum mampu menembus paham feminis. Padahal sebenarnya perempuan-perempuan seperti inilah yang dibutuhkan dunia, yang nantinya akan melahirkan genarasi pemikir umat yang melanjutkan peradaban cemerlang. Perempuan-perempuan inilah yang selalu berpegang teguh pada aturan Illahi, menganggap bahwa apa yang ada dalam dirinya hanya titipan yang senantiasa harus dijaga. Islam memerintahkan menutup aurat, bukan untuk mengekang perempuan, tetapi untuk melindungi kehormatan dan keindahan perempuan. 
Di sini kita tahu bahwa paham feminisme bertolak belakang dengan pemahaman Islam. Islam memuliakan perempuan, sebaliknya feminisme menghancurkan kehormatan perempuan. Namun sayang, dunia saat ini terjebak pada frame terbatas dengan pemikiran dangkal. Sehingga banyak perempuan mengira bahwa feminisme memberi ruang terbuka bagi mereka untuk berekspresi tanpa batas.
Perempuan itu istimewa, benar-benar istimewa. Berkali-kali saya katakan itu, mengapa? Karena sebagai seorang anak ia akan selalu menjadi kesayangan orang tuanya, menjadi generasi cerdas yang mampu menguasai kosakata lebih banyak dibandingkan laki-laki. Ketika menjadi seorang ibu, ia adalah panutan bagi anak-anaknya dalam bertingkah, menjadi role model bagi anaknya, guru pertama bagi sang buah hati. Bila baik ibunya, maka baiklah anaknya dan sebalikya, jika buruk ibunya maka buruklah anak-anaknya.
Sebagai sesama perempuan, perlu saya katakan, bahwa paham feminisme ini adalah paham penyesatan yang dibungkus cantik dengan rayuan-rayuan dunia semata. Kita harus menyadari ini, agar kita mampu membentengi diri, memahami Islam sebagai kewajiban pribadi lebih-lebih memahamkan umat agar tak tergelincir dan terjerembab pada kubangan penuh belukar nan menyesatkan.[]
*Penulis adalah seorang pelajarSMA kelas II SMAN 1 Bojonegoro

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty + 6 =

Rekomendasi Berita