![]() |
| Melani Widaningsih, S.Pd |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kampanye akbar yang dihelat oleh paslon capres – cawapres 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pada hari Minggu (7/4) lalu menyisakan diskusi yang cukup panjang di berbagai ruang media sosial.
Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi – Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily menilai kampanye Paslon 02 ekslusif dan kental politik identitas. Menurut Ace, konsep kampanye Prabowo seperti ingin mengulang sentimen gerakan 212. Pelaksanaan kampanye Akbar Prabowo-Sandi sebagaimana yang kita ketahui dimulai dengan kegiatan Shalat Shubuh berjamaah di area GBK, dilanjutkan orasi politik yang dikemas dengan konsep taushiah dari beberapa tokoh sentral yang memberikan dukungan kepada pasangan capres 02, ditutup dengan pembacaan seruan atau fatwa MUI. Menurut Ace, tidak ada tawaran ide, program, gagasan yang disampaikan dan hanya mengandalkan politik identitas, bisa memecah belah bangsa.
Kampanye Akbar yang dilaksanakan di GBK itu dihadiri jutaan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan kedatangan mereka murni dibiayai oleh masing-masing peserta, tanpa ‘panaik’ dari panitia ataupun Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi. Hal ini tentu bukan tanpa sebab, karena jika melihat perbandingan antara pelaksanaan kampanye oleh kedua Paslon tentu kita bisa melihat suksesi acara dari jumlah massa yang ikut serta dalam pelaksanaan kampanye tersebut.
Munculnya statement bahwa pelaksanaan kampanye Paslon 02 di GBK sarat dengan politik identitas juga tentu tidak bisa dilepaskan dari berbagai pelaksanaan aksi yang dilakukan oleh umat Islam selama ini. Diawali dengan Aksi 212 yang euforianya masih terasa hingga hari ini, diikuti dengan aksi-aksi lain yang memang didominasi dan diinisiasi oleh Umat Islam. Tapi seharusnya hal ini tentu tidak perlu dikritisi dan dijadikan alat untuk menyerang kubu Paslon 02, seakan Paslon 02 tidak pro minoritas, padahal jika kita melihat dokumentasi yang tersebar di media sosial khususnya, ternyata berbagai aksi Umat Islam selama ini termasuk kampanye Paslon 02 di GBK pun dihadiri juga oleh kalangan minoritas (non-muslim) yang hendak menunjukan dukungannya.
Apa salahnya? Toh sebagaimana Politik yang diatur dalam Islam, Khilafah juga merupakan bagian dari ajaran Islam dimana didalamnya dilaksanakan Politik Islam. Kini tinggal kita menunggu waktu, kemana akhirnya politik Indonesia bermuara. Wallahu’alam Bi Shawwab.[]
Penulis adalah seorag pendidik di SMA Majalaya, Jabar















Comment