by

Menyibak Potensi Santri Dulu Dan Kini

-Opini-15 views

 

 

Oleh : Annisa Al Maghfirah, Relawan Media

__________

RADARINDONESIANEES.COM, JAKARTA– Pada peringatan Hari Santri lalu, di halaman Pondok Pesantren Syeh Abdul Wahid Kelurahan Bataraguru Kecamatan Wolio Baubau menggelar Pentas Hari Santri Nasional 2021. Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Wali Kota (Wawali) Baubau La Ode Ahmad Monianse.

Beliau menyampaikan sebagai calon Cendekiawan Muslim, para santri sangat diharapkan keseriusannya mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren. Sebagai penerus bangsa, para Santri juga harus mempersiapkan diri menghadapi bonus demograsi bagi Indonesia di kemudian hari yang diperkirakan kisaran tahun 2030. Dengan fondasi yang kuat dalam berbagai aspek, baik dari segi Spiritual, Intelektual, maupun Emosional. Beliau juga berharap dengan tema Hari Santri Nasional 2021 yaitu “Santri Siaga Jiwa dan Raga”, para santi akan semakin memantapkan niat untuk terus belajar, selalu membela Tanah Air dengan jiwa dan raga.

Sebagaimana kata beliau, tekad ini sangat sejalan dengan Resolusi Jihad, yang dikumandangkan oleh para Ulama dan Santri pada tanggal 22 Oktober 1945, yang menyatakan bahwa cinta Tanah Air adalah bagian dari iman. Untuk itu Santri harus menjadi garda terdepan, dalam menjaga keutuhan bangsa dari rong-rongan paham disintegrasi, yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Tanggal 22 Oktober itu lebih tepat disebut sebagai Hari Resolusi Jihad bukan Hari Santri. Karena pada tanggal tersebut di tahun 1945, KH Hasyim Asy’ari menyerukan jihad untuk mengantisipasi kedatangan pasukan Sekutu (yang dipimpin Inggris) dan Belanda. Sehingga ketika para kafir penjajah tersebut kembali datang, rakyat yang dipimpin ulama dan santri langsung menyambutnya dengan pekikkan takbir dan acungan senjata. Dan pecah perang besar antara kaum Muslim versus penjajah yang puncaknya terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya. Sedangkan Hari Santri itu terlalu umum, meskipun yang menjadi tulang punggung memobilisasi massa untuk berjihad adalah para santri.

Sejatinya kaum Muslim, sami’na wa atha’na atas seruan jihad ulama untuk melawan kafir penjajah bukan saja sebagai pahalawan (orang yang berpahala banyak), lebih dari itu mereka adalah para syuhada yang langsung dijamin masuk surga tanpa hisab.

Refleksi untuk kita ambil di masa sekarang ialah menjadikan spirit Resolusi Jihad ini untuk semakin semangat melawan penjajahan masa kini (neo imperialisme) yang dilakukan secara non militer oleh Amerika Serikat dan Negara Cina. Bukan malah menjadi posisi cari aman agar disebut sebagai moderat dan tidak radikal.

Sayangnya, Hari Santri yang dirayakan hari ini tidak dikaitkan sama sekali dengan semangat melawan penjajahan. Apalagi sejak sebelum Hari Santri ditetapkan, upaya memoderasi santri untuk lunak pada penjajahan telah intensif diupayakan.

Potensi santri dulu, sebagai pahlawan dan syuhada mengusir penjajah yang kejam menyiksa secara fisik. Kini, potensi santri seharusnya bukan sekedar untuk memajukan suatu bangsa dengan ilmu ataupun sebagai sumberdaya manusia yang diarahkan untuk menghasilkan materi dan devisa bagi bangsa semata.

Sebagaimana tujuan kapitalisme. Namun yang utama adalah membongkar kezaliman, mencegahnya serta menyadarkan umat agar tidak terjajah oleh kapitalisme,liberalisme dan isme-isme lain yang bertentangan dengan Islam. Semua isme itupun akan membawa kesengsaraan pada rakyat.

Sayang, santri kini sebagian teracuni sekulerisme (paham pemisahan agama dari kehidupan) dan liberalisme (paham kebebasan) sehingga potensinya yang amat berguna bagi umat tergerus untuk berorientasi materi semata.

Belum lagi banyak beberapa ponpes yang dibiayai oleh kelompok atau individu yang membuatnya kelu bersuara. Padahal kejahatan, keburukan, kezaliman, kemaksiatan terjadi bukan hanya karena banyaknya pelaku namun karena diamnya orang-orang baik nan berilmu.Wallahu a’lam bishowwab.[]

Comment

Rekomendasi Berita