by

MHR Shikka Songge: Kemerdekaan Indonesia: hadiah kaum pemberontak.

MHR Shikka Songge
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Lafran Pane Pemerkarsa dan Pendiri HMI, pada tgl 09 November 2017 telah dikukuhkan oleh Pemerintahan RI menjadi Pahlawan Nasional. Lafran Pane menjadi Pahlawan Nasional bukan sekedar atau semata mata karena sosok seorang Lafran ansich melainkan diakibatkan oleh sistem institusional HMI dan semua komponen alumni HMI yang berkonstribusi pada semua level dengan beraneka ragam profesi dan keahlian (Politisi, Birokrat, Ilmuan, Pengusaha, Jurnalist, Polisi, TNI, Peneliti, Acedimisi, Pekerja Sosial, dll), akibat dari partisipasi ideoligis dlm berkhidmat, negeri ini bergerak cepat menjadi negara yang berdaulat.

HMI dan segenap alumninya berkonstribusi besar untuk negeri dengan beragam variasi, sarat dengan dealektika, dinamika, kritik, prokontra, akomodasi, integrasi, semuanya terjadi secara akumilatif kearah meneguhkan corak bangunan Indonesia yang terus tertata sempurna sehingga layak menjadi sebuah negara ideal.

Sejatinya HMI dlm pergumulan perkaderan tidak hanya menerima, pro ataupun menolak secara pasip apa lagi dengan cara cara yang irasional, absurd apalagi membabibuta. Sudah pasti anggota HMI yang berasal dari berbagai latar suku dan etnik, memiliki anggota serta alumni yang beragam kerakteristik dan beragam corak dinamikanya. Dinamika yang beragam itulah menjadi inti kuantum yang menggelorakan dan menggetarkan jantung dan sel sel organisasi HMI menjadi besar lalu diperhitungkan secara nasional.

Oleh karena itu, bohong kalau ada yang berpendapat bahwa HMI dan alumni mengalami pasang surut, tumbuh dan berkembang tanpa kritik dan koreksi yang produktif juga kontraproductif pada institusi negara. HMI menjadi tumbuh besar dan dipandang eksistensinya oleh berbagai kalangan, terlebih penerintah penyelenggara negara karena adanya sistem berfikir, cara pandang dan cara sikap kader HMI dengan nalar objktif dan pisau analisis yang tajam membedah setiap realitas maupun fenomena kebangsaan dan keummatan yang terbaca.

Watak independensi dan kemerdekaan berikhtiar itulah yang menjadi ciri dan karakter kader HMI maupun alumni HMI menyatakan pendapatnya secara terbuka baik melalui media, aksi, diskusi atau apapun itulah jalan menuju atau proses pembentukan kesadaran personal atau kepribadian HMI.

Oleh karena itu jangan pernah merusak jalannya sebuah sejarah pertumbuhan kader dg mengebiri kemerdekaan berpikir, merendahkan ikhtiar kreatif dengan alasan atau dalil yang mendasari pada sikap Lafran yang tidak biasa melakukan kritik terbuka. Tentu membaca usia Lafran Pane pada muda sebagai activis sangat berbeda dengan Lafran yang sudah menjadi dosen dan akedemisi, apalagi menjadi profesor, tentu berbeda. Lafran muda adalah Lafran yang kritis, progresif bahkan dan boleh jadi seorang revolusioner. Tanpa sifat yang demikian Lafran tidak mungkin bisa menggerakan para mahasuswa islam mendeklarasikan berdirinya HMI.

Bagi saya jangan tumpul dan jangan parsial memahami kepribadian Lafran. Jika saja Lafran bukan sosok aktivis pemberani, revolusioner, progresif maka ia tidak akan mengawali langkah dan menggerakan kawan kawan seangkatannya untuk berkumpul pada 5 Februari 47. Begitupa jangan berlaga seakan akan melindungi HMI melindungi kaum muda dengan cara pandang Lafran di usia senja adalah tindakan yang dangkal dan sangat merugikan HMI dan kaum muda yang sedang mengembara di HMI.

Menurut hemat saya tidak ada pemimpin perubahan tanpa langkah progresif. Setiap pemimpin besar memiliki ideologi pergerakan dan visi masa depan Saya yakin ia memiliki karakter yang dinamis, progresif revolusioner yang oleh lawan disebut pemberobtak. Ir. Soekarno juga seorang tokoh pemberontak. Ia memberontdk pada koloni, dan penjajah belanda. Jendral Soeharto juga pemberontak pada Soekarno, yang melahirkan orde baru. Dan Dr. Amin Rais juga memimpin Pemberontakan. Ia membetontak pada rezim otoriterian orba yang berkuasa 32 thn. 

Contoh lain Imam Bonjol, Tengku Umar, Imam Bonjol, Pengersn Diponegoro, Pattimura, Hasanuddin. Mereka semua itu adalah pemberontak dimata kolial hindai belanda. Dan pahlawan pemberontak inilah yang mengusir penjajah dan beragam resiko yang menghadiahkan kelahiran Republik Indonesia. Bahkan Nabi Muhammad pun sangat besar kemungkinan dapat kategorikan sebagai pemberontak terhadap tradisi kejahiliaan orang Arab. Ia melawan rasisme, feodalisme, kesenjangan kelas sosial, memimpin perang, menggempur lawan kaum musyrikin.

Untuk rezim Joko Widodo perlu ada gerakan dan perlawanan secara kritis tanpa itu bangsa dan negeri ini kian menjadi terpuruk dan tanpa arah. Begitupula lembaga politik perlu direstorasi, karena partai politik terhegemoni, terkootasi, telah menjadi alat pemilik modal untuk mengatur kebijakan yang pro kaum kapitalis atau pemilik modal di satu, dan di sisi lain rakyat kehilalangan keterwakilan substansif di parlemen. Demokrasi juga disendera oleh penjahat kapitalis. Konteks Setnov di Golkar menurut saya yang dilakukan Ahmad Doli adalah hal yang tepat dan terpenting agar partai besar seperti Golkar dapat terselamatkan agar jangan sampai ditinggan pemilih tradisionalnya.

Saya setuju bahwa Cak Nur sebagai tokoh dan cendekiawsn muslim, pembaharu pemikiran islam, juga mempunya watak layaknya seorang pemberontak. Ia memimpin pemberontakan dalam bidang rekonstruksi pemikiran Islam, membakar atau mendekonstruksi pada setiap fenomena dan realitas kejumudan literasi dan para pemikir islam dalam sejarah. (“)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − seven =

Rekomendasi Berita