by

Mr.Kan: Secara Hukum, Kalimat Rocky Gerung Tampaknya Sulit Dibuktikan

Mr. Kan Hiung. (Dok/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Saya coba memberikan pendapat secara pribadi dalam menanggapi isu hangat atas kalimat yang dilontarkan oleh dosen UI Rocky Gerung yang mengatakan bahwa kitab suci itu adalah fiksi.

Di dalam penyampaian pendapat saya ini, saya tidak bermaksud untuk turut membela Rocky Gerung, karena saya pun belum pernah mengenal Rocky Gerung.

Menurut pengamatan saya pribadi, secara  hukum, kalimat yang dilontarkan oleh Dosen UI Rocky Gerung tersebut tampaknya akan mengalami kesulitan untuk dibuktikan unsur pidananya. Seperti beberapa informasi yang ditudingkan oleh sebagian pihak akan adanya dugaan penghinaan agama.

Kasus satu ini sangat perlu dan harus kita kaji ulang dari sisi unsur hukum pidana secara pasti, terutama kata-kata kitab suci itu adalah fiksi, ada atau tidaknya dan atau terpenuhi atau tidaknya unsur-unsur hukum pidana yang ada didalam bunyi pasal 28 ayat 2 UU ITE yang berbunyi :

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Alasan dari pendapat saya akan mengalami kesulitan dibuktikan secara hukum adanya unsur pidana,dikarenakan beliau dalam batasan menyebut kalimat ” kitab suci itu adalah fiksi “.

Akan tetapi beliau tidak menyebutkan secara spesifik nama jelas kitab suci agama apa? meskipun kalimat tersebut sudah bermunculan sejumlah besar isu hangat di berbagai media sosial didalam negeri.

Namun perlu kita cermati kembali unsur pidana yang harus terpenuhi dalam bunyi pasal 28 UU ITE adalah 

“Menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu “, disini individu mana yang telah berasa ditujukan dari kalimat Rocky diatas? cukup jelas tidak ada specifik ya individunya siapa?

Kelanjutannya ” dan/atau kelompok masyarakat tertentu “, kelompok masyarakat tertentu yang mana? garis bawahi kalimat ” tertentu “, ada gak? jelas gak ada spesifik kelompok masyarakat tertentu mana yang telah ditujukan ya dari kalimat Rocky diatas.

Kelanjutan lagi,” berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) “. disini bisa kita lihat juga dari kalimat Rocky tersebut jelas tidak ada spesifik juga agama apa? juga tidak ada kalimat yang mengandung unsur provokatif yang berpotensi terjadinya perpecahan antar golongan seperti kalimat adu domba.

Yang ada unsurnya hanya kebencian, karena pasti sebagian besar pihak pasti tidak suka akan kalimat ” Kitab Suci,  Itu adalah FIKSI, termasuk saya sendiri pun kurang senang

Nah dari kalimat Rocky Gerung tersebut kebencian terhadap siapa? siapa korbannya? tentunya yang dibenci hanyalah Rocky Gerung Sendiri, jadi orang yang gak suka sama ucapan Rocky Gerung yang kemungkinan besar membenci Rocky Gerung.

Tidak mungkin menimbulkan permusuhan seperti ada orang membenci pihak individu lain atau golongan lain dan atau kelompok lain dari ucapan Rocky Gerung itu, karena mau benci siapa? gak ada kalimat yang dapat menciptakan permusuhan.

Jika suatu kalimat yang dilontarkan oleh seseorang dan yang tidak memenuhi unsur kepastian hukum, maka tidak bisa kita berdalil kalimat tersebut sebagai suatu pelanggaran hukum.

Walaupun sebenarnya kita merasa tidak suka atau tidak senang atas kata-kata yang dilontarkan oleh seseorang tersebut.

Dikarenakan juga hukum pidana harus ada kepastian, terutama unsurnya cukup atau tidak?Menurut pengamatan saya, kata-kata yang dilontarkan oleh Rocky Gerung tersebut masih lebih bersifat mengarah kepada pribadinya yang merupakan suatu pendapat atau penafsiran dan atau suatu pandangan yang keliru atau salah.

Sebab semua kitab suci yang Berketuhanan Yang Maha Esa yang ada di dalam negeri tidak patut disebut fiksi, sekali lagi namun Rocky Gerung tidak menyebut secara spesifik nama kitab suci agama apa yang disebut fiksi, sehingga menurut pengamatan saya, unsur pidananya belum terpenuhi.

Di sini dapat saya sampaikan juga secara pengamatan hukum dari saya pribadi, apabila suatu pernyataan tidak ada penyebutan nama secara langsung, maka pernyataan tersebut tidak memiliki muatan suatu penghinaan yang ditujukan terhadap pihak-pihak yang mengklaim sebagai korban.

Sekali lagi, dikarenakan unsur pidananya tidak tercukupi untuk dibuktikan. Saya memberikan tiga buah contoh perumpamaan dan pertanyaan dalam kasus diatas ini lagi sebagai berikut dibawah ini :

Pertama, dugaan penghinaan terhadap agama apa yang ditudingkan terhadap kata-kata yang dilontarkan Rocky Gerung ? misalnya, Saya beragama Budha, kemudian saya ikut merasa tersinggung, apakah saya punya hak untuk mengklaim sebagai salah satu korban? sedangkan Rocky Gerung tidak pernah menyebutkan secara spesifik kitab suci agama yang saya anut adalah fiksi.

Kedua, misalnya ada seseorang menyebut didepan umum, mereka itu sudah gila sedikit-sedikit demo, apa mereka cari makan dari berdemo? anggap saya sering ikut demo, dan saya rasa tersinggung, apakah saya bisa mengklaim sebagai salah seorang korban penghinaan atau pencemaran nama baik yang menyerang kehormatan saya oleh seseorang tersebut?

Ketiga, semisalnya ada yang menyebut orang-orang jaman sekarang sudah gak waras ya, setiap ada kesempatan pasti mencuri uang negara, nah saya juga orang, apakah saya berhak mengklaim sebagai salah seorang korban fitnahan?

Tentunya dengan tiga contoh di atas tidak bisa saya klaim sebagai salah seorang korban, karena contoh di atas tidak menyebut nama saya atau nama-nama jelas sesuatu hal yang saya miliki secara spesifik.

Satu hal lagi tentang catatan salah satu syarat unsur hukum pidana yang pernah saya baca, tidak boleh ada perumusan delik hukum pidana khususnya untuk sesuatu hal yang masih kurang jelas.

Nah kira-kira itulah komentar dari pengamatan saya dari sisi hukum untuk kasus dosen UI Rocky Gerung yang dituding oleh sebagian pihak terdapat unsur dugaan tindak pidana penistaan agama.

Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat bermanfaat untuk kepentingan bangsa dan negara Republik Indonesia dan saya sangat berharap kita selalu sama-sama untuk menciptakan suasana perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.[]

Mr.Kan Pengamat Hukum Dan Politik

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + eight =

Rekomendasi Berita